Thankyou for coming :)

Sabtu, 30 Maret 2013

Kehangatan Cinta


For me, every picture tells a story.
Hallo! Panggil aku Celly. Masih dengan kamera model lamaku, yang selalu membantuku untuk mengabadikan moment yang menurutku adalah sebuah keajaiban. Karena setiap detik kehidupan yang masih bisa aku lalui adalah sebuah anugerah dari Tuhan untuk aku. Karena Tuhan telah mengizinkan aku untuk tinggal di Dunianya hingga detik ini, hingga umurku 17 tahun.

Liburan kali ini, aku tersentuh untuk hunting foto lagi, bersama oldcam. Oldcam adalah sahabat setiaku, sahabat yang selalu setia menemaniku. Haha yaiyalah karena aku selalu membawanya kemana aku pergi.

Dengan tersenyum, aku melambaikan tanganku kepada Ibu dan Ayah. "Sayang, hati-hati. Jaga diri mu baik-baik." teriak Ibuku yang tak berhenti mengelap air matanya yang jatuh, karena terharu dengan kepergianku. "Ibu aku hanya pergi berlibur. Biasanya juga sendiri. Jadi please gak usah suruh aku pergi bersama Dimas." ujarku saat Ibu memintaku untuk menyertai Dimas dalam perjalanan liburanku kali ini. Dengan melihat air matanya, aku yakin sepertinya Ibu belum rela membiarkanku liburan sendiri kali ini. Karena jujur, aku menyadari bahwa kondisiku tak sebaik seperti biasanya. Tapi aku percaya, Tuhan menciptakanku kuat, karena aku bisa hidup hingga detik ini dengan penyakit yang tak biasa.


Busku yang melaju menuju kota Cirebon, melaju dengan kecepatan normal. Untung saja aku menaiki bus berAC. Jadi aku tidak perlu mengebas-ngebaskan tanganku yang kebetulan sedang sakit ini. Dimas lelaki kasar dan over protective terhadapku, melukaiku untuk kesekian kalinya. Aku tak menyangka hingga detik ini, mengapa Ibu dan Ayah masih saja memberi hati kepadanya dan selalu dia yang mereka rekomendasikan untuk menjagaku. Padahal anak satu-satunya ini sering sekali dilukai olehnya. "Dimas, andaikan kamu gak kasar dan gak bikin aku ilfeel. Mungkin kamu juga akan jadi orang yang aku percaya buat jagain aku."
Aku wanita, bagaimana pun sifat wanita pasti ingin diberikan kehangatan, cinta, kasih sayang, diperlakukan dengan manis dan romantis. Tapi Dimas? Selalu melukaiku. Walaupun aku tau, dia tak sengaja melakukan hal itu. Dia hanya melarangku untuk pergi meninggalkannya saat ia belum menyelesaikan ucapannya. Tapi karena kekasaran dan emosinya yang tak bisa dikontrol dengan baik, dia telah dan sering menyakitiku, entah fisik atau psikis.
Dengan obat anti mabok yang aku minum, akhirnya aku terlelap dalam perjalanan.

"Cirebon Cirebon" seru seorang kenek di Bus yang aku tumpangi. Suara itu membuatku terbangun dari pengaruh obat tidur yang terdapat dari obat anti mabok yang aku minum. Aku segera membawa barang bawaanku, lalu turun dari Bus dan menginjakkan kakiku di kota yang terkenal dengan ikan rebonnya ini. "Firda mana ya?" aku mencari sosok Firda. Aku sudah sedikit lupa sih. Karena terakhir aku bertemu dengannya 2 Tahun yang lalu. Setelah kurang lebih aku berdiri di wartel dekat Terminal. Aku mendengar suara wanita yang menyebut namaku. Aku membalikkan badanku dan benar dugaanku, Firda yang memanggilku. Firda memakai dress yang sangat feminin dan rambut yang tergerai panjang. "Firda? Apa kabar?" aku langsung memeluk tubuhnya yang langsing itu, aroma parfumenya sangat menyengat saat aku menarik nafas di pelukannya. "Baik, kamu Cell?" tanyanya balik. "Aku gak pernah ngerasain sebaik ini!" ujarku semangat. "Yaudah, yuk kerumah aku! Keliatannya kamu capek banget." ajaknya. Aku mengangguk pelan. Kami pun menaiki mobil berwarna pink miliknya. Firda adalah kenalanku di twitter. 2 Tahun yang lalu, ia berlibur ke Jakarta dan saat itu ia memintaku untuk mengabadikan kecantikannya di setiap tempat yang ia kunjungi di Jakarta. Postur tubuhnya yang profesional tampak seperti model itu membuatku semangat untuk memotretnya. Padahal saat itu aku gak minta imbalin sama sekali, tapi ia yang memaksa untuk membayarku "Udah ambil aja, anggap aja kamu ini fotografer yang udah aku sewa." ujarnya saat menyodorkan uang ratusan ribu kepadaku. Yasudahlah aku terima saja, untung-untung itu bisa ajadi pengalaman kerjaku hihi. "Cell gimana kamu masih suka motret?" tanya Firda. "Masih dongg, nih aku bawa si oldcam." ujarku sambil menunjukkan kameraku yang daritadi aku simpan di dalam tas. "Bagus deh, jadi kamu bisa fotoin aku lagi dong?" tanyanya bersemangat. "Tentu! Dengan senang hati." aku tersenyum lebar kepadanya. "Thank you. Hmm berarti sekarang giliran aku yang ajak kamu keliling kota Cirebon dong!"
"Iyaaa, oya kamu jangan lupa ya ajak aku makan tahu petis khas Cirebon?" ujarku mengingatkan. "Pastiiii!" Firda melengkungkan bibirnya dengan manis sekali.

"Cirebon panas banget ya." ujarku saat turun dari mobil. "Bangeeeet! Makanya setiap rumah di sini pasti pake AC. Masuk yuk!" Firda menarik tanganku. "Orang tua kamu kemana?" Tanyaku saat aku melihat rumah Firda sangatlah sepi. "Orang tua aku lagi pergi, udah biasa mereka mah! Aku anak satu-satunya ini ditinggal-tinggal terus." wajah Firda cemberut. Sepertinya keluarga Firda kurang harmonis. "Kita foto-foto aja yuk!" ajak aku untuk mencairkan suasana yang sempat beku dengan lamunan Firda. "Emangnya kamu enggak capek?" tanya Firda. "Enggak! Di bus juga aku cuma tidur." Aku sedikit tertawa. "Yaudah boleh, tapi kamu beresin barang-barang kamu dulu tuh!" Firda menunjuk barang bawaanku yang seabrek. Jika aku pergi, Ibu selalu siapkan semua barang yang aku butuh, sampai bantal kesayangan aku juga Ibu bawain. "Hehe iyaiya." Aku langsung membereskan barang-barangku itu. Setelah semuanya rapih. Baju-baju tertata rapih di lemari yang terletak di kamar tamu itu. Aku dan Firda keluar rumah untuk hunting makanan khas Cirebon dan hunting foto.

"Hmm enak-enak. Fir kok petisnya bisa item kayak gini?" Tanyaku saat memakan Tahu Petis khas Cirebon di daerah Pasar Perum. "Karena petisnya itu terbuat dari rebon Cell." Jawab Firda sambil mencocol petis yang ada di dalam bungkusan kertas minyak. "Enak banget sumpah deh!
Kalo Kepedesan langsung minum..." aku menyeruput segelas Es Dawet."Hmm maknyosss." Komentarku. "Cell fotoin aku dong." pinta Firda sambil berpose menempelkan sedotan Es Dawet di bibirnya. Aku segera mengambil odlcam dan memotretnya. 1 kali, 2 kali, 3 kali dan 4 kali dengan gaya Firda yang berbeda-beda. Firda melihat-lihat hasil jepretan oldcam. "Wow keren-keren! Oh ya kamu masih mau icip-icip makanan khas Cirebon punya gak?" tanya Firda dengan wajah puas. "Boleh-boleh. Perut aku masih bias nampung nih!" Aku mengangguk dengan semangat. "Di sebrang sana ada yang jual Tahu Gejrot sama Kerupuk Sambel tuh! Kesana yuk!" ajak Firda. Kami pun beranjak dari tempat duduk untuk membayar 5000 rupiah untuk Tahu Petis dan 5000 rupiah untuk dua gelas Es Dawet. Kami melangkahkan kaki menuju sebrang  jalan dan duduk di karpet yang telah disediakan penjual Tahu Gejrot. "Bang Tahu Gerjrot dua ya!" Firda memesan. "Pedes gak neng?" Tanya penjual itu. "Sedeng aja." Ujarku. Lalu Firda memesan dua dengan tingkat kepedasan yang sedang. Kota yang panas membuat banyak sekali penjual es bertebaran di setiap jalan kota Cirebon ini. Es dawet, Es buah, Es kelapa muda, belum lagi Es pacar cina. Rasanya menggugah selera. Aku menyantap 1 piring Tahu Gejrot yang terbuat dari kayu, tradisional sekali. Tapi rasanya tetap ajib. Handphone Firda berbunyi "Cell aku angkat telpon dulu ya." lalu Firda pergi mencari tempat yang jauh dari bisingnya kendaraan di kota Cirebon. Aku baru sadar bahwa ada yang berbeda dengan hari-hariku. "Ohya gak ada Dimas." Tiba-tiba aku teringat dengannya. "Lagi apa ya kamu? I hate you but i miss you now." Aku tersenyum saat mulutku tiba-tiba mengatakan kata-kata yang menjijikan itu. "Miss you? Oh nooo!"
Tapi aku masih berfikir, kenapa ya Dimas sama sekali tidak mencariku? Dan saat aku menolaknya untuk ikut bersamaku dia tak
begitu memaksakan kehendaknya. Hanya satu kali ia memohon dan menarik tanganku hingga sakit kayak gini. Aku memandangi tanganku yang masih terlihat biru. "Dasar Dimas! Adik kakak modus. Dia aja sih yang modus tapi aku gak!" ujarku tidak kepada siapapun. Jika ada orang yang melihat, mungkin aku akan dikira gila.
Firda kembali dengan mata yang sembab. "Fir kamu nangis? Ada apa?" Tanyaku panik. "Nenek aku jatuh dari kamar mandi, aku harus segera kesana. Kamu ikut ya!" ajaknya kepadaku. Aku hanya mengangguk dan mengelus punggungnya.


Setelah pulang dari Pasar Perum. Kami bersiap-siap untuk pergi ke Rumah Nenek Firda yang terletak tidak jauh dari kota Cirebon, yaitu di Desa Ciperna, Beber. Kami melewati jalan yang berbelok-belok, menanjaki bukit-bukit dan cuaca disini pun sangat berbeda 90%. Sangat dingiiiiiin! Mobil Firda berhenti di Rumah yang bercat kuning. Terdapat banyak tanaman di depan rumah itu. Firda turun dengan cepat, air matanya terlihat masih menetes. Saat aku ingin turun, tiba-tiba jantungku berdebar sangat cepat tak seperti biasanya. Aku sudah biasa dengan hal ini. Musuh bubuyutanku datang, penyakit jantung ini. Aku segera mengambil obat di dalam tasku. Aku terkejut saat aku tau bahwa obat aku tak ada di tempat biasanya. Aku coba cari sekali lagi, tapi tetap tak ada. Sepertinya obatku tertinggal di rumah Firda. "Aku gak mungkin minta Firda untuk kembali kerumahnya, Firda lagi panik dengan keadaan Neneknya." Aku memegang dada ini dengan penuh sesak. "Ya Tuhan... Beri aku kekuatan lagi." aku tekankan di dalam hati aku. "Aku pasti kuat!!" aku melangkahkan kakiku. Aku sudah mulai keluar dari mobil. "Tuh..kan! aku bisa." Aku langkahkan kakiku lagi, tiba-tiba jantung ini semakin sakit dan akhirnya aku terjatuh. Aku tak bisa berkata apapun saat itu dan pada akhirnya ada seseorang yang menghampiri aku. Aku sudah lemas. Aku tak tau dia siapa, yang pasti laki-laki. Dia menggotongku menuju rumah. Firda keluar, sepertinya dia baru sadar bahwa aku belum masuk ke rumahnya dan dia ingin menyuruhku masuk.  Aku melihat wajah Firda yang mulai panik dan ia langsung menghampiriku. "Aduh Cell kamu kenapa?" Tanyanya dengan panik. "Bantu gue gotong Celly masuk." seru lelaki itu, aku belum sempat juga melihat wajahnya.

Aku dibaringkan di Sofa. "Tolong ambilin minum Fir." Pinta lelaki itu, aku menutup mataku untuk menahan rasa sakit ini. Dan aku belum juga melihat wajahnya. "Cell minum obatnya ya." aku mencoba membuka mataku dan wajah lelaki itu mulai terlihat. "Dimas?" Tanyaku lirih. "Udah jangan banyak ngomong dulu, minum nih obatnya." ujar Dimas. Aku membuka mulutku dan menelan obat itu dengan segelas air yang telah diambilkan oleh Firda. Setelah minum obat, aku masih tergeletak lemah di atas Sofa. Aku memejamkan mataku. Saat aku ingin tidur aku teringat kenapa Dimas ada disini? Akhirnya aku bangun kembali dan menarik tangan Dimas yang saat itu bangkit dari posisinya di samping Sofa. "Dimas! Kamu kenapa bisa ada disini?" itu pertanyaan yang aku lontarkan pertama kali. "Aku selalu ada dimana pun kamu pergi. Kamu pasti masih ingatkan dengan janjiku?" Jawabnya. Aku masih terdiam. Mengingat semua hal buruk yang sering aku lakukan kepada Dimas, banyak sekali kata-kata kasar yang sering aku ucapkan kepadanya, dan saat ini aku tersentuh dengan ucapannya. Dimas orang yang sering aku caci maki, orang yang sering aku panggil cowok kasar yang gak punya hati. Ternyata punya hati setulus ini untuk aku? Saat ini aku hanya bisa menyesali perbuatanku. Aku hanya bisa terdiam memandang wajah Dimas yang penuh lelah dan panik. Aku sadar, bahwa aku memang sangat berarti untuknya. Semua yang ia lakukan, meskipun kasar dan memaksa itu karena... Cinta. Cinta yang penuh rasa sayang, bisa membuat semua orang bertindak seenaknya untuk bisa melindungi cintanya itu. "Dimas...." panggilku sedikit tertahan. Aku fikir, memang hanya dia yang bisa melindungiku. "Dimas.. Tolong jelasin ke aku dengan jelas. Kenapa kamu bisa ada disini? Membawa obat ini dan kenal dengan Firda?" tiga pertanyaan aku lontarkan kepadanya. Dimas menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya sambil tersenyum kepadaku "Aku gak akan mungkin biarin kamu sendirian. Pas kamu melarangku untuk ikut. Aku memang hanya diam, karena aku sudah tau nomor Firda. Aku telfon Firda, dan aku udah tau alamat rumah Firda. 2 jam setelah kamu pergi, aku pergi ke alamat rumah Firda. Dan saat aku sampai, kamu gak ada di rumah. Dan saat aku coba membuka pintu, pintunya ternyata gak dikunci..." Penjelasan Dimas terpotong dengan pertanyaan Firda. "Ha? Gak dikunci? Terus kuncinya mana?" Tanya Firda kaget. Dimas memberikan kunci rumah Firda kepada Firda. "Aduh untung aja! Kalo gak ada lo, bisa-bisa rumah gue digondol maling! Thanks ya." Firda bersyukur. "Iya sama-sama. Itu kebetulan aja kok." ujar Dimas sambil tersenyum. "Terus kayak gimana lagi Dim?" tanyaku penasaran. "Emang tadi sampe mana?" Dimas menggaruk kepalanya. "Sampe pintu gak di kunci." Jawabku. "Oh.. Iya jadi pintu gak di kunci. Aku masuk deh. Terus aku masuk ke suatu kamar dan saat itu aku liat obat kamu. Aku tau, saat itu waktunya kamu minum obat. Aku langsung ambil obat kamu, keluar rumah dan kunci. Aku tanya ke tetangga, dan dia tau kalian pada pergi kemana.." penjelasan Dimas terpotong lagi oleh Firda. "Oh iya, gue soalnya tadi udah sempet bilang nitip rumah ke Ibu Basuki karena Nenek gue jatuh dari kamar mandi." ujarnya. "Yaudah deh aku langsung ke alamat yang dikasih Ibu itu dan ternyata bener, kamu udah tergeletak di jalan. Kamu jangan pernah jauh-jauh dari aku lagi ya?" pintanya. Aku terkejut dengan semua penjelasan Dimas. Ternyata pengorbanan dia sampai sejauh ini? "Dimas.. Makasih ya untuk semuanya. Aku minta maaf banget karena selama ini udah acuh sama kamu." tanpa sadar aku meneteskan air mataku. Dimas menghapus air mataku dengan lembut. "Kamu gak perlu minta maaf, harusnya aku yang minta maaf. Karena selama ini aku selalu paksain perasaan aku ke kamu dan sekarang aku sadar, cinta sampai kapanpun gak akan pernah bisa dipaksain." ujarnya. Aku semakin tersentuh dengan ucapannya. "Aku... Aku mau kok belajar mencintai kamu." ucapku gugup. Wajah Dimas terlihat sangat kaget. "Kamu yakin kan? Atau kamu masih gak sadar ya?" Dimas tampak tak percaya. "Aku seriusan kok." ujarku meyakinkan. "Makasih ya Cell, aku seneng banget kamu ngomong kayak gini." wajah Dimas terlihat senang sekali. Mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membalas semua perhatiannya selama ini kepadaku. Tapi aku benar sungguh-sungguh mau belajar mencintai Dimas. "Ehemm ada orang nih disini." Firda menghancurkan suasana yang sempat hening. Aku hanya tersenyum dan bangkit dari baringku. "Fir Nenek kamu gimana?" Tanyaku. "Lagi diurut. Alhamdulillah gak begitu parah." Jelasnya. Kami menjenguk Nenek Firda di kamarnya. Kami sempat berbincang-bincang dengan Neneknya Firda.
Ternyata Neneknya sangat ramah dan humoris, pantas saja Firda sangat menyayangi Neneknya itu.
"Nanti malam ke tanjakan Bukit Gronggong yuk! Pemandang kota Cirebon keren banget loh kalo dilihat dari sana! Terus ada jagung bakar yang ena
ak banget!" Ajak Firda. "Wow seru tuh! Yaudah yuk!" Aku sangat semangat mendengar ajakan Firda. Dimas hanya tersenyum dan terus menggenggam tanganku. Genggamannya sudah tak sekasar dulu, aku senang Dimas sudah tau bagaimana caranya menggenggam tangan wanita dengan benar dan aku suka.

Sekitar pukul 7 malam. Aku, Dimas dan Firda. Pergi ke tanjakan Bukit Gronggong. Suasananya cukup ramai, banyak sekali pasangan muda-mudi yang berpacaran disana. Suasananya memang sangat romantis untuk pasangan kekasih. Firda memesankan tiga jagung bakar, satu gelas kopi, dan dua gelas teh hangat. Lampu-lampu kota Cirebon terlihat sangat indah saat dipadukan dengan gelapnya malam. Udara yang sangat dingin mampu dikalahkan dengan hangatnya jagung bakar, segelas teh hangat dan kehangatan kebersamaan aku dengan Dimas dan sahabatku, Firda. Pesanan kami pun datang dan kita memakannya dengan penuh kebersamaan. Jagung Bakar di tanjakan Bukit Gronggong ini gak akan pernah aku lupakan. Harganya yang murah tapi sangat memuaskan. hanya dengan harga 2500 ini aku bisa merasakan kenikmatan. Tanpa lupa aku mengabadikan moment ini. 1 cerita lagi yang sudah aku abadikan dengan oldcam. Penuh cinta dan kehangatan. Malam ini terjadi sangat singkat, sekitar jam 11 malam kami bertiga pulang menuju rumah Nenek Firda. Dimas malam ini menginap di rumah Nenek Firda.


“Cell bangun Cell…” Firda menggoyang-goyangkan tubuhku yang masih tergeletak di kasur yang empuk ini. “Fir… Masih ngantuk banget nih…” ujarku dengan mata yang masih tertutup. Cuacanya yang sangat dingin dan sejuk membuat aku susah bangun. Biasanya di Jakarta aku selalu bangun pagi. Karena Firda tak henti-hentinya menggoyangkan tubuhku dan memanggil-manggil namaku. Akhirnya aku bangun, meski rasanya masih ingin aku tidur lebih lama lagi. “Cell bangunin si Dimas gih! Aku gak enak tau, keliatannya dia pules banget tidurnya.” Ujarnya . “Kamu fikir aku gak pules ya tidurnya?” ucapku menantang. “Heeee sorry kalo ngebangunin  kamu kan aku berani, lagian sekarang udah pagi loh! Mending kita jogging sambil foto-foto.” Mendengar kata foto-foto aku langsung semangat dan keluar dari kamar untuk membangunkan Dimas.
Jujur, aku pun tak begitu berani membangunkannya, Tapi mau gimana lagi? Waktu terus berjalan dan Matahari akan segera keluar. Aku melangkahkan kakiku perlahan, aku menyentuh tangannya. “Dim… Bangun” ucapku selembut mungkin. Benar kata Firda, tidur Dimas sangat pulas. “Dim…” ucapku sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan tangan Dimas. Dimas mulai bergerak, aku pun tersenyum. “Akhirnya bangun juga..” ujarku. “Hmm Cell aku sayang banget sama kamu, Cell kamu jangan pernah jauh-jauh dari aku ya.” aku cukup terkejut dengan ucapannya. Ternyata dia ngelindur, berarti dia lagi mimpiin aku dong? Ya ampun Dimas sampai segitunya. Firda yang mendengar linduran Dimas malah tertawa ngekek. “Dim…. Bangun!” ucapku dengan nada keras. Dimas pun bangun dari tidurnya. “Eh Celly, ada apa Cell?” Tanyanya. “Ada apa? Bangun Dim udah pagi….” Ujarku sedikit tertawa. “Oh iyaiya…” Dimas beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian Dimas keluar lagi “Airnya dingin banget ya? Gak jadi mandi deh!” ujarnya. “Haha disini emang dingin banget Dim.” Ujar Firda. “Iya makanya mandinya nanti siang aja, mending sekarang kita ke Bukit Gronngong!” ajakku saat ingat dengan ajakan Firda saat ingin membangunkanku. “Oh iya..Yuk kita ke sana! Pemandangannya keren banget loh!” kami bertiga langsung bersiap-siap untuk jogging dan melawan dinginnya pagi. 

Aku, Firda dan Dimas pergi ke Bukit Gronggong sekitar jam 6 pagi. Aku dengan Oldcam semangat mengabadikan moment-moment yang indah ini, mengabadikan lengkungan senyum Firda, senyumku dan senyum  Dimas. Paparan sawah yang hijau, kesejukan pagi hari ini tak terlalu menusuk jantungku, karena cinta telah membuat aku gak takut lagi dengan yang namanya dingin dan karena cinta aku gak akan lari lagi jika hujan membasahi tubuhku. karena pelukanmu bisa menghangatkan seluruh jiwaku. "Dimas, aku menyesal..." ujarku. "Menyesal untuk apa?" tanyanya. "Menyesal karena aku terlambat jatuh cinta sama kamu.." mendengar ucapanku Dimas langsung memelukku. Aku gak akan pernah takut kedinginan lagi, karena Dimas akan selalu ada untukku. Dimas aku gak nyangka detik ini, di kedinginan pagi ini dan dipelukan ini. Aku resmi jatuh cinta sama kamu. Aku akan lebih semangat melanjutkan hidupku, karena sekarang aku punya dua obat yang bisa mengalahkan musuh bubuyutanku ini, kamu dan satu botol obat yang selalu aku bawa kemana pun aku pergi. Jika dulu mencintaimu adalah hal yang  mustahil bagiku, tapi sekarang mencintaimu adalah hal yang gak akan pernah bisa aku hindari. "Hey, aku fotoin kalian ya?!" teriak Firda yang sudah siap dengan oldcam. Aku dan Dimas melepaskan pelukan kami, lalu berpose dengan senyum dan kebahagiaan yang sederhana ini. 1 Foto lagi yang bisa mengabadikan kebahagiaan aku dan Dimas, dan foto ini akan menceritakan cerita yang indah, romantis dan akan selalu membuat aku tersenyum saat melihatnya "For me, every picture tells a story."