Thankyou for coming :)

Sabtu, 21 September 2013

Sahabat dan Cinta

Ketika perasaan mengalir begitu saja tanpa aturan. Ketika cinta datang begitu saja tanpa direncanakan. Seketika itulah, persahabatan aku dan dia semakin lama, semakin tak teratur

Wajah paniknya sangat nyata. Sangat panik seperti saat dia takut hal yang berharga pada dirinya akan hilang. "Ih, lebay banget ya kamu. Cuma lecet biasa." ujarku ketika aku melihat keringat yang membasahi wajahnya, seperti orang habis dikejar anjing gila. "Cuma lecet? Tadi kamu pingsan, terus jatuh, lutut kamu luka, dan sekarang darah kamu ngalir banyak, tuh." Deni langsung membuka kotak P3K yang dia ambil dari lemari di UKS. Dia bersihkan lukaku, memberikan obat, lalu menutupnya dengan hansaplas. Aku hanya terdiam melihatnya melakukan semua itu kepadaku. Dia sangat gesit, lebih gesit dari seorang suster. Tidak ada rasa sakit sedikit pun. Mungkin, karena dia sangat hati-hati ketika mengobatiku luka di lututku ini. "Makanya, kalau mau berangkat sekolah itu sarapan dulu!" Itu yang selalu dia ucapkan ketika aku pingsan disaat upacara. Ini bukan pertamakalinya. Sudah 3.. 4.. 7.. Bahkan lebih, aku lupa. Sudah 3 tahun aku sekolah disini. Dan setiap bulan minimal 1 kali aku pingsan. Aku saja bosan. Apalagi dengan guru-guru, dan pastinya PMR pun sangat bosan untuk menggotongku dari Lapangan ke UKS. Dan mungkin saja, Deni pun bosan. Tapi, perhatian yang dia berikan kepadaku tak pernah berubah. Dia selalu seperti ini, menjagaku di UKS sampai pulih. Membuatkan secangkir teh manis hangat. Menasehatiku dengan penuh perhatian. Megusap rambutku ketika aku tertidur. Aku merasakannya, karena aku selalu pura-pura tidur. Dia memaksaku tidur. Dia memaksaku istirahat. Dia tidak mau aku sakit. Tapi hebatnya, dia tidak memaksaku untuk mencintainya. 

"Aku tadi kesiangan." ujarku lemas. "Tidur malem lagi, ya?" tebak Deni. 
Aku menganggukan kepalaku pelan. "Banyak tugas." jelasku singkat. "Makanya, kalau tugas, tuh, jangan ditumpuk. Dicicil satu-satu Din." 
"Iyaaaa Deni Angga Saputra... udah jangan bawel. Sana ke kelas! Biarin aku disini sendiri aja." Aku coba menyuruhnya pergi. Padahal, aku yakin dia tidak akan mau. 
"Nggak, aku mau jagain kamu disini. Sampe kamu bosen. Bosen masuk ke UKS. Sampai kamu mau jaga pola makan. Kapok pingsan lagi." Dasar Deni. Keras kepala. Dia lebih cocok jadi bodyguard aku, daripada sahabat. 
Terdengar suara orang masuk. Aku tau, itu pasti Siska anggota PMR yang tugas jaga hari ini. "Eh ada Deni.. Udah den, biar gue aja yang jaga." Siska mempersilahkan Deni untuk kembali ke kelasnya. "Ga usah Sis. Lo masuk ke kelas aja. Biar gue yang jaga Mrs.Pingsan ini." ujar Deni sambil melirikkan matanya yang tajam itu kearahku. "Serius nih? Kebetulan gue juga lagi ada ulangan harian soalnya." 
"Iya, beneran." Deni meyakinkan. 
"Yaudah, nitip pasien langganan gue ini ya. Dinda cepet sembuh ya." Siska pergi meninggalkan UKS. 
Aku mengerutkan mulutku, tanda kesal. "Jeleeeek. Udah ah, minum dulu tehnya." 
Aku mengambil teh hangat buatan dia di meja. Rasanya sudah agak dingin. "Kurang anget nih." ujarku. "Kelamaan,sih, kamu minumnya." Deni langsung mengambil teh itu dari tanganku. Dan menambahkan air panas. "Nih, udah anget." tanpa bicara. Aku langsun minum tehnya. Teh buatan Deni memang paling enak. Karena dia tau betul selera aku. Tidak terlalu manis. 

Lama-lama kepikiran. Perhatian Deni yang luar biasa itu lama-lama mampu meluluhkan hati aku. Rasanya ingin sekali menjadi miliknya. Tapi disatu sisi lain aku juga takut. Takut kehilangan dia. 
Deni ganteng, hidungnya mancung, kulitnya bersih, badannya wangi, tinggi, senyumnya manis, alisnya tebal, matanya tajam. Semua itu mampu membuat cewek-cewek semua angkatan menyukainya, apalagi melihat jabatannya sebagai ketua osis. Tapi dia malah menghabiskan waktu-waktu SMAnya dengan mencintaiku. Aneh memang. Aku sama sekali tidak merasa cantik, ya memang itu kenyataannya. Tubuhku tidak sebagus cewek-cewek yang sempat mendekati Deni. Rambutku biasa saja, panjang, lurus, tanpa model. Dari fisik saja aku sudah tidak cocok jika disandingkan dengan Deni. Deni popular. Aku biasa saja. Malah aku mendadak jadi popular karena dekat dengan Deni. 
"Hus." Deni membuyarkan lamunanku. 
"Kamu sampai kapan gini terus?" Tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulutku. "Gini terus? Maksudnya?" Deni tampak bingung. "Kamu perhatian banget sama aku." ujarku seadanya. "Oh, itu. Aku sayang sama kamu Dinda. Kamu tau itu kan?" Jawabnya santai. Aku menganggukan kepalaku. "Tapi kamu tau kan? Kalau aku ga bisa balas semua yang udah kamu kasih? Perhatian, cinta." ujarku dengan penuh rasa sesal. Aku menyesal dengan semua perasaan campur aduk yang merasuk dihati dan fikiranku. Aku terlalu munafik. Aku terlalu penakut untuk bisa mengakui bahwa sebenarnya aku juga mencintainya. 
"Aku ngerti kok. Aku udah ditempatkan di hati kamu hanya sebagai sahabat. Tapi banyak orang yang bilang, perasaan bisa berubah-ubah. Apakah suatu saat perasaan kamu bisa berubah?" Dia menatapku, menatap tajam dengan matanya yang tajam. Aku tidak kuat jika ditatap dengan tatapan seperti itu. Aku alihkan pandanganku. Aku menunduk. "Aku ga tau, mungkin aja bisa." 
"Oke, bakal aku tunggu." 
Pasti bisa. Perasaan pasti bisa berubah. Dan bagaimana jika nanti disaat perasaan aku berubah, perasaan kamu juga ikut berubah? Ah.. Aku memang sangat takut kehilangannya. Sehingga aku lebih sering membuat kemungkinan-kemungkinan yang negatif. Jika dia tau, sekarang pun aku sudah mulai merasakan cinta. Tapi, karena rasa cinta yang begitu besar. Membuat rasa takut kehilangannya pun menjadi besar. Sekarang aku dan dia bisa sahabatan seperti orang pacaran. Tapi jika nanti pacaran, apakah bisa seperti orang sahabatan?