Yubi
Kemarin malam
itu adalah malam yang paling panjang selama aku hidup. Gimana nggak panjang?
Semalaman aku nggak bisa tidur mikirin Digra. Emang sih aku yang salah, pas di
ke rumah, aku nggak nemuin dia. Tapi kalian tau dong cewek itu kayak gimana
kalau marah?
Cuma bisa diem.
Pengen sendiri.
Pengennya di perhatiin; dikhawatirin.
Pokoknya dibujuk sama cowoknya.
Kayak Digra semalam. Tapi nggak tau kenapa, rasanya masih
kesel banget sama Digra!
Mata aku sekarang merah akibat ngantuk.
Dan sembab akibat nangis semalaman.
Semoga aja Digra nggak ada di depan, semoga Digra belum
jemput.
Biar aku bisa langsung kabur ke sekolah! (Amin)
"Hi, Bi."
Duh, Digra...
"Hi."
"Bi, Masih bete?" tanya Digra sambil menatapku
dengan tatapan memelas.
"Menurut kamu?"
"Iya, gue ngaku salah. Gue kebanyakan nyeritain Delia
di depan lo. Mungkin,
Itu karena lo belum kenal dia. Makanya gue pengen ngenalin
lo sama dia. Biar ga ada
salah paham, Bi." Digra mencoba menjelaskan alasannya.
Oke, untuk masalah Delia aku bisa sedikit maklum.
Tapi....
"Bi, udah dong, lo masa ngga bisa ngertiin gue?"
"Aku nggak bisa ngertiin kamu? Terus kamu emang bisa
ngertiin aku?
Apa kamu inget minggu ini cerpen aku terbit di majalah? Apa
kamu nanyain soal
hal itu? Aku tau itu cuma cerpen biasa yang terbit di
majalah biasa, nggak begitu penting
dibanding Delia, cinta pertama kamu itu!"
Aku bicara dengan lancarnya, bahkan sampai Digra ngga ngeliat
kearahku, dia cuma nunduk, sambil membenarkan letak kacama matanya beberapa
kali.
"Dan satu hal lagi, Denis, dia malah lebih care dari
pacar aku sendiri. Kemarin pagi-pagi dia nanyain soal cerpen aku. Tapi kamu
mana? Nggak ada sekalipun nanyain, ngga peduli sama hal itu. Jujur mis, aku
kecewa."
Mataku mulai berkaca-kaca.
Digra cuma diem.
Lalu, Digra membuka tasnya.
"Majalah ini? Kalo Denis pagi-pagi sms lo nanyain
majalah ini. Gue pagi-pagi udah keluar rumah nyari majalah ini."
Majalah itu ada ditangan Digra. Sumpah, hati aku langsung
nyelekit pas ngeliat majalah yang aku maksud ada di tangan Digra. Ternyata Digra
inget. Tapi aku malah nethink dan banding-bandingin
Digra sama Denis.
Gak tau harus ngapain.
"Bi, udah, ya? Ini pertama kalinya kita ribut. Dan
ternyata cuma salah paham, kan? Gue janji gak akan ngomongin Delia secara
berlebihan ke lo. Janji." Digra tersenyum sambil memegang tangku.
Aku masih terpaku.
Masih amat sangat ngerasa bersalah udah giniin Digra.
"Kamu nggak marah tadi aku abis marah-marah sama kamu
dan bandingin kamu sama Denis?"
"Nggak, gue juga salah, kok. Yang penting sekarang kita
harus lebih dewasa kalau ada masalah, jangan cuma diem, tapi omongin baik-baik.
Jangan marah-marah kayak tadi, nanti cepet tua, lho." Kata Digra sambil
mencubit pipiku.
"Hmmmmm Digraaaa, makasih, maaf ya." Aku refleks
memeluk Digra.
"Malu, Bi." komentar Digra. Aku langsung melepas
pelukannya.
"Yuk berangkat." kataku sambil tersenyum. Senyuman
ini berkat Digra. Emang cuma Digra yang bisa ngembaliin senyum aku walaupun aku
abis nangis semalaman.
I Love You Mis.
Digra
Semaleman
nggak bisa tidur. Ini pertama kalinya gue ribut sama Yubi. Yubi yang biasanya
ceria dan manja sama gue, tapi malem ini berubah dingin dan nggak mau nemuin
gue pas gue samper ke rumahnya.
Oke, dalam
sebuah hubungan emang wajar ribut kayak gini. Tapi ini bener pertama kalinya
gue ribut sama cewek. Bahkan saat
sama Delia gue gak pernah berantem sama dia. Dari TK sampe terakhir gue ketemu pas
lulus SMP gak pernah sekalipun.
Jadi ini pertama kalinya gue ribut sama yang namanya cewek.
Dan, ini majalah yang nerbitin cerpen Yubi. Gue udah baca
cerpennya, dan ternya seru. Isinya tentang gue. Tentang awal gue dan dia ketemu.
Tentang Love at first sigh. Yubi
ternyata romantis. Gue nggak boleh kalah!
*****
"Bi, cerpen kamu bagus." gue to the point pas ngeliat Yubi bengong, kayaknya dia masih ngerasa
nggak enak karena kejadian tadi pagi.
"Kamu udah baca?" Dia langsung keliatan antusias.
"Udah dong. Lo lanjutin nulisnya ya, tapi jangan
nyeritain gue terus. Bacanya bikin nggak fokus."
Mendengar sindiran gue, pipi Yubi memerah.
"Kamu aja kepedean. Emang di cerpen aku ada nama kamu?
Nggak kan." Yubi ketawa. Dan lesung pipit di bawah matanya mulai keliatan
lagi. Gue perhatiin selama kenal Yubi, kayaknya lesung pipit itu cuma keliatan
kalau dia lagi ketawa seneng, sama senyum yang bener-bener dari hati.
Kemarin-kemarin gue nggak liat itu. Berarti dia…
"Besok nonton, yuk?" ajak Yubi.
"Nonton apa?"
Jujur gue
kurang suka nonton.Gue pernah nonton di Bioskop sekali-kalinya sama Delia. Gue
lebih milih nonton DVD daripada nonton di Bioskop.
"Apa aja, yang penting Drama."
"Jangan dibiasain nonton Drama, nanti kamu makin Drama
lagi."
Yubi
Semenjak
aku sama Digra ribut pagi itu. Aku nggak pernah denger lagi Digra ngomongin
Delia. Digra nepatin janji. Tapi, Digra bilang minggu depan Delia kesini dan
mereka bakal ketemu, dan aku bakal dikenalin sama dia.
Aku harus gimana?
Tapi kalau
dipikir-pikir, Digra bener, dia nggak mau ada salah paham lagi. Makanya dia ga
nutupin apapun dari aku. Dan harusnya aku seneng punya pacar kaya dia. Tapi
kadang, kalau dia terlalu jujur, itu bisa bikin sakit. Apalagi pas Digra jujur
dia pernah suka sama Delia, eh bukan sekedar suka, tapi Cinta, ya cinta pertama.
Kenapa yang pertama itu nggak bisa dilupain?
Kenapa harus cewek lain yang jadi pertama buat Digra?
Kenapa nggak aku aja?
I'm so late.
Pokoknya
aku harus bisa bikin kesan yang ga bisa dilupain sama Digra. Semoga bisa bikin
kenangan yang indah sama dia sampe-sampe dia ngga bisa move dari aku.
Jadi, aku gak gagal move on sendirian, deh.
"Bi, kok bengong? Mau nonton apa, nih?"
"Eh, nggak. Hmmm nonton apa ya?"
Kita udah di Bioskop. Pertama kalinya aku nonton sama Digra.
Tapi aku bingung, padahal gak ada film yang bagus hari ini, tapi cuma maksa aja
pengen nonton biar bisa jalan berdua sama Digra, biar hari minggu ini dia nggak
ngajakin BELAJAR terus.
"Ini aja." aku tunjuk film yang covernya lagi pelukan.
Mungkin, film romantis.
Digra hanya mengangguk. Menyetujui pilihanku.
Kami memasuki Theater, dan Film yang nggak jelas tentang apa
itu pun sudah mulai. Lampu Theater sudah dimatikan. Dan karena ini Film baru
tayang, jadi Theater pun masih penuh.
“Emang Film ini ceritanya tentang apa?” tanya Digra
penasaran, mungkin karena banyaknya penonton.
“Seru deh pokoknya.” aku asal jawab.
Film pun dimulai.
Dan aku mulai tau ini film tentang apa.
Oh, God.
Digra
Selera film
Yubi ternyata kayak gitu ya. Covernya sih oke, tapi isinya. Udah mah tanpa
sensor. Oke, mungkin buat sebagian cowok itu adalah hal yang menggairahkan.
Tapi gue? gak suka,
Bukan berarti gue gak suka.
Tapi film yang menayangkan adegan kayak gitu, menurut gue kampungan banget. Gak
berkualitas.
Tapi
tenang, gue nggak ilfeel kok sama
Yubi cuma karena hal kayak gitu.
Cinta yang
sesungguhnya itu timbul lewat pandangan, dan tumbuh dengan segala kekurangan yang
sedikit demi sedikit mulai ketahuan. Dan gue rasain itu.
Semakin gue kenal Yubi, gue tau Yubi yang sebenernya, bikin gue bener-bener makin
sayang sama dia.
Yeah, I love you just
the way you are, Bi.
Baca part yang lainnya:
Part 1: http://fhafha93.blogspot.com/2013/12/only-love-love-is-quickly.html
Part 2: http://fhafha93.blogspot.com/2013/12/only-love-i-love.html
Part 3: http://fhafha93.blogspot.com/2014/01/only-love-3-jealous.html
Part 4: http://fhafha93.blogspot.com/2014/04/peka-dong-onlylove-part-4.html
Thank you :)