Thankyou for coming :)

Sabtu, 15 Desember 2012

Selamat Tinggal Masa Lalu #Part2

"Aku kira Bali bisa jadi tempat berakhirnya kenangan ini. Tapi ternyata, keindahan Bali tak mampu untuk mengalahkan keindahanmu dihatiku. Kamu masih jadi yang terindah di hati ini, meski pun kamu telah menyakiti hatiku. Kenapa 2 kata itu hanya mudah untuk aku ungkapkan saja? Kenapa sangat sulit untuk aku lakukan? "Move On"
Apa waktu 1 Bulan tidak cukup untuk aku bisa melupakan kenangan ini? Apa perlu waktuku seumur hidup untuk aku bisa melupakan semua kenangan yang telah terjalin selama 3 tahun? Apa benar kata Amira, cuma orang yang amnesia yang bisa melupakan kenangan yang terjalin selama 3 Tahun dengan cepat? Ya Tuhan, Engkau yang telah mempertemukan aku dan dia, Engkau yang telah memperkenalkan cinta ini kepada ku dan dia. Jika ini saatnya aku dan dia dipisahkan, pisahkanlah juga aku dengan semua kenangan tentangnya. Hilangkanlah rasa sakit ini, karena aku percaya cinta adalah anugerah yang indah yang telah Engkau berikan untuk aku dan dia." Air mata Alya menetes lagi untuk ke sekian kalinya. Pagi-pagi sekali, saat Ia baru terbangun dari mimpi yang tak seindah biasanya. Mimpi buruk yang mengingatkan Alya dengan detik-detik kata "Putus" yang terucap dari mulut Dika. "Sampai kapan aku pasrah dengan keadaan yang menyakitkan ini? Sampai kapan aku dikendalikan dengan emosiku sendiri? Rasanya aku ingin sekali memberontak, memberontak dari segala hal yang telah menyakiti hatiku, tapi aku tak sanggup." Alya membuka jendela kamarnya, menikmati hembusan angin pagi yang sejuk, yang terasa masih sama, di tempat yang sama, hanya sekarang, Ia merasa dirinyalah yang berbeda. "Andaikan, semua yang ada didunia ini abadi, keindahan yang abadi pasti takkan pernah bisa berubah menjadi kesedihan. Ya Tuhan... Aku ingin hidup abadi didalam kebahagiaan, bukan hidup abadi didalam kesedihan dan air mata." Alya teringat oleh kenangan fisik yang telah Ia simpan di laci kamarnya. Alya membuka lacinya, mengambil semua barang-barang pemberian Dika, dan foto-foto dari berjuta moment-moment yang telah mereka abadikan. "Andaikan... Kebahagiaan kita bisa seabadi keindah yang ada di foto ini. tapi nyatanya, semua yang aku harapkan sangatlah mustahil untuk bisa jadi kenyataan didunia nyata." Alya memandangi fotonya dengan Dika satu-persatu. "Apa harus aku bakar semuanya? Tapi apakah dengan membakar semua ini, kenangan aku dan dia bisa menjadi asap yang bisa menyatu dengan angin dan akan ikut berlalu? Tidak ada salahnya mencoba, toh semua ini ga ada artinya lagi, yang ada hanya bisa membuat air mata ini menetes." Alya membawa semua barang-barang yang bersangkutan dengan Dika ke halaman belakang.
"Ya Tuhan.. Aku ga sanggup." Alya terduduk lemah di halaman belakang, air matanya terus mengalir. "Aku harus kuat!! Aku udah berani jatuh cinta, maka aku harus berani di saat cinta itu menjatuhkanku!" Alya menyalakan koreknya "Akan aku lakukan segalanya untuk mematikan kenangan ini, jika menghanyutkan kenanganmu di Pantai Kuta ga berhasil, maka hari ini, pagi ini aku akan membakar semua kenangan kita di sini, tong sampah." Alya menjatuhkan sebatak korek kayu yang sudah berapi. "Selamat tinggal kenangan, semoga kali ini kamu bisa meninggalkanku, karena sampai kapanpun aku ga akan pernah bisa meninggalkanmu, kenangan." Alya menangis sejadi-jadinya. Melihat semua barang yang sangat Ia jaga dan kumpulkan selama 3 tahun, bisa lenyap hanya dengan waktu sekejap.

Melihat asap yang mengebul di halaman belakang, membuat Mama Alya penasaran. Apa yang telah terbakar. Mama Alya keluar dari dapur dan berjalan menuju halaman belakang. "Alya, ngapain sayang kamu disini?" Mama Alya sangat terkejut, Ia langsung berlari dan memeluka tubuh anaknya itu yang sudah terduduk lemas sambil mengeluarkan air mata. "Mamaaaa" Alya memeluk erat Mamanya balik. "Sayang, kenapa kamu melakukan semua ini?" Tanya Mamanya yang masih dalam keadaan memeluk Alya. "Ma, aku ga tau apa yang harus aku lakukan untuk ngelupain Dika. Aku ga tau kenapa cinta yang katanya indah malah meninggalkan kenangan yang sakit untuk dikenang. Ma, maaf kalo sekarang aku nangis-nangis dipelukan Mama, padahal aku ingat, Mama udah ngelarang aku buat kenal yang namanya cinta. bener kata mama, aku memang terlalu kecil dan terlalu lemah untuk mengenal lebih jauh apa itu cinta Ma. Makanya sekarang cinta bisa bikin aku jatuh kaya gini." Alya menangis di pelukan Mamanya. "Sayang, jika kamu udah bisa mengenal apa itu cinta, maka cinta pula yang akan mengenalkan dan mengajarkanmu bagaimana caranya melupakan, semua butuh proses. Kamu ga perlu ngelakuin apapun untuk bisa melupakan semua kenangan yang udah kamu jalanin bersama Dika, karena semakin kamu berusaha melupakan, semakin kenangan itu akan menghantui fikiran kamu sayang. Hati kamu cuma butuh waktu, untuk bisa terbiasa dari rasa sakit." Mama Alya melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Alya. Alya masih saja menangis. "Kamu ga usah nangis, karena semakin sering kamu nangis, semakin sering juga kamu ingat dia. dan rasa cinta kamu akan semakin kuat sayang. Udah dong, masa yang baru pulang dari Bali malah sedih kaya gini?" Mama Alya terus menghapus air mata yang masih Alya teteskan. "Senyum dong, kamu bisa cerita apapun. Sekarang anak mama udah dewasa, udah kenal cinta. Mama mau kok jadi tempat curhat kamu. Udah jangan nangis, kamu bisa curahin semua rasa yang udah penuh sesak dihati kamu." Mama Alya meyakinkan Alya untuk berhenti menangis. "Makasih ya Ma, aku ga tau. Bisa serumit apa hati ini kalo sekarang aku ga cerita sama Mama."
Alya mulai berhenti menangis, dan memberikan senyuman termanis untuk Mamanya. "Iya sayang, Mama will always there for Alya" Mama Alya mencium kening anaknya itu. 'Mama emang obat penenang aku, makasih Ma'

****

"Selamat Pagi... Semoga dengan membakar semua kenangan aku sama Dika, aku bisa lupa gimana rasanya sakit hati." Alya selalu tersenyum manis untuk menyambut hari baru, walaupun hatinya tak semanis senyumannya. Alya sudah rapih dan siap untuk menjalani setiap detik hidupnya. "Back to school! I hope i not back to memories of Dika." Harapannya pagi ini. Saat perjalanan menuju sekolah, Alya ditawari berangkat bareng oleh seseorang yang tak Ia kenal. "Dek mau bareng ga?" Tanyanya. Alya memerhatikan cowok itu dari atas sampai bawah 'Seragamnya seragam sekolah aku sih, tapi siapa ya?'
"Gausah deh kak, makasih ya atas tawarannya." Alya menolak tawaran lelaki itu. "Oh iya gpp. Duluan ya!" Pamit lelaki itu. "Baik sih dia, ga kenal tapi mau ditebengin, malahan nawarin. Tapi maaf deh. Aku ga kenal jadi aku takut." Ujarnya sambil sedikit tertawa.

'Kelas itu tempat paling bersejarah untuk aku. Begitu menyakitkan ketika aku melihat setiap sudut, dan saat itu juga aku teringat dengan semua hal yang sering aku lakukan bersamanya. Di kelas, aku sering bercanda dengannya, saat jam pelajaran aku sering lirik-lirikan sama dia, saat jam istirahat aku makan bekal yang aku bawa dan aku makan sama dia, di papan tulis itu, dika pernah menuliskan nama aku dan dia, dilingkari dengan bentuk hati. Kenangan itu masih tersimpan hangat di fikiran aku.Ya Tuhan, apa perlu aku pindah kelas? Tapi kata Mama, semakin aku menghindari semuanya, akan semakin kuat kenangan ini.' Alya tersadar bahwa Ia telah meneteskan air matanya pagi ini, di depan kelas. Alya menarik nafasnya dalam-dalam dan mengupayakan diri untuk memasuki ruang kelas. "Alyaaaa kangeen" Amira langsung menyambutnya dengan pelukkan. "Gue jugaaaa" Alya berusaha terlihat bahagia pagi ini. "Ciyeee yang abis liburan dari Bali, mana nih oleh-oleh buat gue." Sindir Amira. "Tenaaang, gue udah beliin oleh-oleh kok buat sahabat gue tercinta ini." Alya tersenyum dan langsung membuka tasnya. "Maaf ya cuma ngasih ini." Alya menyodorkan bungkusan. "Wihhh gue cuma bercanda kali, tapi seriusan nih?"
"Iyaaa Mir."
"Thanks ya, ohya gimana nih liburan lo? ketemu ga sama bule-bule cakep?" Tanya Amira. "Hmmm banyak Mir bule cakep, tapi ga ada yang deketin gue haha" Alya tertawa. "Makanya lo jangan galau mulu, gue yakin pasti lo liat sunset di Pantai Kuta sambil galau-galau badai gitu. Iya kan?Haha" Tebak Amira. Alya cukup kaget dengan tebakan Amira yang pas sekali. "Loh tau dari mana lo? Sotoy ihhh" Alya menjulurkan lidahnya. "Hmm nebak doang sih, ya maap kalo salah. Tapi semoga aja lo ga bohongin gue." Ujar Amira. "Hihi lo emang peramal hati gue Mir, bener kata lo. Gue galau badai pas liat sunset di Pantai Kuta." Alya mengakui, karena Ia sudah berjanji untuk tidak berbohong apapun kepada Amira. "Hihi gue hebat kan? Makasih lo udah jujur, Al menurut buku kumpulan kata mutiara yang gue baca..." Belum Amira menyelesaikan ucapannya, Alya langsung bilang "Buset dah, masa copast kata-kata dari buku sih haha ga kreatippp" Ledek Alya. "Yeeee bukan copast dari buku kalee, kan gue cuma menyampaikan apa yang telah gue baca." Jelas Amira. "Haha iya deh, yaudah emang apa yang udah lo baca?" Tanya Alya. "Semua orang itu pasti bisa move on, meninggalkan kenangan dan melupakannya. Lo tau kan? Cinta itu soal rasa, yang ngerasain cinta itu hati. Dan saat kenangan itu masih ada di fikiran lo, itu berarti hati lo yang masih mau buat stuck sama kenangan yang pernah ada di hidup lo. Move on itu cuma butuh waktu kok, waktu buat hati lo untuk terbiasa dari rasa sakit." Jelasnya dengan mata yang meyakinkan. "Bener kata lo, nyokap gue juga bilang kaya gitu. Selama ini, gue emang bodoh banget. Gue udah dibodohin dan dibutain sama cinta. Gue udah nyiksa diri gue sendiri, dengan kebodohan gue. Dan sekarang gue sadar itu." Alya mencoba untuk tersenyum dan terlihat tegar. "Udah gausah sok tegar, kalo mau nangis, nangis aja nih di pundak gue. Pundak gue selalu siap sedia buat nampung air mata lo." Amira menepuk pundaknya, Alya tak kuasa menahan air matanya. Dan akhirnya Alya menangis di pundak Amira. "Mir, gue ga bisa lupain Dika." "Melupakan itu memang sulit. Apalagi melupakan hal yang indah, hal yang mau lo kenang selamanya. Dan saat lo ingin melupakan kenangan itu, lo malah mengenangnya sehingga kenangan itu terasa sakit. Udah, ini saatnya lo move. Proses dibantu usaha mungkin lebih cepet. Gimana kalo gue, cariin cowok buat lo?" Amira memberi saran. Alya yang sedang bersandar dipundak Amira, seketika bangun dan terkejut. "What? Cariin cowok buat gue? Ga ah, hati gue belum siap buat disakitin lagi." Alya menolaknya. "Gausah langsung pacaran, kenalan aja dulu. Dan kalo cocok ga ada salahnya kan mencoba?" Amira membujuk Alya dengan idenya itu. Alya berfikir sejenak. "Hmm terserah lo deh, gue udah ga bisa lakuin apapun, otak gue udah ga bisa mikir 'Gimana caranya lupain Dika?' Yang ada otak gue mikirin dia terus." Akhirnya Alya menerima tawaran Amira. "Oke sip deh, BYE" Amira langsung ngeloyor. "Dihdih, gece banget tuh anak." 'Ini adalah kesekian cara yang akan aku coba, semoga kali ini Tuhan mengizinkan aku untuk melupakanmu'

Langkah kaki itu, langkah kaki yang sangat Alya kenal. "Itu pasti Dika." Beberapa detik kemudian, benar. Memang Dika yang baru datang. 'Kalo ngeliat kamu lagi sendiri, kayanya pengen terus sayang sama kamu. Tapi disaat aku lihat kamu lagi sama dia, rasanya aku ingin membenci kamu.'

'Alya, kenapa ya pagi ini aku seneng banget liat kamu. Aku ga tau apa yang salah sama perasaan ini. Apa aku kangen sama kamu? Bodoh! Kenapa aku bisa putusin kamu Al. Aku tau banget, sampai hari ini kamu pasti belum bisa move on dari aku. Sama kaya aku, aku belum bisa move on dari kamu.'

'Dika, andaikan kamu bisa denger apa kata hati ini, andaikan kamu bisa membaca apa arti dari sorotan mata aku ke kamu. Andaikan kamu bisa merasakan apa yang hati ini rasakan. Aku sakit banget, aku belum bisa melepaskanmu dari benakku.'

'Aku faham Al, sama apa yang kamu rasain. Karena sekarang, aku juga merasakan apa yang kamu rasakan. Bahkan aku merasakan yang lebih sakit dari kamu. Karena aku telah menyakiti dua hati, hati aku dan hati kamu.'

Alya dan Dika hanya diam di dua sudut. Sesekali melirik, dan hanya berbicara didalam hati, kata hati yang tidak akan pernah bisa didengar oleh siapapun.
Disaat Dika sedang memperhatikan Alya dari jauh, disaat itu pula Dika melihat ada seorang lelaki yang mendekati mantannya itu, mantan yang masih Ia sayang.

"Hey Al!" Sapa lelaki itu. "Welly? Ada apa?" Alya terlihat bingung, karena dia sudah membayar uang kas untuk 1 Bulan kedepan. "Engga, gue..gue cuma mau.." Welly terlihat gugup. "Mau apa?" Alya penasaran. "Mau.. Gue mau ngobrol aja sama lo." Akhirnya Welly bisa menjelaskan maksudnya menghampiri Alya. "Oh boleh, tapi kok tumben banget sih?" Alya masih bingung. Tapi karena Welly adalah lelaki yang cerdas, pintar berbicara, dan berwawasan luas. Mereka nyambung, bahkan sempat tertawa bersama.
Dari sudut lain, hati Dika hancur saat melihat Alya, orang yang masih Ia sayang. sudah dapat pengganti yang bisa membuat senyuman di wajah Alya.

'Ternyata aku salah, Al... Kamu udah Move On dari aku. Kamu udah bisa senyum sama dia didepan aku.' Batin Dika. "Apa ini ya yang Alya rasain, pas gue deket sama Yassa? Tapi gue kan ga pernah ketawa-tawa sama dia, terus dia kok yang deketin gue, bukan gue yang deketin dia." Ujar Dika pelan.

Dari sudut lain, Alya sibuk mendengarkan Welly, sambil sesekali Ia melirik Dika.
'Hmm ga ada respon apapun dari kamu. Bahkan kamu ga perhatiin sama sekali. Aku semakin yakin, Dika udah hapus aku dari hidupnya.'
"Ohya Well, gue punya sesuatu buat lo." Alya mengorek-ngorek Tasnya. "Nih oleh-oleh dari Bali dari gue." Alya menyodorkan bungkusan yang berisi baju Bali. 'Padahal ini buat Dika, tapi udah lah. Dia pasti ga akan mau terima.'

"Al, kenapa lo ga kasih ke gue? Biasanya kalo kita abis dari mana-mana kita selalu kasih oleh-oleh." Ujar Dika pelan saat melihat Alya memberikan oleh-oleh dari Welly.

"Wah Thanks ya Al, hmm gimana kalo sebagai gantinya, gue teraktir lo makan. Sore ini ya di Cafe Terys?" Ajak Welly. "Hmm boleh"

****

"Anak Mama mau kemana nih?" Tanya Mama Alya yang sedang menyiram tanaman. "Mau jalan sama temen Ma" Jawab Alya dengan wajah malu. "Siapa tuh temennya? pasti bukan Amira. Karena biasanya kalo kamu jalan sama Amira, kamu pasti sebut namanya." Sindir Mama Alya.
"Emang bukan, tapi Mama ga boleh tau bangeeet." Ledek Alya. "Udah ya Ma, udah telat nih. Byeee" Alya langsung pergi dan mencium pipi Mamanya.

Alya pergi ke Caffe menggunakan Taxi. 'Welly lumayan sih, pinter, manis, tinggi. Tapi kata orang-orang mukanya sangar. haha emang Dika yang paling cute di kelas.' Alya senyum-senyum sendiri, lagi-lagi teringat Dika.

"Hey Well, udah nunggu lama ya?" Tanya Alya yang baru sampai ke tempat janjiannya itu. "Engga kok baru aja. Kamu udah aku pesenin ya, kamu pasti suka sama makanan pesanan aku." Alya hanya mengangguk agak bingung. 'Kok panggilnya aku kamu sih, kedengerannya aneh. Emang cuma sama Dika panggilan itu terdengar sweet.' Beberapa menit kemudian, pesanan Welly sudah datang. Pelayan yang membawa pesanan, tidak sengaja menumpahkan minuman ke Welly. "Aduh mas, maaf saya ga sengaja" Pelayan itu segera mengelap baju yang sudah basah oleh segelas orange juice. "Aduh mba hati-hati dong, bego banget sih!" Bentak Welly sambil menggebrak meja. Alya yang menyaksikan kejadian itu sangat terkejut. 'Ohmygod! Welly galak banget.....'

****

"Hallo Mir ada apa?"
"Gimana nih yang abis ngedate sama Welly?"
"Kok lo tau sih?"
"Kan Welly salah satu rekomendasi gue buat jadi cowok baru lo" Amira cengengesan.
"Oh jadi lo yang bikin Welly jadi deketin gue, haduuu"
Alya kesal.
"Kenapa emang? Keliatannya lo happy deh sama Welly."
"Awalnya emang gitu, tapi lo tau ga dia itu kasar banget, galak banget. Ga suka gue sama cowok kaya gitu."
"Masa sih? Yaudah tenang... Gue punya banyak stok. Nanti gue kasih tau ke lo ya disekolah."
"Aduh.. Yaudah deh seterah lo aja."

****
"Yang ini gimana?"
"Engga ah!"
"Yang ini ini?"
"Engga juga"
"Yang ini deeh"
"Dia namanya siapa?"
"Yess.. Soffie"
"Cewek banget namanya, SKIP!"
"Ini?"
"No way..."
"Aduh kapan sih yes waynya? Lo tuh nilai cowok dari tampang sama nama ya?" Amira mulai terlihat capek.
"Bukannya gitu Mir, hati gue ga bisa mengagumi lebih dari satu pria. Hati gue masih stuck sama semua tentang Dika." Ujar Alya dengan nada ingin mendapat pengertian. "Kayanya lo ga perlu cariin gue cowok. Move On ga perlu cowok kok, Move On itu cuma butuh kesiapan hati. Kan lo bilang, hati cuma butuh waktu untuk bisa terbiasa dari rasa sakit."
Amira mengangguk dan mengerti "Yaudah, rencana gue buat cariin lo cowok di batalkan."
"Yessss! Tapi thanks ya Mir, udah ngelakuin semua ini cuma buat gue."
"Iya sama-sama."

****
"Udah sepi banget ni sekolahan." Ujar Alya yang baru saja keluar dari perpustakaan sekolah. Alya berjalan dengan cepat, sehingga Ia tak melihat batu besar yang ada di depannya. Alya tersandung dan jatuh. "Aduuuuh... Sakiiit." Alya kesakitan. "Mana duit abis lagi, naik apa nih pulang? Kalo kaki kaya gini ga akan sanggup deh pulang ke rumah jalan kaki." Alya kebingungan. Ia mencoba untuk bangun. Alya memaksakan kakinya untuk berdiri. "Aduh sakit banget, hmm butuh keajaiban nih! Ada kek gitu orang yang nawarin tebengan. Kalo sampe ada, gue bakal kasih apapun yang dia minta!" Beberapa detik setelah Alya bernazar, ada seorang lelaki yang menghampirinya. "Dek, kaki kamu kenapa?" Alya kenal suara itu. "Kakak kelas yang waktu itu kan?" Tanya Alya. "Iya, kaki kamu kenapa?"
"Tadi kesandung kak..."
Lelaki itu langsung turun dari motor, dan melihat keadaan kaki Alya. "Cuma keseleo, yaudah yuk naik. Bisa kan?"
"Bisa kak" Alya menaiki tubuhnya keatas motor itu. "Udah?"
"Udah kak, makasih ya?"
"Iya sama-sama. Nama kamu siapa?"
Tanya lelaki itu.
"Alya, kakak?"
"Irdan"
"Oooh..."

'Baru aja aku mau nyamperin kamu dan anter kamu pulang. Tapi udah keduluan sama dia. Aku kan dari tadi udah sengaja nunggu kamu keluar dari perpus.'
Batin Dika saat melihat niatnya mengantar Alya pulang sudah didahului oleh lelaki lain.

"Makasih ya kak! Maaf ngerepotin" Ujar Alya saat sampai di depan rumahnya. "Iya sama-sama, ga ngerepotin sama sekali kok. Besok mau bareng ga? Nanti aku jemput?" Tawar Irdan. "Aduh ga usah kak, nanti ngerepotin." Alya terlihat tidak enak. "Engga lah, rumah aku kan deket tuh di kompleks sebelah, jadi bisa sekalian." Jelas irdan.
"Hmm oke deh kak."
"Oke? Nanti aku jemput jam set7 ya?"

****

"Semoga Kak Irdan bisa bantu aku untuk Move On. Dika sebenarnya aku ga mau melupakanmu, tapi aku ga mau juga menyiksa hati ini untuk terus merasakan sakit. Semoga kita bisa bahagia dengan pasangan kita masing-masing." Alya memandangi foto yang Alya ambil dari tongsampah kemarin. Foto yang sudah sebagian terbakar. "Jika aku fikirkan, jujur masih sangat menyakitkan. Karena hati ini masih sayang dan masih merasakan kehilangan. Jika aku punya 1 permintaan, aku akan minta, tidak ada cinta di antara kita, sehingga hari ini aku tidak menangisimu."

****
"Makasih ya kak" Ujar Alya saat turun dari motor Irdan. "Yap sama-sama. Kalo butuh jemputan, telpon aku aja ya" Irdan sedikit tertawa. "Haha iya kak, nanti aku telpon" Alya bergegas menuju kelasnya. Sesampai di kelas. "Al lo tadi dianter siapa?" Tanya Amira. "Lo ngintipin gue ya?" Ujar Alya kaget. "Bukan ngintipin, tapi ga sengaja liat." Amira ngeles. "Dia itu Kak Irdan, gue ketemu dia udah 2 kali. Awalnya dia....." Alya menceritakan awal mula kenal dengan Irdan. "Semoga dia bisa jadi pengganti Dika ya."
"Amin, emang itu yang gue harapin. Semoga aja harapan gue kali ini terwujud. Bisa dikasih kesempatan buat ngerasain cinta lagi saat cinta ngejatuhin gue." Ujar Alya. "Wish all the best for ur heart deh!"

****
"Nih eskrim buat kamu de" Irdan menyodorkan eskrim yang telah Ia beli. 'Kak Irdan kok bisa tau sih apa yang aku mau?' Batin Alya. "Thanks kak" Alya meraih eskrim itu dan segera membukanya. Alya dan Irdan sudah dekat hampir 3 bulan. "Kamu tau ga kenapa hanya dengan eskrim hati kita bisa jadi tenang?" Tanya Irdan. "Mungkin karena manis kak, dan saat itu hati kita lagi pahit-pahitnya." Jawab Alya. "Yap itu salah satunya, tapi yang paling pas adalah Tuhan selalu kasih kita cara yang mudah untuk melawan rasa sakit yang Tuhan kasih. Orang bilang setiap masalah pasti ada solusinya. Nah maka dari itu, kita bisa ngerasa tenang dan mendinganlah pas lagi makan eskrim atau coklat. Iya kan?" Jelas Irdan. "Hmm bener tuh kak, Tuhan udah ciptain semuanya dengan sempurna. Udah kasih kita mata untuk melihat, tangan untuk menyentuh, hidung untuk bernafas, mulut untuk berbicara, dan hati untuk merasakan semua kenikmatan yang udah Tuhan kasih." Ujar Alya.
"Dan Tuhan, udah ciptain rasa manis dan pahit untuk saling melengkapi. Menciptakan kesedihan agar kita bisa bersyukur saat kita merasakan apa itu kebahagiaan." Lanjut Irdan. "Dan Tuhan juga udah kasih tau semua orang, gimana rasanya patah hati. agar kita bisa menjaga hati kita untuk tidak patah." Alya tersenyum. "Hati kamu masih patah Al?" Tanya Irdan seketika. "Kayanya iya kak, udah hampir 5 bulan aku ngerasain sakit yang ga pernah berkurang." Jawab Alya dengan wajah murung. "Mungkin Tuhan udah ciptain aku untuk menyatukan hati kamu yang udah patah itu...." Ujar Irdan, Alya terkejut dengan perkataan Irdan. "Kamu mau ga jadi pacar aku? Aku akan nyatuin hati kamu yang patah itu, dan aku janji ga akan biarin siapapun untuk patahinnya lagi." Pertanyaan Irdan kali ini membuat Alya sangat terkejut. Alya terdiam sejenak. "Apapun jawaban kamu, aku akan tetap berusaha bikin hati kamu menyatu lagi." Ujar Irdan sebelum Alya menjawab pertanyaannya itu. "Iya aku mau kak" Jawab Alya yang masih saja menundukan kepalanya. Saat mendengar pernyataan itu, Irdan langsung memeluk Alya. "Makasih ya Al"

****
Kabar Irdan dan Alya pacaran sudah sampai ke telinga Dika. 'Kamu pantas untuk bahagia, dan aku pantas untuk tersakiti seperti ini. Karena aku yang telah mematahkan hati kita, hati yang seharusnya tetap menyatu. Waktu 3 tahun tanpa masalah untuk kita adalah waktu terindah didalam hidup aku Al. Dan hanya dengan sekejap aku mengakhirnya. Maafkan aku Al, aku sadar penyesalan ini sudah tidak ada artinya lagi, kamu sudah jadi milik dia. Dan tidak mungkin kamu memilih kembali kepadaku, orang yang telah merubah hari-hari indah kamu menjadi hari-hari yang buruk.'
"Lo kenapa murung gitu Dik?" Tanya seorang perempuan yang menghamburkan renungan Dika. "Tiba-tiba hati gue jadi nyesek banget Mir." Jawab Dika. "Itulah ambas dari kebodohan lo Dik, Lo pacaran sama Alya 3 tahun tanpa berantem. Sedangkan hubungan itu ga akan lengkap kalo ga ada masalah, dan saat sedikit aja masalah dateng di antara hubungan lo berdua lo langsung minta putus. Itu bodoh banget Dik!" Ujar Amira agak sedikit emosi. "Walaupun hari ini gue liat lo sedih, gue tetep bahagia. Karena Alya sahabat gue bisa lepas dari air mata yang selalu menghiasi hari-harinya selama 5 Bulan!" Lanjut Amira. "Saat ini gue cuma bisa berharap, berharap keajaiban. Tapi mana ada keajaiban yang dateng buat orang sejahat gue. Mir jujur sejujur jujurnya, gue masih sayang banget sama Alya, masih sama kaya 3 tahun yang lalu. Ga pernah berkurang sedikitpun." Ujar Dika penuh penyesalan. "Iya gue tau, gue bisa lihat dari mata lo. Tapi itulah cinta, penuh lubang. Kalo lo sampe salah pilih lubang, maka lo bakal jatuh dari angan-angan lo setinggi apapun! Kalo cinta masih mau maafin lo, gue yakin orang yang lo cintai bakal meraih lo kembali dari lubang yang dalam itu." Amira menepuk pundak Dika. "Berdoa yang terbaik buat kalian aja ya Dik!" Amira pergi meninggalkan Dika yang akhirnya meneteskan air matanya. 'Penyesalan apapun memang ga pernah ada yang indah'

****
'Hallo? iya gue yakin dia masih sayang banget. Oke sip!!'

'Dik gue pengen ketemu lo di taman sari ya jam 7'
Amira kembali menaru handphonenya setelah sms Alya.

****
'Sayang, ketemuan di Taman sari ya jam 7'
"Malam minggu kesekian yang aku jalani sama Irdan, tapi ga semanis malam minggu yang aku jalani sama Dika selama 3 tahun. Kenapa ya Dik, aku ga pernah bosen habisin waktu aku sama kamu." Ujar Dika sehabis membaca sms dari Irdan.

Di satu sisi yang berbeda. "Amira ada apa sih ngajak ketemuan segala? Udah tau gue lagi galau badai dan males kemana-mana." Komentar Dika setelah membaca sms dari Amira.

Jam 7 Pas #TamanSari

"Mana si Mira, katanya ketemuan jam 7! Dasar tukang ngaret" Dika mundar-mandir sambil melihat jam yang ada di tangannya.

"Irdan mana sih?" Alya yang baru saja datang ke Taman Sari sibuk mencari sosok Irdan, matanya mencari-cari ke sekeliling Taman. "Nah itu dia!!" Alya langsung menghampiri Irdan.
"Hey!" Alya menyentuh pundak Irdan. Wajah Alya seketika berubah saat lelaki yang Ia tepuk pundaknya itu membalikan badannya. "Alya??" Tanya lelaki itu seraya tak percaya. "Dika lo kok ada di sini?" Tanya Alya balik. "Amira yang suruh gue kesini." Mendengar jawaban itu Alya langsung berfikir 'Pasti ini kerjaannya Amira, hmm rese sih. Tapi gpp deh' Ujarnya dalam hati. "Lo kok bisa kesini?" Tanya Dika lagi. "Tadi tuh Irdan ngajakin ketemuan. Makanya tadi gue kira lo itu Irdan." Jelas Alya. "Oh... Al kenapa ya gue kok kangen banget sama lo!" Ujar Dika agak malu-malu. "Ohya??" Alya tampak tak percaya 'Aku malah setiap detik,menit,jam,hari selalu kangen sama kamu'

"Yes yes!! Akhirnya lo berdua bisa ngobrol bareng lagiiii" Ujar Amira dengan suara pelan di balik semak-semak. "Rasanya pengen nyamper mereka! Mana sih Irdan?? Lama bener!" Omel Amira.

"Al.. Kalo malam ini aku bilang kalo aku nyesel putus sama kamu, kamu mau ga kasih kesempatan aku untuk jadi pacar kamu lagi?" Tanya Dika. Alya hanya terdiam, sebenarnya Ia ingin menjawab 'mau' dengan lantang, tapi tiba-tiba dia teringat oleh Irdan, yang sekarang telah jadi pacarnya. "Aku...." *brrrukkkkk*
"Suara apaan tuh?" Ujar Dika saat mendengar suara tabrakan. "Apaan ya? Kayanya ada yang kecelakaan deh!" Alya menunjuk daerah yang mulai dikerumungin banyak orang.

"Waduh apaan tuh?" Amira yang dari tad fokus mengintipi Dika dan Alya juga ikut mendengar. Akhirnya Amira keluar dari tempat persembunyiannya.

"Mir, lo disini?" Tanya Alya kaget saat melihat Amira yang tiba-tiba nongol. "Hehe iyaaa, eh itu ada apaan ya?" Tanya Amira. "Yaudah kita liat yuk!" Ajak Dika.

Tubuh mungil Alya berusaha untuk melewati kerumunan orang-orang. Begitupun dengan Dika dan Amira. "Misi ya Mas Mba.." Ujarnya. Saat Alya berhasil melewati kerumunan itu dan berhasil melihat dengan jelas apa yang telah terjadi, wajah Alya berubah drastis.
"Irdaaaan????" Alya langsung tertunduk mengoyak-oyak tubuh Irdan."
Begitupun dengan Dika dan Amira melakukan hal yang sama saat mereka melihat Irdan sudah tergeletak tak berdaya di jalan dan berlumuran darah.
"Al..." Ujar Irdan lirih. "Irdan, kamu harus kuat Dan kamu harus kuat!" Alya berusaha minta bantuan. "Gausah Al..." Irdan menahan Alya untuk pergi. "Al... Urusan aku disini udah selesai, kalian berdua udah tau kan perasaan kalian masing-masing?" Ujar Irdan tersendat-sendat. "Maksud kamu apasih? Dan aku gamau kehilangan kamu..." Ujar Alya dengan penuh emosi, air matanya menetes membasahi wajah Irdan. Dika dan Amira hanya terdiam menyaksikan percakapan Irdan dan Alya. "Al... aku kan udah bilang.. aku akan menyatukan hati kamu yang patah itu, dengan atau tanpa kita pacaran. Al aku udah sayang sama kamu dari dulu, dan saat Tuhan patahin hati kamu, saat itulah aku menjalankan tugasku yaitu menyatukan hati kamu yang patah itu" Irdan menghapus air mata Alya. Irdan menyatukan tangan Alya dan tangan Dika. "Aku akan pergi dengan tenang kalo kalian janji, terutama lo Dik, jangan patahin hati Alya lagi..." Ujar Irdan. Dika mengangguk "Iya gue janji Dan."
"Al... Kalo kamu mau lihat aku bahagia, kamu jangan pernah ya berhenti tersenyum, demi aku." Ujarnya kepada Alya. "Iya aku janji Dan, terimakasih untuk semuanya yang udah kamu lakuin, aku janji akan terus tersenyum untuk kamu." ujar Alya dengan air mata yang tak kuasa terbendung.
"Mir, thanks ya lo udah mau bantuin gue, walaupun gue telat tadi, ga liat di semak-semak sama lo, gue udah tau kok kalo Alya hatinya udah ga patah lagi." Ujarnya kepada Amira. "Iya sama-sama Dan, itu juga gue lakuin demi kebahagiaan Alya." Ujar Amira yang juga meneteskan air matanya. "Ini saatnya gue pergi, walaupun kehadiran gue singkat di antara kalian, tapi tolong kenang gue ya..." Tangan Dika yang dari tadi memegang pipi Alya, terjatuh. "Irdaaan" teriak Alya, Dika dan Amira.


'Irdan... Kamu bener, Tuhan selalu kasih solusi dari setiap masalah. Dan kamu adalah solusi aku untuk bisa menyelesaikan masalah aku. Kamu memang malaikat yang telah Tuhan kasih untuk aku. Terimakasih untuk semuanya, aku sayang kamu Kak Irdan......'

"Dika.. Aku ga akan pernah salahin kamu, karena aku tau Tuhan takkan pernah salah telah mempertemukan kita." Ujar Alya dengan penuh kebahagiaan. "Dan Tuhan juga pasti akan memisahkan kita dengan cara yang indah nanti. Al.. Aku tau apa yang salah dari semua ini..." Ujar Dika.
"Apa?" Tanya Alya. "Saat kita menjalin hubungan 3 Tahun tanpa pacaran, itu adalah saat-saat yang paling indah di dalam hidup aku. Dan saat kita bertengkar, aku takut, keindahan itu pergi meninggalkan aku. Maka dari itu, aku berfikir mending aku yang pergi meninggalkan keindahan itu. Tapi nyatanya aku salah, yang ada malahan penyesalan yang aku rasakan. Dan penyesalan itu hal yang paling sakit dari pada apapun." Jelas Dika.
"Dik... Aku sadar Cinta tanpa cobaan itu ga akan pernah berasa artinya. Karena cinta baru terasa begitu berarti saat cinta itu pergi meninggalkan kita secara tiba-tiba." Ujar Alya.

"Kebahagiaan memang selalu datang pada waktunya ya? selalu datang setelah kita bisa melalui dan merasakan kesedihan."

"Karena Tuhan telah menciptakan kesedihan dan kebahagiaan itu satu paket... Jadi kita pasti akan bisa menghargai kebahagiaan dan bisa menikmati kesedihan."

"Jangan sampai diantara kita yang mau terpisahkan lagi ya? kalo suatu saat aku minta kita pisah lagi, kamu jangan pernah mau mengabulkannya. Karena aku ga mau, terjerumus dalam penyesalan lagi. Aku harap ini adalah cobaan hubungan kita ya, aku ga mau jauh dari kamu lagi" Pinta Dika.

"Pasti Dika... Aku juga ga mau jauh dari kamu lagi, hati aku ga akan sanggup ngerasain sakit hati kaya gini lagi...." Mata Alya memandang ke langit-langit yang biru. "Pasti di atas sana Irdan lagi senyum ngeliat kita sekarang."
"Thanks Irdan!"

Minggu, 09 Desember 2012

Selamat Tinggal Masa Lalu :)

Pagi ini Alya bangun dengan alarm yang ia nyalakan. Karena kedua orang tuanya sedang pergi ke acara pernikahan tantenya. Terpaksa ia harus mendekatkan alarm itu di telinganya. Pagi itu, saat dunia mimpi bersambung dan dimulainya lagi dunia nyata. Mata Alya terlihat sembab, karena semalaman ia menangis memikirkan cintanya yang kandas. Tisu-tisu yang berserakan di lantai belum ia buang sama sekali. "Hoaam.. Selamat pagi hari baru, semoga ga ada pemandangan yang mendukung air mata ini keluar lagi" Senyum manis ia lengkungkan pagi itu. Meski dalam hati, ia ingin sekali kembali tidur dan melanjutkan dunia mimpi yang nyatanya lebih indah di bandingkan dengan kenyataan. Alya mencoba membuka matanya yang sembab, tubuhnya yang kurus mencoba untuk bangun dari kasur yang menurutnya adalah tempat paling indah, dimana ia bisa tidur dan menikmati dunia mimpinya yang indah. Sekarang ia berdiri di depan cermin, ia melihat matanya yang sembab. "Benerkan pasti bengkak deh! Gak apa-apa deh cantik kaya orang Cina. hihi." Alya tertawa kecil. "Mumpung ga ada Mama sama Ayah puas-puasin aja nangis. Semalem cukup puas sih, tapi ga tau deh nanti. Palingan hari ini akan ada hal baru yang harus aku pendam."

"Semua udah siap! Buku-buku udah rapih, Uang, Handphone, Atribut, tapi ada satu yang belum siap.... Hati aku" Wajah yang dari tadi ia buat seceria mungkin akhirnya menampilkan raut wajah yang sesuai dengan isi hatinya "Rapuh"
"Ayolaah Alya semangat! Kan udah biasa disakitin, kok jadi lebay gini!" Alya menyemangati dirinya sendiri, kakinya pun melangkah menuju pintu rumahnya. "Oh iya lupa ngunci!" Alya mengeluarkan kuncinya dari laci meja kamarnya. "Andaikan saja aku punya kunci hati kamu, pasti aku bisa buka lagi hati kamu setelah kamu kunci." Alya tertawa kecil, mencoba menghibur hatinya. Akhirnya Alya bisa melangkahkan kakinya kesekolah, dimana sekolah menjadi tempat yang paling menyeramkan. Terutama kelasnya. Karena ia tak sanggup jika harus melihat wajah Dika yang tak sehangat dulu terhadapnya. "Kamu bisa cuekin aku, tapi jujur aku ga akan bisa cuekin kamu. Kapan pun kamu butuh aku, datang aja ke aku. Aku ga akan cuekin kamu" Ujarnya lirih. Alya menarik nafas dan mencoba untuk menampakan wajah cerianya. "Good Morningggg" Sapanya dengan suara riang. Alya adalah anak yang humoris, ceria, lincah, romantis, feminim, cantik tetapi selalu tersakiti. 'Biarin aja aku yang sedih sendiri, yang lain ga boleh ada yang tau. Apalagi ikut merasakan' Ujarnya dalam hati.
"Morning Alya, semangat banget lo hari ini!" Ujar Amira teman sebangku Alya. "Harus dong! Kita itu harus menjalani hidup ini dengan semangat! Mumpung kita masih bisa nafas, melihat orang-orang yang masih bisa kita lihat. Syukuri apa yang kita miliki, bukan meratapi apa hal yang ga bisa kita miliki" Ujar Alya dengan penuh semangat. "Weittsss TOP begete deh! Gue selalu setuju sama lo! haha" Amira tertawa. Alya hanya tersenyum melihat sahabat yang sangat ia sayangi bahagia 'Seenggaknya disaat sedih kaya gini, aku masih bisa bikin orang yang aku sayang bahagia'

"Ternyata semuanya ga begitu menyakitkan. Karena disaat aku kangen sama kamu, aku masih bisa liat kamu Dik. Walaupun dari sini, dari jauh, secara diam-diam." Ujarnya lirih. Alya tak bisa menampilkan terus fake smilenya, disaat sendiri tak ada satu pun orang yang melihat, disaat Amira keluar kelas dia bisa mencurahkan kesedihannya kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba pemandangan yang indah itu menangkap basah mata Alya. Ya, Dika menangkap mata Alya yang memandang dirinya dari jauh. Alya mengalihkan pandangannya. "Yaampun, gimana nih Dika ngeliat aku lagi liatin dia" Wajahnya yang murung berubah menjadi panik. Memang tidak ada raut wajah bahagia yang tulus hari ini. Alya semakin panik saat melihat Dika bangkit dari tempat duduknya. "Jangan sampe dia kesini, aduh aku harus bilang apa kalo dia nanya 'Ngapain kamu liatin aku?' Masa harus ngaku sih, ga semua yang aku fikirkan bisa aku ungkapkan." Ujarnya pelan dengan wajah yang panik. Dika semakin dekat, ada dua pilihan di depannya. Jika berbelok Alya selamat dan jika Dika tetap berjalan luruh tamatlah gayanya. "Ayo belok. Belok!" Alya memohon dengan mengepal kedua tangannya. Ya, kali ini doanya terkabul, Dika berbelok untuk keluar kelas. "Alhamdulillah" Wajah Alya yang memerah kini kembali menjadi putih. "Lain kali, aku harus jauhin pandangan aku dari dia, bantu aku ya Tuhan."

Jam pulang sekolah pun berbunyi, jam dimana menjadi akhir kegelisahannya, ketakutannya terhadap hal-hal yang bisa membuat air matanya menetes. "Alhamdulillah, akhirnya bisa juga tahan semua ini." Ujar Alya agak keras. "Apa Al? Tahan apa? Lo kebelet ya? Yaudah ayo cepet ke toilet. Gue anter deh!" Seru Amira. "Ha? Oh iyaya yuk Mir!" Alya berusaha menampilkan tidak ada yang salah atas pengertian yang di tangkap oleh Amira. 'Iyain aja deh biar cepet, dari pada bilang engga nanti dia malah nanya-nanya lagi. Nanti harus bohong lagi deh sama Amira' Batin Alya.
"Al gue tunggu sini ya!" Ujar Amira yang sudah duduk di bangku yang terletak di depan toilet. "Oke, thanks ya Mir." Alya tersenyum. "Haha lucu banget deh, terus aku harus ngapain nih? Udah deh berdiri aja. Bayangin kalo sekarang lagi BAB. ih jijik. Mending bayangin Dika aja deh!" Sekitar 10 menit Alya keluar dengan wajah yang terlihat lega. "Weitsss lega banget tuh! Lain kali lo kalo mau ke toilet bilang aja ke gue. Pasti gue anter Al!" Amira meyakinkan Alya yang sering takut untuk setor di toilet sekolah. "Sip deh Mir. Abis gue ga enak nih kalo terus-terusan minta anter lo ke toilet." Alya nyengir. "Woles selow aja Al. Oh ya denger tentang kebelet gue jadi inget. Tadi gue denger kabar kalo si Yasa yang kebelet eksis itu lagi deketin Dika." Update-an Amira kali ini cukup membuat hati Alya sesak. Alya menarik nafas... "Biar aja, yang penting bukan Dika yang deketin dia. Dan kalo emang iya, ya gapapa. Dika bukan milik gue lagi kan? Jadi gue ga perlu repot-repot mikirin dia." Lagi-lagi munafik. Mulut masih bisa membohongi hati, tapi lama-lama hati akan memberontak dan akan menunjukan segala sesuatu yang telah jadi kebohongan. "Hebat lo Al, bisa setegar itu. Bisa menerima perubahan dengan ikhlas. Perubahan dimana hari-hari lo ga ada Dika lagi." Amira terlihat bangga dengan Alya. "Ya, itu lah cinta Mir, sudah berteman akrab dengan pertemuan dan perpisahan. Jadi kalo kita kenal cinta maka kita juga akan kenal dengan pertemuan dan perpisahan." Alya melontarkan kata-kata 'Sok' bijaknya (lagi) "Bijak banget lo Al! Gue selalu setuju banget sama lo." Amira mengacungkan kedua jempolnya. 'Hati aku ga setegar dan sebijak ucapanku Mir. kalo aja aku egois, mungkin aku akan mencurahkan kesedihan ini dan berbagi kesedihan sama kamu Mir. Tapi aku ga tega buat lakuin itu. Karena jika kamu ikut sedih, ga akan ada lagi kebahagiaan yang bisa aku rasain' batin Alya, suara hati yang tak akan pernah bisa didengar oleh siapapun. "Al tadi apa Al kata-katanya? Gue mau jadiin status" Amira mengeluarkan handphonenya untuk mencatan kata-kata bijak yang telah Alya lontarkan. "Haha tadi itu...." Alya mengulang apa yang tadi telah ia katakan.

****
"Rumah oh rumah! Tempat dimana aku bisa melakukan apapun yang aku mau. Nangis sepuasnya untuk melegakan hati yang udah sesak ini. Tapi itu juga selagi ga ada Mama dan Ayah. Mana mungkin aku tega melihat mereka sedih. Karena lihat aku anaknya yang tegar dan kuat berubah menjadi rapuh cuma karena cinta." Tangan mungil Alya membuka pintu rumahnya dengan kunci yang sudah iya simpan dengan hati-hati. "Kunci rumah aja aku simpan dengan hati-hati. Apalagi kunci hati kamu, ga akan pernah aku lepaskan dari tangan aku"

"Kamu, tempat dimana aku ingin pulang, bisa dibilang kamu adalah rumah idamanku. Tapi disaat aku ga punya kunci untuk membuka hati kamu. Mana bisa aku masuk ke kehidupanmu. Kehidupan yang selalu bisa aku nikmati dengan senyuman dan air mata kebahagiaan."
Alya membaringkan tubuhnya ke kasur, tempat terindah baginya. "Semoga aja rasa sakit ini ga bikin aku jadi mati rasa, mati rasa akan kebahagiaan." Ia pejamkan matanya, tiba-tiba muncul wajah kedua orang tuanya. "Yaampun, jadi keinget Mama sama Ayah. Mereka lagi ngapain ya? Telpon ah!" Jari-jari Alya menekan tombol handphonenya. "Hallo Ma, lagi ngapain? Aku kangen tauuuu! Oh ya? Tante nanya apa? Aku libur mulai besok lusa Ma, emang ada apa? Ha? Tante ngajak aku liburan ke Bali? Asiiiiik!"

****
"Rasanya jadi semangat ke sekolah! Pengen cepet-cepet laluin hari-hari buruk untuk menuju hari yang seru banget pastinya, liburan ke Bali!! Seenggaknya ga ada Dika disana. Dan ga ada satupun kenangan aku di Bali sama dia. Jadi ga mungkin deh keinget sama dia. Yes!! Bebas dari kenangan!" Alya menuruni tangga rumahnya dengan cepat, dengan wajah yang ceria. "Pagi sayang, tumben udah rapih jam segini." Sapa Mamanya yang sudah pulang sejak tadi malam. "Iya dong, kan anak rajin" Alya tertawa. "Yaudah nih sarapan dulu, mama udah masakin nasi goreng dan telur setengah mateng buat kamu." Alya memejamkan matanya untuk menikmati aroma masakan yang Mamanya buat. "Hmmm enak banget wanginya, jadi laper!" Alya duduk dan langsung menyantap menu sarapannya pagi ini dengan suka cita.

****
"Al liburan kita ke puncak yuk! Kebetulan gue sama keluarga gue mau kesana, pasti seru!" Ajak Amira dengan semangat. "Yah, sayang banget Mir, gue ga bisa. Soalnya tante gue ngajak gue liburan ke Bali." Ujar Alya agak tidak enak. "Weitsss seru banget! Gapapa kok, have fun ya Al!" Amira terlihat ikut senang. "Iya, lo juga ya!" Senyum bahagia yang Alya lengkungkan berhenti saat ia melihat Dika yang masuk ke ruang kelas bersama Yassa. "Hebat juga si Yassa bisa deketin Dika secepat itu." Ujar Amira yang baru saja melihat pemandangan yang biasa saja menurutnya tetapi bencana menurut Alya. "Ya bisa lah, Yassa kan cantik. Semua cowok juga mau banget bisa deket sama dia. Dika beruntung bisa dideketin sama Yassa." Lagi-lagi sok tegar. "Hey! Lo lebih segalanya dari Yassa. Lo lebih cantik, baik, pinter, makanya Dika bisa pacaran 3 tahun sama lo. Gue ga suka ah kalo lo muji-muji dia. Dia itu cuma cantik tampang tapi hatinya buruk rupa!" Amira terlihat emosi. "Tapi kenyataannya Yassa yang sekarang dipilih Dika, bukan aku. Aku cuma masa lalu, yang sangat mudah berlalu di kehidupan Dika." Lagi-lagi sok ikhlas. "Cuma orang yang ga punya hati, atau orang amnesia yang bisa ngelupain berjuta kenangan yang terjadi selama 3 tahun, secepat itu. Gue tau Al, lo punya hati. Apalagi sebagai cewek lo itu tipe cewek yang perasa banget, segalanya pake hati. Gue yakin kebahagiaan yang lo tunjukin selama ini palsu. Senyum yang lo lengkungkan itu juga palsu. Dan sikap tegar lo selama ini ga bisa ngeyakinin gue, untuk percaya lo baik-baik aja." Amira memegang pundak Alya, seraya ingin memikul segala beban yang Alya pikul sendiri. "Gue sahabat lo, kita sahabatan ga sebentar. 3 tahun! Gue bisa bandingin kebahagiaan tulus sama kebahagiaan palsu yang lo tunjukin. Gue sahabat lo, gue mau lo berbagi kesedihan lo ke gue,
Gue ikhlas banget kalo gue harus lakuin sesuatu yang bisa bikin lo bahagia dengan tulus. Tapi kalo lo ga mau cerita apa kesedihan lo. gue ga bakal bisa ngerti apa yang harus gue lakuin. Gue sahabat lo, kita udah ngerasain kebahagiaan sama-sama dan kita juga harus ngerasain kesedihan sama-sama, kita harus hapus kesedihan itu dan kembali bahagia." Kali ini Alya tidak bisa menahan air matanya di depan Amira. Alya memeluk erat sahabatnya itu. "Dengan lihat air mata itu, gue bisa tau. kalo beban yang lo pikul sangatlah berat Al." Ujar Amira yang saat itu meneteskan air matanya juga. "Maafin gue Mir, gue cuma ga mau ngeliat kebahagiaan gue ikut sedih karena lihat kesedihan gue." Mereka masih berpelukan dan Amira melepaskan pelukannya. Mata Amira menatap erat mata Alya. "Dan Kebahagiaan ga akan kuat ngeliat kebahagiaannya terpuruk dalam kesedihan. Dan saat kebahagiaan bisa merasakan kesedihan dari kebahagiannya. Maka kesedihan itu akan hilang dengan kebahagiaan." Ujarnya yakin. "Lo bisa puitis juga Mir." Alya sedikit tertawa. "KARENA GUE ABIS BACA BUKU KUMPULAN KATA-KATA MUTIARA INI" Amira mengeluarkan buku dari sakunya. Keduanya tertawa dan saling menghapus air matanya.
"Gue sadar Mir, kebahagiaan itu sederhana. Karena gue punya sahabat kaya lo. Sahabat yang sebetulnya bisa bikin gue hidup tanpa kesedihan sama sekali. Makasih ya Mir" Alya memeluk sahabatnya lagi. "Apapun buat kebahagiaan, sesingkat apapun waktu yang gue punya, gue bakal kasih waktu itu buat lo. Orang yang gue sayang dan orang yang menyangi gue."
Alya tersenyum mendengar kata-kata yang Amira lontarkan. "Sumpah Mir, lo jadi puitis dan bijak banget. Merinding gue dengernya." Alya sedikit tertawa. "Dan itulah yang gue rasain selama ini, merinding kalo lo lagi ngucapin kata-kata yang puitis dan galau abisssss!" Amira ikut tertawa. "Tapi seriusan, gue sadar semua yang berhubungan dengan rasa itu pasti sampe kehati dan rasa bisa bikin gue jadi puitis."
 "Dan semua yang pake hati memang menyakitkan, dan karena sakit itu kita bisa belajar dari apa yang kita jalani dari hidup ini. Karena sakit hati ini ga akan pernah bisa hilang, karena luka yang mengakibatkan sakit itu pasti akan selalu berbekas." Ujar Alya dengan senyuman. "Setuju selalu sama loooo!" Amira tertawa sambil menepuk pundak Alya. 'Alhamdulillah, memang ga akan ada beban yang bisa hilang kalo belum di luapkan.'

****
"Amira mana sih? Katanya mau pulang bareng, kok dia malah ngeloyor duluan?" Mata Alya melihat ke sekelilingnya. Alya mengeluarkan handphonenya
'Mir dimana? Kalo masih lama gue pulang duluan ya?'
Alya mengirim SMS kepada Amira. Beberapa menit kemudian handphonenya bergetar. 'Gue di Toilet, mulesss. Yaudah lo duluan aja!'
"Bisa bales sms pas lagi BAB, bener-bener canggih tu anak!" Alya tertawa dan melangkahkan kakinya menuju pulang. Matanya fokus ke depan. Tiba-tiba pemandangan yang ditakuti Alya muncul. "Hmmm jangan liat, jauhi pandangan aku dari mereka. Tapi semakin aku menutupi, menghalangi hati ini semakin sakit." Ujarnya pelan. 'Seindah pun hari ini, kalo kamu masih bukan milikku, ga ada yang sempurna.'
Alya berjalan lurus sambil menunduk.
"Al!" Panggil seseorang. Alya
tersentak. 'Dika? Itu suara Dika? Yaampun apa lagi yang harus aku lewati?' Batin Alya yang mulai panik. Dika berjalan mendekatinya. "Al buku lo jatuh nih." Alya yang dari tadi hanya nundung akhirnya bisa mengangkat kepalanya dan melihat wajah Dika. "Oh, makasih ya" Alya mengambil bukunya yang di sodorkan Dika. "Kayanya lo buru-buru banget, sampe-sampe buku lo jatuh aja lo ga tau." Ujar Dika dengan tatapan yang membuat Alya deg-degan. "Iya, gue buru-buru. Gue duluan ya, tuh Yassa udah ngeliatin mulu dari tadi." Alya meninggalkan Dika. Ia kembali meneruskan jalannya untuk kembali ke tempat yang selalu membuatnya ingin pulang, Rumah. Dika hanya diam sambil memerhatikan tingkah Alya, lalu Dika melihat kembali Yassa. "Gue bingung sama perasaan gue sendiri."
Ujar Dika pelan.

****
"Baliiiii i'm cominggggg!!" Teriak Alya yang baru saja bangun dari tidurnya. Hari ini Alya dan keluarga tantenya akan liburan ke Bali. Alya langsung turun dari kamarnya dan menyambut hangat tantenya. "Kamu baru bangun Al?" Tanya tantenya. "Iya hehe, abis Mama ga bangunin aku sih." Alya menyalahi Mamanya. "Gitu tuh Dew, dia masih tergantung sama Mamanya. Kalo ga di bangunin pasti ga akan bangun-bangun." Jelas Mamanya ke Dewi, tante
Alya. "Mamaaaa" Alya tampak malu. "Yaudah kamu mandi sana." Seru tantenya. "Okeeee Tan!"

****
"Bali...." Seru Alya setelah Ia turun dari pesawat yang sudah mendarat di Bandar Udara Ngurah Rai. "Harus have fun!!" Alya dan keluarga tantenya langusung menuju ke Hotel untuk check-in. "Thanks tante udah pilih Hotel deket Kuta..." Ujarnya sambil memeluk Tantenya. "Iya sayang, have fun ya! Dont be galau terusss" Ujar Tantenya dengan nada semangat. Alya cukup terkejut dengan ucapan Tantenya. 'Galau? Kok Tante bisa tau kalo akhir-akhir ini aku lagi galau max?' Ujarnya dalam hati. "Hehe iya Tan." Alya hanya cengengesan.
"Al, Kamu laperkan? Ayo siap-siap kita makan di Bebek Bengil." Seru Tantenya. Alya yang dari tadi sedang sibuk menulis sesuatu di selembar kertas langsung terkejut. "Bebek Bengil yang viewnya sawah itu kan? Aaaaa indah banget Tan." Alya langsung bangkit dari duduknya dan segera ganti baju.

"Enak banget, Tan. Apalagi sambil liat view sawah hijau yang terpapar seperti ini, udaranya sejuk." Alya sangat menikmati detik-detik terindahnya tanpa memori of Dika. "Ya, pokoknya kamu nikmatin deh ini semua, Tante ngerti banget sama perasaan galau kamu itu. Tante kan pernah muda." Singgung Tante. "Tante tau

dari mana kalau aku lagi galau?Kayanya aku ga pernah cerita." Alya menampakkan rasa bingungnya. "Hey, kamu lupa ya? Tante kan tau kalo kamu udah pacaran sama Dika dari kelas 3 SMP. Dan kemaren Tante tanya ke Mama kamu. Katanya kamu sama Dika baru putus. Ya tante taulah perasaan kamu sekarang." Jelas Tante Dewi. "Ah Tante, aku sayang Tanteeee." Alya memeluk Tantenya. "Tan, udah 1 Bulan aku jalani hari dengan ke hampaan. Aku pendam semuanya sendiri dan bodohnya aku ga pernah sadar, kalo aku punya orang-orang yang sayang sama aku. Orang-orang yang bisa bikin aku hidup tanpa air mata sedikitpun. Aku bodoh Tan." Air mata Alya menetes. "Udah, kamu jangan nangis. Kehilangan memang membuat kita ngerasa sendiri. Bahkan di tempat ramai sekalipun kita bisa merasakan sepi.Pasahal tanpa kita sadari namyak orang yang peduli dengan kita. Kamu wajar kok kaya gini, karena wanita memang sangat perasa." Tante Dewi mengelus-ngelus pundak Alya. "Masa Tante udah ngajak ke Bali kamu masih sedih sih? Inget, Have Funnnn!" Tante menyemangati, menghapus air mata Alya. "Makasih banyak Tanteee" Alya tersenyum dan menghapus Air matanya.

Waktu sudah menunjukan pukul 6 kurang sore. "Akhirnya bisa menikmati detik-detik sunset di Pantai Kuta." Ujar Alya melangkahkan kakinya yang tanpa alas di atas
pasir putih yang lembut. Hembusan angin menyentuh pipi Alya yang mulus. "Aku ga akan mau, moment ini berhenti. Keindahan seperti ini malah membuat aku ingat sama kamu. Kamu adalah keindahan yang sepantar dengan keindahan apapun di dunia. Aku ga bisa bohong, sekarang aku kangen banget sama kamu Dika." Alya duduk di atas pasir putih. Lagi-lagi air matanya menetes. Alya menuliskan sesuatu di atas pasir. "I miss you Dika." Tulisan itu seketika terhapus oleh ombak. Alya hanya tersenyum melihat kejadian itu. Alya memjamkan matanya dan menarik nafas panjang "Alyaaa! Itu tandanya kamu ga boleh kangen sama Dika. Dia ga butuh aku kangenin. Dan air mata ini terlalu berharga dan ga pantes untuk diteteskan hanya karena Dika." Ujarnya pada dirinya sendiri.

Alya mengeluarkan secarik kertas yang tadi telah Ia tulis.

'Dear Neptunus. Aku utusan Agent Kuggy. Hihi ga resmi sih. Tapi aku bisa bikin perahu kertas. Nus Aku lagi bimbang nih, kaya ombak di Pantai Kuta. Ternyata melupakan sama sulitnya seperti aku ingin mengingat sesuatu yang tidak aku ingat. Aku mohon, terima surat ini. Hanyutkanlah kenangan dan masa lalu yang selalu menghantui aku, hanyutkanlah bersama perahu kertas ini. Aku sadar, dunia ini terlalu indah jika harus di dampingi oleh masa lalu. Semoga melupakan dia, melepaskan dia semudah aku melepaskan perahu kertas ini. Bisa menghanyutkannya hanya dengan menutup mata.' 

 Alya melipat secarik kertas itu menjadi perahu. Dan menghanyutkannya ke pantai. "Selamat tinggal Dika, masa lalu yang akan segera berlalu,semoga."

by @fhafha93 :) Ditunggu komentarnyaaa :D