"Gue
pesen nasi goreng!!" Teriak Maura dari bangku kantin
"Gue mie ayam
ya!!" Teriak Nuno.
"SipSip" Ujar Tristan.
Mereka bertiga adalah
sahabat yang aneh bin kocak. Maura yang banyak bergaul dengan kedua cowok itu
menjadikan dirinya seperti cowok, alias tomboy. Tapi wajah cantiknya dan imut
tetap terlihat meskipun ia selalu memakai celana kecuali ke sekolah. Nuno
kapten basket sekolah dan pastinya PlayBoy itu sangat digemari banyak cewek di
sekolah, banyak sekali yang iri dengan Maura karena bisa berteman dengan Nuno,
tapi Maura merasa biasa saja. Dan yang Terakhir Tristan, dia cowok yang
tampan,tukang ngelawak,dan postur tubuhnya yang besar tinggi membuat dia tampak
gagah, orangtuanya mempunyai kantin di sekolah yang dikelola oleh pegawainya,
tapi untuk melayani Maura dan Nuno, Tristan yang melayani sendiri. "Ini
pesenan lo pesek" Tristan menyajikan nasi goreng kepada Maura. "Dan
ini pesenan lo cungkring" Semangkuk mie ayam diberikan kepada Nuno.
"Akhirnya tugas gue selesaai" Tristan langsung duduk di bangku kantin
dan menarik nafas panjang. "Thanks Tristan" Ujar Maura dan Nuno
serempak sambil tersenyum lebar. "Iya, eh lain kali mending lo berdua
jajan di kantin sebelah aja, biar gue gausah repot-repot bikinin dan layanin lo
pada!" Omel Tristan. "Waaa ga boleh gitu lo, masa nolak rezeki!"
Ujar Nuno sok, padahal ia hanya berniat untuk mengerjai Tristan. "Iya Tan,
kita kan makan disini bayar" Maura melanjuti. "hmm iya deh!"
Tristan mengelap keringatnya dan menyeruput sebotol es teh. *kriiiing* mereka
bertiga mengecek HPnya masing-masing. "Yes HP gue! terbuktikan kalo gue
yang lebih laris dibanding kalian" Nuno meledek, lalu ia pergi ke tempat
sepi untuk mengangkat telponnya. "Nasih Jomblo begini deh" Tristan
mengeluh. "Kasian deh yang jomblo" Maura menjulurkan lidahnya.
"Emang lo ga jomblo apa?"
"Engga dong! gue kan single" Maura memakai topinya dan berpose.
"Halah! sama aja pesek!" Tristan menoyor kepala Maura.
♥♥♥♥
♥♥♥♥
(Malam Minggu)
"Makasih ya kalian udah mau dateng ke party gue" Ujar Siska, pacar baru Nuno. Tristan dan Maura yang dipaksa ikut ke party Siska sibuk sekali memakani makanan di meja. "Weh lo berdua makan mulu dari tadi! Gue cariin juga" Omel Nuno. "Kan lo bilang jangan nolak rezeki" Ujar Tristan sambil mengunyah sepotong bronies. "Setuju!" Maura menepuk pundak Tristan. "Ini namanya buang-buang rezeki orang!" Nuno masih ngomel "Ke sana yuk! Acara inti mau di mulai" Ajak Nuno sambil pasang muka sepet. "Iya nanti-nanti" Maura masih saja sibuk makan. "Aduh ra, ga ada niat diet apa? idung udah pesek,pipi udah tembem gitu ngemil mulu" Ledek Nuno. "Biarin aja! itukan yang bikin dia imut" Tristan menyubit pipi Maura. "Awww sakit Tan!" Maura mengelus pipinya, lalu minum dan mereka pergi menuju tempat peniupan lilin.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga" Satu ruangan ikut bernyanyi.
*prokprokprok tepung tangan memenuhi ruangan itu. Siska memotong kuenya. "Kue pertama ini, akan gue kasih ke orang yang special di hati gue,Nuno" Ucapnya dengan pipi yang merah. Nuno dengan wajah sok malu-malu menghampiri Siska dan menerima kuenya "Makasih Sayang" 1 kecupan kening diberikan kepada Siska, Siska tersenyum bahagia. Tiba-tiba ada seorang cewek menghampiri mereka "Nuno!! Lo kan cowok gue!!" Labrak cewek itu. Nuno yang tadinya berwajah bahagia menjadi panik. 1 gelas air sirup mendarat di atas kepalanya "Dasar Playboy!" Sebuah tamparan mendarat di pipinya. Wajah Siska mulai terlihat emosi melihat pengakuan Nadine teman Lesnya itu. "Lo jahat No!" tidak menampar dan tidak mengguyur Nuno, Siska berlari keluar dari ruangan dengan air mata di pipinya.
"Awwww" Jerit kecil Maura dan Tristan.
"SISKAA!!" Teriak Nuno. Nuno tak mengejar Siska karena ia merasa sangat bersalah. "Sabar No, udah sana gih lo bersihin dulu badan lo, terus kita pulang!" Ajak Maura mencoba menenangi. "Iya No, kalo cewek lagi emosi gitu dijelasin apaan juga ga akan masuk" Tristan menepuk pundak Nuno.
♥♥♥♥
(Keesokan harinya)
"Ra liat deh si Nuno udah ganti cewek aja!" Tristan menunjuk kearah taman. "Haha dasar Playboy cungkring" Maura tertawa lebar. "Kita dapet pacar susahnya minta ampun!" Keluh Tristan. "Lo aja kali, gue sih ga nyari pacar. Kalo jodoh ga akan kemanaaa" Maura sok. "Dasar pesek, masih percaya aja sama yang gituan, ga mungkin jodoh datang sendiri kalo ga di cari, lo pikir jalangkung" Kali ini giliran Tristan yang tertawa, Maura cemberut. "Bercanda ra, masa gitu aja ngambek...idung lo makin ke dalem tuh!" Tristan masih saja mengejek.
♥♥♥♥
(Di kelas)
"San lo udah belum PR fisika?" Wajah Maura terlihat panik.
"Udah, kenapa?" jawab Sandra tenang. Sandra adalah teman sebangku Maura dia anak yang cerdas beda sekali dengan Maura yang pemalas tapi kreatif. "Gue belum nih" Maura pasang wajah melas. "Yaudah nih" Sandra memberikan buku tugasnya. "Gausah San, gpp kok ini kan emang salah gue ga ngerjain" Maura sok menolak. "Yaudah" Sandra mengambil kembali bukunya. "eeeeeh" Maura menarik lagi buku Sandra "Maksa dikit kek San, biar gue ga keliatan kaya ngemis" Ujar Maura. "Haha lo mau nyontek aja pake gengsi" Sandra ngakak.
"Kabar bagus! Ibu Sinta ga masuk hari ini, dan kerjain paket halaman 36" Teriak Wisnu seksi pendidikan di kelas Maura. "Yessss! Bukunya gue bawa kerumah aja ya?" Maura nyengir. "Yaudah, eh ke kantin yuk! laper banget nih!" Ajak Sandra. "Wokee hayuuu" Maura dan Sandra pergi ke kantin. Di depan kelas *Brukk* "Aduh" Sandra kesakitan. 'Pandangan pertama awal aku berjumpa'
"Eh sorry ya" Nuno meraih tangan Sandra "Sini gue bantu berdiri" Nuno terlihat terpana oleh kecantikan Sandra yang luar biasa, kulitnya yang putih terawat,baju seragamnya yang putih bersih,dan rambutnya yang agak pirang terurai indah dengan pita di atasnya. "Iya gpp" Jawabnya singkat. Nuno masih menatap kagum Sandra. "Ekheeeem" Maura berdehem. "Gue liat ada lope-lope di matanya Nuno" Tristan ngaco. Nuno mulai tersadar saat Sandra melambaikan tangannya di depan wajah Nuno. "Oh Sorry ya"
"Iya gpp, Ra yuk ke kantin" Sandra menarik tangan Maura. "Yuk"
Saat mereka berdua jalan "Ehhh Ra!" Nuno menarik tangan Maura "Ra kenalin dong! lo punya temen cantik ga bilang-bilang" Bisik Nuno. "Nanti calm aja!" Maura lanjutkan langkahnya.
"Gue kayanya jatuh cinta" Mata Nuno menerawang dan tangannya memegang jangtungnya yang berdetak kencang.
♥♥♥♥
(Di kantin)
"Temen lo aneh ya?" Tanya Sandra sambil mengunyah snack. "Yang mana nih? Soalnya temen gue rata-rata aneh" Maura mengerutkan keningnya. "Yang tadi nabrak gue Ra" Jelas Sandra. "Oh Nuno, Iya emang aneh banget dia, tapi gitu-gitu dia idola cewek-cewek loh" Jelas Maura sambil mengaduk-ngaduk minumannya pakai sedotan. "Wajar, unyu sih mukanya" Sandra tersenyum kecil. "Tapi jujur, gue aneh loh pas liat ekspresi Nuno pas liat lo" Maura mulai serius. "Aneh gimana?" Sandra juga mulai serius membahas playboy cungkring itu. "Kaya ada something gitu, kayanya dia suka deh sama lo, hati-hati ya nanti lo dimainin sama dia, kadang-kadang dia kaya ga punya hati" Jelas Maura. "Tenang aja, cinta itu emang buta, tapi sebuta-butanya cinta, gue masih bisa bedain kok mana cowok setia mana cowok buaya" Sandra menaiki alisnya. "Bagussss!" Maura mengacungkan jempolnya.
♥♥♥♥
Maura telpon gue dong! Gue mau curhaaaaat!
"Dia yang butuh malah dia yang nyuruh telpon" Omel Maura. jarinya mulai menekan tombol untuk menelpon Nuno.
"Hallo, Ra ada apa telpon gue? kangen ya?"
"Kan lo tadi yang nyuruh gue telpon cungkring!"
"Oh iya haha"
"Curhat aposee kring?"
"Nama temen lo yang cantik itu siapa sih?"
"Yang tadi tabrakan sama lo kan? Namanya Sandra. lo suka? Seriusan apa cuma mau mainin? Yaudah nanti di sekolah aja ngebahasnya"
Baru saja menutup telpon dari Nuno, sms masuk dari Tristan.
Maura, keluar deh!
"Aduh pasti tu anak kesini, kebiasaan banget ga bilang-bilang" Maura bangkit dari tempat tidurnya lalu menuju pintu keluar. "Surpriceeee!" Tristan tersenyum lebar. "Ah udah biasa, udah ga surprice lagi!" Maura berekspresi datar dan menuju balai di depan rumahnya. "Ra kok gue ga di kasih minum?" Tristan nyengir. "Lo mau minum? ambil gih sendiri"
"Gimana sih lo, tamu itu raja loooh!"
"Hmm...terus?"
"Ambilin dong, gue juga perlakuin lo sebagai ratu, saat lo jadi pembeli di kantin gue" Ujar Tristan. "Iyaaaaa rajaa...." Maura bangun dari duduknya dan sengaja menginjak kaki Tristan. "Awww"
"Upsss sorry ga sengaja" Maura lari sambil tertawa puas.
Beberapa menit kemudian. "Ini minumannya dan ini kuenya" Maura menyuguhi di depan Tristan. "Thankss permaisuriku" Tristan tersenyum manis sok imut. "Hmmm hehe, Permaisuri ibu lo!" Maura menjewer Tristan. "Aduuh, ralat deh jadi nenek sihir" Tristan kesakitan.
"Iya! Abis lo makan makanan ini, lo langsung keracunan HAHA" Maura ketawa devil. "Jahat banget sih lo Ra! Gue jadi ngeri makan kue ini, jangan-jangan lo beneran nenek sihir yang mau ngeracunin cinderella lagi"
"Idih mooan jadi cinderella, yaudah sini gue makan!" Maura menyomot kue yang sedang di pegang Tristan. "Ehhh jangan!" Tristan mengambil lagi kue yang mau dimakan Maura. mereka berdua rebutan, dan kuenya jatuh. "Belum lima menit!" Tristan bergegas mengambil *Duggg* "Aduuuuh sakiiiit Tristaaaan" Teriak Maura. "Aduh maaf-maaf" Tristan mengusap kepala Maura. Tiba-tiba mata mereka saling beradu cukup lama 'Tristan paling bisa bikin malam insomnia gue jadi seru banget'
'Ra gue mau abisin malam gue yang insomnia ini sama lo terus'
Keduanya tersadar. "Eh haha..nih mau?" Tristan menawari kuenya. "Gausah, di dalem masih ada kok" Maura tertawa kecil.
♥♥♥♥
(Di
kantin)
Mata Nuno menerawang dan senyum-senyum, seperti sedang mengkhayalkan sesuatu, begitu pula Tristan. "Kayanya gue jauh cinta" Ujar Nuno tak sadar dan memegang tangan Tristan. "Gue juga" Tristan pun memegang tangan Nuno. Saat mereka tersadar "Ihhh ngapain lo pengang-pegang tangan gue!" Nuno tersentak. "Lo duluan kali!" Tristan pun kaget. "Lo lagi ngebayangin sesuatu juga ya?!" Tanya Nuno. "Iya, Lo emang ngebayangin apaan?" Tanya balik Tristan. "Gue kayanya lagi jatuh cinta beneran"
"Ha? emang bisa? sama siapa?" Tristan seperti tak percaya. "Sandra....." Nuno mupeng. "Paling lo cuma sesaat! lo kan gampang jatuh cinta gampang ninggalin!" Tristan meremehkan Nuno. "Gue ga pernah cinta sama cewek-cewek gue, merekanya aja yang ngarepin cinta gue, tapi kali ini gue rasain rasa yang beda Tan" Jelas Nuno yakin.
"Iya sih, gue bisa liat dari lope-lope yang ada di mata lo" Tristan mulai percaya. "GoodLuck Boy!" Tristan menepuk pundak Nuno. "Thanks brow! Ohya lo emang khayalin apaan?" Tanya Nuno.
"Gue juga kayanya lagi jatuh cinta" Kali ini Tristan yang mupeng. "Sama siapa Tan?" Nuno penasaran. "Maura..."
"Whattttttt???!" Minuman yang baru di teguknya muncrat. "Weh lo pagi-pagi udah berduaan aja!" Maura datang. Tristan menatapnya dengan tatapan yang berbeda "Kenapa lo Tan? gitu banget ngeliatnya!" Maura bingung. "Gpp" Jawabnya singkat terlihat wajah Tristan yang memerah. "No lo beneran suka sama Sandra?" Tanya Maura serius. "Iya Ra...lo mau kan bantuin guee?" Nuno memohon. "Gue takut lo mainin dia, walaupun lo sahabat gue, tapi gue ga mau ngeliat Sandra temen baik gue di mainin sama lo" Maura ragu. "Ra percaya sama gue, gue sangking tulus dan cinta sama dia makanya gue jadi gugup buat deketin dia" Nuno meyakini. "Iya Ra, gue bisa liat ketulusan si Nuno" Tristan mulai berbicara. "Hmm...Oke deh, tapi masalahnya dia udah tau kalo lo playboy" Maura menggigit bibirnya. "Wah kacau dong!" Tristan mulai ikut membahas topik pembicaraan. "Gue bakal lakuin apapun buat yakinin dia, tapi lo bantu juga biar dia tambah yakin" Nuno mantap. "Siiip deh!" Maura mengangkat jempolnya dan menyeruput minuman Nuno.
Mata Nuno menerawang dan senyum-senyum, seperti sedang mengkhayalkan sesuatu, begitu pula Tristan. "Kayanya gue jauh cinta" Ujar Nuno tak sadar dan memegang tangan Tristan. "Gue juga" Tristan pun memegang tangan Nuno. Saat mereka tersadar "Ihhh ngapain lo pengang-pegang tangan gue!" Nuno tersentak. "Lo duluan kali!" Tristan pun kaget. "Lo lagi ngebayangin sesuatu juga ya?!" Tanya Nuno. "Iya, Lo emang ngebayangin apaan?" Tanya balik Tristan. "Gue kayanya lagi jatuh cinta beneran"
"Ha? emang bisa? sama siapa?" Tristan seperti tak percaya. "Sandra....." Nuno mupeng. "Paling lo cuma sesaat! lo kan gampang jatuh cinta gampang ninggalin!" Tristan meremehkan Nuno. "Gue ga pernah cinta sama cewek-cewek gue, merekanya aja yang ngarepin cinta gue, tapi kali ini gue rasain rasa yang beda Tan" Jelas Nuno yakin.
"Iya sih, gue bisa liat dari lope-lope yang ada di mata lo" Tristan mulai percaya. "GoodLuck Boy!" Tristan menepuk pundak Nuno. "Thanks brow! Ohya lo emang khayalin apaan?" Tanya Nuno.
"Gue juga kayanya lagi jatuh cinta" Kali ini Tristan yang mupeng. "Sama siapa Tan?" Nuno penasaran. "Maura..."
"Whattttttt???!" Minuman yang baru di teguknya muncrat. "Weh lo pagi-pagi udah berduaan aja!" Maura datang. Tristan menatapnya dengan tatapan yang berbeda "Kenapa lo Tan? gitu banget ngeliatnya!" Maura bingung. "Gpp" Jawabnya singkat terlihat wajah Tristan yang memerah. "No lo beneran suka sama Sandra?" Tanya Maura serius. "Iya Ra...lo mau kan bantuin guee?" Nuno memohon. "Gue takut lo mainin dia, walaupun lo sahabat gue, tapi gue ga mau ngeliat Sandra temen baik gue di mainin sama lo" Maura ragu. "Ra percaya sama gue, gue sangking tulus dan cinta sama dia makanya gue jadi gugup buat deketin dia" Nuno meyakini. "Iya Ra, gue bisa liat ketulusan si Nuno" Tristan mulai berbicara. "Hmm...Oke deh, tapi masalahnya dia udah tau kalo lo playboy" Maura menggigit bibirnya. "Wah kacau dong!" Tristan mulai ikut membahas topik pembicaraan. "Gue bakal lakuin apapun buat yakinin dia, tapi lo bantu juga biar dia tambah yakin" Nuno mantap. "Siiip deh!" Maura mengangkat jempolnya dan menyeruput minuman Nuno.
♥♥♥♥
Hari ini. Nuno, Tristan, Maura dan Sandra janjian nonton bareng. Maura bilang ke Sandra bahwa mereka hanya berdua. Tapi ini memang bagian dari rencana mereka agar Nuno bisa PDKT dengan Sandra, seenganya kenalan dan ngobrol.
"Ra kok ada temen-temen lo sih?" Sandra berbisik sambil mencubit tangan Maura. "Gatau deh, gue ga janjian sama mereka" Jelas Maura dengan berbisik. "Eh Ra lo kesini juga?" Nuno sok kaget. "Iya, yaudah kita nonton bareng aja yuk! belum beli tiket kan?" Tanya Maura. "Belum, nih gue baru mau beli" jawab Tristan. "Yaudah belih gih!" Seru Maura. "Oke!" Tristan pergi membeli tiket.
Film sudah dimulai, mereka memesan bangku 4. urutannya Tristan,Maura,Nuno dan Sandra. Sengaja Sandra mendapat bangku yang bersebelahan dengan Nuno. Saat film diputar, sesekali Nuno mengajak ngobrol Sandra, dan Sandra pun merespon. Bahkan mereka sempat tertawa bersama. "Kayanya mereka udah mulai akrab" Bisik Tristan. Maura mengangguk sambil tersenyum bahagia.
"Aduh leper nih" Keluh Nuno saat keluar dari gedung bioskop. "Yaudah makan yuk!" Ajak Tristan. Mereka pun menuju tempat makan di solaria lantai bawah. "Eh gue lupa mau beli buku!" Tristan menepuk jidatnya. "Gue juga ada yang mau dibeli, sama gue yuk!" Ajak Maura. "Yuk! Yaudah kalian berdua duluan aja, nanti gue sama maura nyusul" Jelas Tristan. Sandra mulai panik, ia merasa belum nyaman pergi berdua dengan Nuno. "Gue ikut" Teriak Sandra, semuanya kaget mendengar permintaan Sandra. "Eh gausah, kasian si Nuno sendirian, kan gaenak San" Ucap Maura cepat. "Yaudah byeee!" Tristan bergegas meninggalkan mereka dan menarik tangan Maura.
"Kenapa San? udah nyantai aja" Nuno memulai pembicaraan. Mereka berdua pun jalan menuju Solaria.
"Mau pesen apa?" tanya Nuno sambil membolak balik buku menu. "Nasi goreng udang sama minumnya ice tea" pesan Sandra tanpa melihat buku menu, karena itu makanan yang selalu dipesannya jika makan di Solaria. "Oke, nasi goreng udang dua porsi dan ice tea dua" Nuno memesan makanan yang sama dengan Sandra.
"Tan emang lo mau beli buku?" tanya Maura. "Engga, kemarenkan gue udah beli komik conan edisi terbaru" Tristan nyengir. "Gue apalagi, gasuka baca!!" Mereka bingung mau pergi kemana. "Duduk disana aja yuk!" Tristan menunjuk bangku di depan gramedia. Mereka berdua sepakat untuk duduk disana beberapa saat. "Kalo nanti Nuno sama Sandra jadian, kita bener-bener sendirian dong" Ujar Tristan sambil menunduk. "Maksudnya?" Maura bingung. "Iya, Nuno kan udah pilih Sandra sebagai cewek yang bener-bener dia cinta, berarti kalo mereka pacaran, mereka akan lebih lama, mungkin bakal serius" Tristan menarik nafas. "Terus?" Maura memerhatikan raut wajah Tristan. "Ya Nuno kan sahabat gue dan Sandra sahabat lo, kalo mereka jadian waktu mereka buat kita jadi berkurang" Jelas Tristan. "Ooooo jadi lo takut kehilangan Nuno?" Maura tertawa. "Bukan!" Tristan segera membantah. "Terus apa yang lo takutin?" Tanya Maura sambil menahan tawa. "Kita pasti bakal kesepian, dan ujungnya pasti nanti kita selalu berdua, gimana kalo kita pacaran aja, lo sama gue, Nuno sama Sandra" Ujarnya, Maura tertawa menganggap bahwa Tristan hanya bercanda, tapi wajah Tristan terlihat serius. "Lo bercandakan?" Tanya Maura sambil menepuk pundak Tristan. Tristan meraih tangan Maura yang ada dipundaknya "Gue serius, gue suka sama lo dari dulu Ra" Tristan menggenggam tangan Maura. Maura melepaskan genggaman Tristan dengan cepat, wajahnya memucat. "Gue lebih pengen, kita temenan biasa aja kaya gini" Maura menatap mata Tristan sambil memberi senyuman bahwa ia takkan marah dengan pengakuan Tristan. "Yaudah yuk kita nyusul Nuno sama Sandra" Maura berusaha untuk bersikap biasa. Tristan mengangguk namun masih terlihat kekecewaan di wajahnya.
"Eh kemana aja? kok lama banget?" Sandra langsung menyambut Maura dan Tristan dengan pertanyaan, itu membuktikan bahwa dia sangat mengharapkan kedatangan mereka. "Tadi kasirnya rame banget, jadi ngantri deh" Jelas Maura dan mereka langsung mengambil posisi duduk. "Mba, Aku mau pesen dong!" Ujar Maura sambil melambaikan tangan saat pelayan melewati tempat duduk mereka.
♥♥♥♥
"Aduuh...gue ga nyangka banget kalo Tristan bisa ngomong kaya tadi" Maura memeluk bantal berbentuk emotion smile. "Aaaaaaa GALAU!"
♥♥♥♥
(Di
Sekolah)
"Tumben No berangkat pagi" Sapa Tristan saat bertemu di parkiran. "Iya dong! Gue kan udah ga sabar pengen ketemu Sandra" Nuno tersenyum lebar. "No, gue mau cerita" Ujar Tristan serius. "Cerita apa?"
"Kemarin gue udah nyatain perasaan ke Maura" Jelasnya dengan nada berat. "Terus dia bilang apa Tan?" Nuno penasaran. "Dia bilang, dia maunya jadi temen aja" Wajah Tristan terlihat kecewa. "Beeeeh Tan sakit banget itu mah!" Nuno menepuk pundak Tristan "Sabar ya Tan! Ini saatnya lo kejar cinta dia!"
"Maksud lo gue deketin dia terus?" Tanya Tristan. "Iya Tan! Cewek tuh suka kalo diperjuangin, gue yakin setomboy-tomboynya Maura, pasti hatinya tetep cewek banget, pasti dia bisa luluh!" Nuno meyakinkan Tristan. "Oke! Gue bakal perjuangin dia!" Tristan mengepal tangannya tanda ia mulai semangat.
♥♥♥♥
"Cieee...ada yang lagi happy nih" Goda Maura. "Apaan sih lo" Pipi Sandra memerah. "Pasti lagi BMan sama Nuno ya?" Maura melirik layar BB Sandra. "Eitsss kepo deh liat-liat" Sandra menjauhkan BBnya dari jangkauan Maura. "Jangan rahasia-rahasiaan deh sama gue, gue kan temennya Nuno, gimana nih lo sama dia?" Maura terseyum jail. "Enak sih dia anaknya, tapikan lo bilang kalo dia Playboy. Nah dari situ gue masih kurang yakin" Sandra memangku dagunya. "Lo pernah kan denger cerita Playboy jatuh cinta?" Tanya Maura. "Hmmm pernah" Sandra mengangguk. "Nah itu yang lagi dialamin sama Nuno, gue kenal dia udah lama San, dan baru kali ini gue ngeliat dia bersikap kaya gitu sama cewek, gue yakin dia serius sama lo" Jelas Maura meyakini Sandra. "Hmm...Masasih Ra? Aduuh jadi berbunga-bunga nih hati gue" Sandra memegang dadanya "Aduh lebay banget sih gue!" Gerutu Sandra. "Haha wajar, cinta kan emang bikin kita jadi lebay" Maura tertawa kecil. "Oh iya, lo kenal sama Tristan udah lama?" Tanya Sandra tiba-tiba. "Iya, gue kenal sama dia kaya gue kenal sama Nuno" Jelas Maura. "Gue liat, kayanya Tristan suka deh sama lo" Mendengar ucapan Sandra, Maura terlihat kaget. Memang itu yang mau dia ceritakan ke Sandra. Maura menarik nafas "Iya lo bener San" Jawabnya singkat. "Ohya? Dia pernah bilang sama lo?" Sandra penasaran. "Iya, kemarin pas gue ke toko buku sama dia"
"Waw...Terus lo bilang apa?" Tanya Sandra lagi. "Gue bilang, gue mau jadi temen aja" Maura tertunduk. "Kok lo keliatan kaya nyesel sih? lo suka juga sama dia?"
Maura diam sejenak. "Gue gatau San"
"Gue bisa liat ada cinta juga dimata lo, gue yakin pasti ada rasa yang sama antara lo sama Tristan, tapi mungkin lo masih ragu" Sandra terlihat yakin. 'Lo bener san gue masih ragu sama perasaan gue,tapi semenjak Tristan bilang gitu, gue jadi mikirin dia terus' Batin Maura.
♥♥♥♥
Sudah 2 minggu Sandra dan Nuno dekat, sering jalan bareng dan malam ini, malam minggu Nuno mengajak Sandra untuk dinner di sebuah restoran mewah. Sandra mempersiapkan tampilan yang luar biasa cantiknya, gaun pink yang simple tapi manis, rambutnya yang diurai ikal membuat dia terlihat anggun sekali. Diluar sana Nuno sudah menunggu bidadarinya keluar. "Aduh kok gue jadi degdegan gini sih?" Terlihat kucuran keringat yang keluar dari dahinya dan sesekali ia mengelap dengan sapu tangan yang dibawanya. "Maaf ya No lama" Suara itu terdengar dibelakangnya, Nuno segera menengok dan terlihat didepannya seorang gadis yang dia cintai. "Lo cantik banget San" Ujarnya sepontan. "Makasih" Sandra tersenyum manis sekali. "Ini bunga buat lo" Nuno menyodorkan bung yang sedari tadi di genggamnya. "Wah makasih ya, lo cowok pertama yang ngasih gue bunga" Sandra mencium serangkai bunga mawar berwana putih "Harum" Ujarnya. Nuno tersenyum bahagia.
Keduanya pun melangkah menuju mobil yang sedaritadi sudah menunggu kedatangan mereka. Nuno membukakan pintu untuk Sandra "Makasih" Nuno mengannguk, senyum dibibirnya tak pernah terlepas sedetikpun. Nuno memasuki mobil, dan mobil itupun melaju.
♥♥♥♥
"Nuno pasti sukses malam ini, enak banget sih jadi dia, selalu bisa depetin cewek yang dia mau" Gumam Tristan sambil menatap langit-langit kamarnya. "Kira-kira Maura lagi ngapain ya? udah lama gue ga kerumah dia" Tristan membuka phonebooknya dan mencari nama Maura. "Telpon ga ya?? telpon deh!" Tristan menekan tombol "call". Tristan menunggu beberapa detik "Hallo?" Terdengar suara Maura dari pesawat telpon tersebut, Tristan tak berbicara apa-apa dan langsung mematikan telponnya "Aduh kok jadi speechles gini sih" Keluh Tristan merasa menyesal telah menutup telpon itu tiba-tiba. "Maaf Ra, gue terlalu cinta sama lo. Gabisa cuma jadi temen biasa" Ujarnya menerawang.
♥♥♥♥
"Aneh banget sih Tristan, apa mungkin tadi kepencet ya?" Maura terlihat penasaran. "Sms aja apa ya? hmm..."
Akhirnya Maura memutuskan untuk mengirimkan SMS ke Tristan.
'Dasar Cumi, wleee:p"
"Mauraaaa?? yesyessss!" Tristan segera membalas SMSnya. 'Lagi diamana Ra? gue kerumah lo ya?'
Tristan tampak gugup, dia penasaran dengan jawaban Maura. Handphonenya berbunyi lagi.
'Dirumah. Oke, kebetulan nyokap bikin martabak kesukaan lo tuh!'
Tristan loncat dari tempat tidurnya, berganti pakaian dan berlari keluar rumah, menaiki motornya. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. "I'm coming Mauraaaa" Tristan terlihat tak sabar ingin segera sampai ke rumah Maura. Tiba-tiba terdengar suara benturan kencang dari seberang jalan. Tristan menghentikan motornya dan melihat dari kejauhan. Ternyata ada kejadian kecelakaan Truk dengan mobil avanza hitam. Tristan ingin kesana tapi dia sudah tak sabar ingin kerumah Maura. Dan akhirnya ia memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan kerumah Maura.
Sampai disana, Tristan langsung menuju taman di belakang rumah Maura. Dan benar saja Maura sudah duduk manis di balai. "Mana nih martabaknya?" Tristan nyengir. "Nih, udah gue siapin semuanya" Maura menunjuk sepiring martabak keju kesukaan Tristan. "Waaa makasih ya!" Tristan langsung menyomot martabaknya. "Enak?"
"Pasti dong, bikinan nyokap looo" Tristan tertawa kecil. "Tapi gue juga ikut bantu loh" Maura ikut tertawa. "Wah pantes aja rasanya itu tambah enak Ra" Tristan memuji, wajah Maura terasa panas dan memerah. "Ra taukan kalo Nuno malem ini mau nembak Sandra" Tanya Tristan. "Iya tau, barusan Sandra sms, dia seneng banget katanya bisa dinner bareng Nuno malem ini" Jelasnya. "Mungkin mereka udah jadian kali ya?"
"Kayanya belum deh, soalnya Sandra belum sms gue"
"Mungkin dia ga sempet kali, sangking senengnya" Tristan tertawa. "Iya kali ya" Maura tertawa, Tristan menatap matanya lekat. Tiba-tiba suasana menjadi hening. Mata mereka saling bertemu. "Gue masih suka sama lo, lo mau ga jadi pacar gue?" Ucapan itu membuat wajah maura pucat seketika. "Lo kenapa? maaf ya Ra, gue tau lo ga akan bisa suka sama gue" Tristan tertunduk. "Engga kok, gue juga suka sama lo, dari kemarin malah, cuma gue masih bingung aja" Maura tersenyum, terlihat sekali raut wajahnya yang malu. "Yang bener? berarti lo mau dong jadi pacar gue?" Tristan terlihat mulai tersenyum tak menyangka. Maura mengangguk "iya" Tristan langsung memeluk Maura, Maura memejamkan mata serasa menikmati kehangatan pelukan Tristan, orang yang ia cintai. Pelukan itu merenggang saat terdengar bunyi handphone Tristan. "Mama? hmm nanti dulu ya Ra" Tristan mengangkat telponnya. "Hallo Ma? Lagi dirumah Maura. Hah? Nuno kecelakaan??" Mendengar itu Maura berdiri menghampiri Tristan. Tristan segera menutup telponnya. "Ra Nuno kecelakaan, sekarang udah di bawa ke RS" Jelas Tristan cepat. "Yaudah ayo kita kesana!" Maura terlihat cemas.
Mereka berdua segera menuju ke Rumah Sakit. Sampai disana Tristan melihat Mamanya sedang memeluk Mamanya Nuno. "Ma Nuno mana?" Tanya Tristan. "Di UGD, dia pendarahan" jelas Mama Tristan. "Sandra?" Tanya Maura. "Dia meninggal di tempat kejadian" Jelas Mama Tristan. "Inalillahi" Maura tertunduk ia meneteskan airmata. "Sandra" ucapnya lirih. "Ma, Nuno kecelakaan dimana?" Tanya Tristan. "Ga jauh dari Rumah Sakit ini" Jelas Mamanya. Wajah Tristan berubah,ia ikut tertunduk "Ini salah gue! Aturan tadi pas gue ngeliat ada kecelakaan itu,gue turun buat bantu Nuno" Ujarnya dengan penuh rasa bersalah. "Lo liat kecelakaan itu?" Tanya Maura. "Iya, pas gue ke rumah lo dijalan gue ngeliat ada kecelakaan, awalnya gue mau liat ke TKP tapi gue udah ga sabar mau ketemu lo, akhirnya gue tetep lanjutin perjalanan" Tristan meneteskan air matanya. "Bukan salah lo kok, kan lo gatau kalo didalam mobil itu Nuno sama Sandra" Maura mencoba menenangkan "Kita liat jenazah Sandra yuk" Ajak Maura perlahan.
Tiga hari kemudian. "Dok Nuno sadar" Teriak Mama Nuno. Maura dan Tristan terbangun. Dokter datang dan memeriksa Nuno. "Mah Nuno diamana?" Tanya Nuno lemah. "Kamu di Rumah Sakit sayang, tiga hari yang lalu kamu mengalami kecelakaan" Jelas Mama Nuno penuh haru. "Sandra mana mah?" Tanya Nuno panik. Semua orang terdiam diruangan itu. Maura hanya bisa menangis. "Ra Sandra mana?" Tanya Nuno lagi. "Jawab Ra!" Bentak Nuno. "Sandra meninggal di tempat kejadian No" Ujarnya lirih. Nuno mencoba bangun dari tempat tidurnya, semua orang menahannya. "Nuno gue tau rasanya pasti sakit banget, tapi ini udah takdir. Lo relain Sandra ya" Maura terisak. Tristan dan Maura memeluk Nuno. "Gue belum nyatain perasaan gue ke dia Ra" Ujarnya dengan penuh tangis. "Gue yakin dia udah tau perasaan lo, dan dia bilang, dia seneng banget bisa di ajak dinner sama lo" Jelas Maura, Air matanya tak berhenti mengalir.
Hari itu juga Nuno minta untuk diantar ke makam Sandra. Maura dan Tristan mengantarkannya.
Bunga-bunga di taburkan oleh Nuno "Sandra, maafin gue. Gara-gara gue lo jadi pergi secepat ini, Gue sayang banget sama lo San. Andaikan semua ini ga terjadi, andaikan malam itu gue ga ngajak lo dinner, gue ga nyetir mobil itu dengan ngebut. Pasti sekarang lo masih ada San" Nuno menggenggam tanah kuburan Sandra, meremasnya. Terlihat sekali penyesalan yang amat dalam di diri Nuno. "No, ini semua bukan salah lo. Ini semua takdir tuhan No" Tristan merangkul tubuh sahabatnya itu. "Iya No, Sandra akan tetep pergi malam itu,walaupun lo ga ngajak dia dinner,ini udah jalan hidup Sandra No" Jelas Maura. Nuno hanya terdiam dan air matanya terus menetes membasahi pipinya. "Sandra, lo yang tenang disana ya. tetep tersenyum untuk gue, gue juga akan tersenyum menghapus air mata gue, gue tau lo ga akan bahagia kalo ngeliat gue nangis kaya gini. Meskipun mawar putih sudah menjadi merah dengan darah lo, dan hitam dengan kabut duka gue. Tapi gue akan selalu sayang, cinta dan mengenang lo dihati gue"