Thankyou for coming :)

Minggu, 09 Desember 2012

Selamat Tinggal Masa Lalu :)

Pagi ini Alya bangun dengan alarm yang ia nyalakan. Karena kedua orang tuanya sedang pergi ke acara pernikahan tantenya. Terpaksa ia harus mendekatkan alarm itu di telinganya. Pagi itu, saat dunia mimpi bersambung dan dimulainya lagi dunia nyata. Mata Alya terlihat sembab, karena semalaman ia menangis memikirkan cintanya yang kandas. Tisu-tisu yang berserakan di lantai belum ia buang sama sekali. "Hoaam.. Selamat pagi hari baru, semoga ga ada pemandangan yang mendukung air mata ini keluar lagi" Senyum manis ia lengkungkan pagi itu. Meski dalam hati, ia ingin sekali kembali tidur dan melanjutkan dunia mimpi yang nyatanya lebih indah di bandingkan dengan kenyataan. Alya mencoba membuka matanya yang sembab, tubuhnya yang kurus mencoba untuk bangun dari kasur yang menurutnya adalah tempat paling indah, dimana ia bisa tidur dan menikmati dunia mimpinya yang indah. Sekarang ia berdiri di depan cermin, ia melihat matanya yang sembab. "Benerkan pasti bengkak deh! Gak apa-apa deh cantik kaya orang Cina. hihi." Alya tertawa kecil. "Mumpung ga ada Mama sama Ayah puas-puasin aja nangis. Semalem cukup puas sih, tapi ga tau deh nanti. Palingan hari ini akan ada hal baru yang harus aku pendam."

"Semua udah siap! Buku-buku udah rapih, Uang, Handphone, Atribut, tapi ada satu yang belum siap.... Hati aku" Wajah yang dari tadi ia buat seceria mungkin akhirnya menampilkan raut wajah yang sesuai dengan isi hatinya "Rapuh"
"Ayolaah Alya semangat! Kan udah biasa disakitin, kok jadi lebay gini!" Alya menyemangati dirinya sendiri, kakinya pun melangkah menuju pintu rumahnya. "Oh iya lupa ngunci!" Alya mengeluarkan kuncinya dari laci meja kamarnya. "Andaikan saja aku punya kunci hati kamu, pasti aku bisa buka lagi hati kamu setelah kamu kunci." Alya tertawa kecil, mencoba menghibur hatinya. Akhirnya Alya bisa melangkahkan kakinya kesekolah, dimana sekolah menjadi tempat yang paling menyeramkan. Terutama kelasnya. Karena ia tak sanggup jika harus melihat wajah Dika yang tak sehangat dulu terhadapnya. "Kamu bisa cuekin aku, tapi jujur aku ga akan bisa cuekin kamu. Kapan pun kamu butuh aku, datang aja ke aku. Aku ga akan cuekin kamu" Ujarnya lirih. Alya menarik nafas dan mencoba untuk menampakan wajah cerianya. "Good Morningggg" Sapanya dengan suara riang. Alya adalah anak yang humoris, ceria, lincah, romantis, feminim, cantik tetapi selalu tersakiti. 'Biarin aja aku yang sedih sendiri, yang lain ga boleh ada yang tau. Apalagi ikut merasakan' Ujarnya dalam hati.
"Morning Alya, semangat banget lo hari ini!" Ujar Amira teman sebangku Alya. "Harus dong! Kita itu harus menjalani hidup ini dengan semangat! Mumpung kita masih bisa nafas, melihat orang-orang yang masih bisa kita lihat. Syukuri apa yang kita miliki, bukan meratapi apa hal yang ga bisa kita miliki" Ujar Alya dengan penuh semangat. "Weittsss TOP begete deh! Gue selalu setuju sama lo! haha" Amira tertawa. Alya hanya tersenyum melihat sahabat yang sangat ia sayangi bahagia 'Seenggaknya disaat sedih kaya gini, aku masih bisa bikin orang yang aku sayang bahagia'

"Ternyata semuanya ga begitu menyakitkan. Karena disaat aku kangen sama kamu, aku masih bisa liat kamu Dik. Walaupun dari sini, dari jauh, secara diam-diam." Ujarnya lirih. Alya tak bisa menampilkan terus fake smilenya, disaat sendiri tak ada satu pun orang yang melihat, disaat Amira keluar kelas dia bisa mencurahkan kesedihannya kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba pemandangan yang indah itu menangkap basah mata Alya. Ya, Dika menangkap mata Alya yang memandang dirinya dari jauh. Alya mengalihkan pandangannya. "Yaampun, gimana nih Dika ngeliat aku lagi liatin dia" Wajahnya yang murung berubah menjadi panik. Memang tidak ada raut wajah bahagia yang tulus hari ini. Alya semakin panik saat melihat Dika bangkit dari tempat duduknya. "Jangan sampe dia kesini, aduh aku harus bilang apa kalo dia nanya 'Ngapain kamu liatin aku?' Masa harus ngaku sih, ga semua yang aku fikirkan bisa aku ungkapkan." Ujarnya pelan dengan wajah yang panik. Dika semakin dekat, ada dua pilihan di depannya. Jika berbelok Alya selamat dan jika Dika tetap berjalan luruh tamatlah gayanya. "Ayo belok. Belok!" Alya memohon dengan mengepal kedua tangannya. Ya, kali ini doanya terkabul, Dika berbelok untuk keluar kelas. "Alhamdulillah" Wajah Alya yang memerah kini kembali menjadi putih. "Lain kali, aku harus jauhin pandangan aku dari dia, bantu aku ya Tuhan."

Jam pulang sekolah pun berbunyi, jam dimana menjadi akhir kegelisahannya, ketakutannya terhadap hal-hal yang bisa membuat air matanya menetes. "Alhamdulillah, akhirnya bisa juga tahan semua ini." Ujar Alya agak keras. "Apa Al? Tahan apa? Lo kebelet ya? Yaudah ayo cepet ke toilet. Gue anter deh!" Seru Amira. "Ha? Oh iyaya yuk Mir!" Alya berusaha menampilkan tidak ada yang salah atas pengertian yang di tangkap oleh Amira. 'Iyain aja deh biar cepet, dari pada bilang engga nanti dia malah nanya-nanya lagi. Nanti harus bohong lagi deh sama Amira' Batin Alya.
"Al gue tunggu sini ya!" Ujar Amira yang sudah duduk di bangku yang terletak di depan toilet. "Oke, thanks ya Mir." Alya tersenyum. "Haha lucu banget deh, terus aku harus ngapain nih? Udah deh berdiri aja. Bayangin kalo sekarang lagi BAB. ih jijik. Mending bayangin Dika aja deh!" Sekitar 10 menit Alya keluar dengan wajah yang terlihat lega. "Weitsss lega banget tuh! Lain kali lo kalo mau ke toilet bilang aja ke gue. Pasti gue anter Al!" Amira meyakinkan Alya yang sering takut untuk setor di toilet sekolah. "Sip deh Mir. Abis gue ga enak nih kalo terus-terusan minta anter lo ke toilet." Alya nyengir. "Woles selow aja Al. Oh ya denger tentang kebelet gue jadi inget. Tadi gue denger kabar kalo si Yasa yang kebelet eksis itu lagi deketin Dika." Update-an Amira kali ini cukup membuat hati Alya sesak. Alya menarik nafas... "Biar aja, yang penting bukan Dika yang deketin dia. Dan kalo emang iya, ya gapapa. Dika bukan milik gue lagi kan? Jadi gue ga perlu repot-repot mikirin dia." Lagi-lagi munafik. Mulut masih bisa membohongi hati, tapi lama-lama hati akan memberontak dan akan menunjukan segala sesuatu yang telah jadi kebohongan. "Hebat lo Al, bisa setegar itu. Bisa menerima perubahan dengan ikhlas. Perubahan dimana hari-hari lo ga ada Dika lagi." Amira terlihat bangga dengan Alya. "Ya, itu lah cinta Mir, sudah berteman akrab dengan pertemuan dan perpisahan. Jadi kalo kita kenal cinta maka kita juga akan kenal dengan pertemuan dan perpisahan." Alya melontarkan kata-kata 'Sok' bijaknya (lagi) "Bijak banget lo Al! Gue selalu setuju banget sama lo." Amira mengacungkan kedua jempolnya. 'Hati aku ga setegar dan sebijak ucapanku Mir. kalo aja aku egois, mungkin aku akan mencurahkan kesedihan ini dan berbagi kesedihan sama kamu Mir. Tapi aku ga tega buat lakuin itu. Karena jika kamu ikut sedih, ga akan ada lagi kebahagiaan yang bisa aku rasain' batin Alya, suara hati yang tak akan pernah bisa didengar oleh siapapun. "Al tadi apa Al kata-katanya? Gue mau jadiin status" Amira mengeluarkan handphonenya untuk mencatan kata-kata bijak yang telah Alya lontarkan. "Haha tadi itu...." Alya mengulang apa yang tadi telah ia katakan.

****
"Rumah oh rumah! Tempat dimana aku bisa melakukan apapun yang aku mau. Nangis sepuasnya untuk melegakan hati yang udah sesak ini. Tapi itu juga selagi ga ada Mama dan Ayah. Mana mungkin aku tega melihat mereka sedih. Karena lihat aku anaknya yang tegar dan kuat berubah menjadi rapuh cuma karena cinta." Tangan mungil Alya membuka pintu rumahnya dengan kunci yang sudah iya simpan dengan hati-hati. "Kunci rumah aja aku simpan dengan hati-hati. Apalagi kunci hati kamu, ga akan pernah aku lepaskan dari tangan aku"

"Kamu, tempat dimana aku ingin pulang, bisa dibilang kamu adalah rumah idamanku. Tapi disaat aku ga punya kunci untuk membuka hati kamu. Mana bisa aku masuk ke kehidupanmu. Kehidupan yang selalu bisa aku nikmati dengan senyuman dan air mata kebahagiaan."
Alya membaringkan tubuhnya ke kasur, tempat terindah baginya. "Semoga aja rasa sakit ini ga bikin aku jadi mati rasa, mati rasa akan kebahagiaan." Ia pejamkan matanya, tiba-tiba muncul wajah kedua orang tuanya. "Yaampun, jadi keinget Mama sama Ayah. Mereka lagi ngapain ya? Telpon ah!" Jari-jari Alya menekan tombol handphonenya. "Hallo Ma, lagi ngapain? Aku kangen tauuuu! Oh ya? Tante nanya apa? Aku libur mulai besok lusa Ma, emang ada apa? Ha? Tante ngajak aku liburan ke Bali? Asiiiiik!"

****
"Rasanya jadi semangat ke sekolah! Pengen cepet-cepet laluin hari-hari buruk untuk menuju hari yang seru banget pastinya, liburan ke Bali!! Seenggaknya ga ada Dika disana. Dan ga ada satupun kenangan aku di Bali sama dia. Jadi ga mungkin deh keinget sama dia. Yes!! Bebas dari kenangan!" Alya menuruni tangga rumahnya dengan cepat, dengan wajah yang ceria. "Pagi sayang, tumben udah rapih jam segini." Sapa Mamanya yang sudah pulang sejak tadi malam. "Iya dong, kan anak rajin" Alya tertawa. "Yaudah nih sarapan dulu, mama udah masakin nasi goreng dan telur setengah mateng buat kamu." Alya memejamkan matanya untuk menikmati aroma masakan yang Mamanya buat. "Hmmm enak banget wanginya, jadi laper!" Alya duduk dan langsung menyantap menu sarapannya pagi ini dengan suka cita.

****
"Al liburan kita ke puncak yuk! Kebetulan gue sama keluarga gue mau kesana, pasti seru!" Ajak Amira dengan semangat. "Yah, sayang banget Mir, gue ga bisa. Soalnya tante gue ngajak gue liburan ke Bali." Ujar Alya agak tidak enak. "Weitsss seru banget! Gapapa kok, have fun ya Al!" Amira terlihat ikut senang. "Iya, lo juga ya!" Senyum bahagia yang Alya lengkungkan berhenti saat ia melihat Dika yang masuk ke ruang kelas bersama Yassa. "Hebat juga si Yassa bisa deketin Dika secepat itu." Ujar Amira yang baru saja melihat pemandangan yang biasa saja menurutnya tetapi bencana menurut Alya. "Ya bisa lah, Yassa kan cantik. Semua cowok juga mau banget bisa deket sama dia. Dika beruntung bisa dideketin sama Yassa." Lagi-lagi sok tegar. "Hey! Lo lebih segalanya dari Yassa. Lo lebih cantik, baik, pinter, makanya Dika bisa pacaran 3 tahun sama lo. Gue ga suka ah kalo lo muji-muji dia. Dia itu cuma cantik tampang tapi hatinya buruk rupa!" Amira terlihat emosi. "Tapi kenyataannya Yassa yang sekarang dipilih Dika, bukan aku. Aku cuma masa lalu, yang sangat mudah berlalu di kehidupan Dika." Lagi-lagi sok ikhlas. "Cuma orang yang ga punya hati, atau orang amnesia yang bisa ngelupain berjuta kenangan yang terjadi selama 3 tahun, secepat itu. Gue tau Al, lo punya hati. Apalagi sebagai cewek lo itu tipe cewek yang perasa banget, segalanya pake hati. Gue yakin kebahagiaan yang lo tunjukin selama ini palsu. Senyum yang lo lengkungkan itu juga palsu. Dan sikap tegar lo selama ini ga bisa ngeyakinin gue, untuk percaya lo baik-baik aja." Amira memegang pundak Alya, seraya ingin memikul segala beban yang Alya pikul sendiri. "Gue sahabat lo, kita sahabatan ga sebentar. 3 tahun! Gue bisa bandingin kebahagiaan tulus sama kebahagiaan palsu yang lo tunjukin. Gue sahabat lo, gue mau lo berbagi kesedihan lo ke gue,
Gue ikhlas banget kalo gue harus lakuin sesuatu yang bisa bikin lo bahagia dengan tulus. Tapi kalo lo ga mau cerita apa kesedihan lo. gue ga bakal bisa ngerti apa yang harus gue lakuin. Gue sahabat lo, kita udah ngerasain kebahagiaan sama-sama dan kita juga harus ngerasain kesedihan sama-sama, kita harus hapus kesedihan itu dan kembali bahagia." Kali ini Alya tidak bisa menahan air matanya di depan Amira. Alya memeluk erat sahabatnya itu. "Dengan lihat air mata itu, gue bisa tau. kalo beban yang lo pikul sangatlah berat Al." Ujar Amira yang saat itu meneteskan air matanya juga. "Maafin gue Mir, gue cuma ga mau ngeliat kebahagiaan gue ikut sedih karena lihat kesedihan gue." Mereka masih berpelukan dan Amira melepaskan pelukannya. Mata Amira menatap erat mata Alya. "Dan Kebahagiaan ga akan kuat ngeliat kebahagiaannya terpuruk dalam kesedihan. Dan saat kebahagiaan bisa merasakan kesedihan dari kebahagiannya. Maka kesedihan itu akan hilang dengan kebahagiaan." Ujarnya yakin. "Lo bisa puitis juga Mir." Alya sedikit tertawa. "KARENA GUE ABIS BACA BUKU KUMPULAN KATA-KATA MUTIARA INI" Amira mengeluarkan buku dari sakunya. Keduanya tertawa dan saling menghapus air matanya.
"Gue sadar Mir, kebahagiaan itu sederhana. Karena gue punya sahabat kaya lo. Sahabat yang sebetulnya bisa bikin gue hidup tanpa kesedihan sama sekali. Makasih ya Mir" Alya memeluk sahabatnya lagi. "Apapun buat kebahagiaan, sesingkat apapun waktu yang gue punya, gue bakal kasih waktu itu buat lo. Orang yang gue sayang dan orang yang menyangi gue."
Alya tersenyum mendengar kata-kata yang Amira lontarkan. "Sumpah Mir, lo jadi puitis dan bijak banget. Merinding gue dengernya." Alya sedikit tertawa. "Dan itulah yang gue rasain selama ini, merinding kalo lo lagi ngucapin kata-kata yang puitis dan galau abisssss!" Amira ikut tertawa. "Tapi seriusan, gue sadar semua yang berhubungan dengan rasa itu pasti sampe kehati dan rasa bisa bikin gue jadi puitis."
 "Dan semua yang pake hati memang menyakitkan, dan karena sakit itu kita bisa belajar dari apa yang kita jalani dari hidup ini. Karena sakit hati ini ga akan pernah bisa hilang, karena luka yang mengakibatkan sakit itu pasti akan selalu berbekas." Ujar Alya dengan senyuman. "Setuju selalu sama loooo!" Amira tertawa sambil menepuk pundak Alya. 'Alhamdulillah, memang ga akan ada beban yang bisa hilang kalo belum di luapkan.'

****
"Amira mana sih? Katanya mau pulang bareng, kok dia malah ngeloyor duluan?" Mata Alya melihat ke sekelilingnya. Alya mengeluarkan handphonenya
'Mir dimana? Kalo masih lama gue pulang duluan ya?'
Alya mengirim SMS kepada Amira. Beberapa menit kemudian handphonenya bergetar. 'Gue di Toilet, mulesss. Yaudah lo duluan aja!'
"Bisa bales sms pas lagi BAB, bener-bener canggih tu anak!" Alya tertawa dan melangkahkan kakinya menuju pulang. Matanya fokus ke depan. Tiba-tiba pemandangan yang ditakuti Alya muncul. "Hmmm jangan liat, jauhi pandangan aku dari mereka. Tapi semakin aku menutupi, menghalangi hati ini semakin sakit." Ujarnya pelan. 'Seindah pun hari ini, kalo kamu masih bukan milikku, ga ada yang sempurna.'
Alya berjalan lurus sambil menunduk.
"Al!" Panggil seseorang. Alya
tersentak. 'Dika? Itu suara Dika? Yaampun apa lagi yang harus aku lewati?' Batin Alya yang mulai panik. Dika berjalan mendekatinya. "Al buku lo jatuh nih." Alya yang dari tadi hanya nundung akhirnya bisa mengangkat kepalanya dan melihat wajah Dika. "Oh, makasih ya" Alya mengambil bukunya yang di sodorkan Dika. "Kayanya lo buru-buru banget, sampe-sampe buku lo jatuh aja lo ga tau." Ujar Dika dengan tatapan yang membuat Alya deg-degan. "Iya, gue buru-buru. Gue duluan ya, tuh Yassa udah ngeliatin mulu dari tadi." Alya meninggalkan Dika. Ia kembali meneruskan jalannya untuk kembali ke tempat yang selalu membuatnya ingin pulang, Rumah. Dika hanya diam sambil memerhatikan tingkah Alya, lalu Dika melihat kembali Yassa. "Gue bingung sama perasaan gue sendiri."
Ujar Dika pelan.

****
"Baliiiii i'm cominggggg!!" Teriak Alya yang baru saja bangun dari tidurnya. Hari ini Alya dan keluarga tantenya akan liburan ke Bali. Alya langsung turun dari kamarnya dan menyambut hangat tantenya. "Kamu baru bangun Al?" Tanya tantenya. "Iya hehe, abis Mama ga bangunin aku sih." Alya menyalahi Mamanya. "Gitu tuh Dew, dia masih tergantung sama Mamanya. Kalo ga di bangunin pasti ga akan bangun-bangun." Jelas Mamanya ke Dewi, tante
Alya. "Mamaaaa" Alya tampak malu. "Yaudah kamu mandi sana." Seru tantenya. "Okeeee Tan!"

****
"Bali...." Seru Alya setelah Ia turun dari pesawat yang sudah mendarat di Bandar Udara Ngurah Rai. "Harus have fun!!" Alya dan keluarga tantenya langusung menuju ke Hotel untuk check-in. "Thanks tante udah pilih Hotel deket Kuta..." Ujarnya sambil memeluk Tantenya. "Iya sayang, have fun ya! Dont be galau terusss" Ujar Tantenya dengan nada semangat. Alya cukup terkejut dengan ucapan Tantenya. 'Galau? Kok Tante bisa tau kalo akhir-akhir ini aku lagi galau max?' Ujarnya dalam hati. "Hehe iya Tan." Alya hanya cengengesan.
"Al, Kamu laperkan? Ayo siap-siap kita makan di Bebek Bengil." Seru Tantenya. Alya yang dari tadi sedang sibuk menulis sesuatu di selembar kertas langsung terkejut. "Bebek Bengil yang viewnya sawah itu kan? Aaaaa indah banget Tan." Alya langsung bangkit dari duduknya dan segera ganti baju.

"Enak banget, Tan. Apalagi sambil liat view sawah hijau yang terpapar seperti ini, udaranya sejuk." Alya sangat menikmati detik-detik terindahnya tanpa memori of Dika. "Ya, pokoknya kamu nikmatin deh ini semua, Tante ngerti banget sama perasaan galau kamu itu. Tante kan pernah muda." Singgung Tante. "Tante tau

dari mana kalau aku lagi galau?Kayanya aku ga pernah cerita." Alya menampakkan rasa bingungnya. "Hey, kamu lupa ya? Tante kan tau kalo kamu udah pacaran sama Dika dari kelas 3 SMP. Dan kemaren Tante tanya ke Mama kamu. Katanya kamu sama Dika baru putus. Ya tante taulah perasaan kamu sekarang." Jelas Tante Dewi. "Ah Tante, aku sayang Tanteeee." Alya memeluk Tantenya. "Tan, udah 1 Bulan aku jalani hari dengan ke hampaan. Aku pendam semuanya sendiri dan bodohnya aku ga pernah sadar, kalo aku punya orang-orang yang sayang sama aku. Orang-orang yang bisa bikin aku hidup tanpa air mata sedikitpun. Aku bodoh Tan." Air mata Alya menetes. "Udah, kamu jangan nangis. Kehilangan memang membuat kita ngerasa sendiri. Bahkan di tempat ramai sekalipun kita bisa merasakan sepi.Pasahal tanpa kita sadari namyak orang yang peduli dengan kita. Kamu wajar kok kaya gini, karena wanita memang sangat perasa." Tante Dewi mengelus-ngelus pundak Alya. "Masa Tante udah ngajak ke Bali kamu masih sedih sih? Inget, Have Funnnn!" Tante menyemangati, menghapus air mata Alya. "Makasih banyak Tanteee" Alya tersenyum dan menghapus Air matanya.

Waktu sudah menunjukan pukul 6 kurang sore. "Akhirnya bisa menikmati detik-detik sunset di Pantai Kuta." Ujar Alya melangkahkan kakinya yang tanpa alas di atas
pasir putih yang lembut. Hembusan angin menyentuh pipi Alya yang mulus. "Aku ga akan mau, moment ini berhenti. Keindahan seperti ini malah membuat aku ingat sama kamu. Kamu adalah keindahan yang sepantar dengan keindahan apapun di dunia. Aku ga bisa bohong, sekarang aku kangen banget sama kamu Dika." Alya duduk di atas pasir putih. Lagi-lagi air matanya menetes. Alya menuliskan sesuatu di atas pasir. "I miss you Dika." Tulisan itu seketika terhapus oleh ombak. Alya hanya tersenyum melihat kejadian itu. Alya memjamkan matanya dan menarik nafas panjang "Alyaaa! Itu tandanya kamu ga boleh kangen sama Dika. Dia ga butuh aku kangenin. Dan air mata ini terlalu berharga dan ga pantes untuk diteteskan hanya karena Dika." Ujarnya pada dirinya sendiri.

Alya mengeluarkan secarik kertas yang tadi telah Ia tulis.

'Dear Neptunus. Aku utusan Agent Kuggy. Hihi ga resmi sih. Tapi aku bisa bikin perahu kertas. Nus Aku lagi bimbang nih, kaya ombak di Pantai Kuta. Ternyata melupakan sama sulitnya seperti aku ingin mengingat sesuatu yang tidak aku ingat. Aku mohon, terima surat ini. Hanyutkanlah kenangan dan masa lalu yang selalu menghantui aku, hanyutkanlah bersama perahu kertas ini. Aku sadar, dunia ini terlalu indah jika harus di dampingi oleh masa lalu. Semoga melupakan dia, melepaskan dia semudah aku melepaskan perahu kertas ini. Bisa menghanyutkannya hanya dengan menutup mata.' 

 Alya melipat secarik kertas itu menjadi perahu. Dan menghanyutkannya ke pantai. "Selamat tinggal Dika, masa lalu yang akan segera berlalu,semoga."

by @fhafha93 :) Ditunggu komentarnyaaa :D


4 komentar: