"Aku kira Bali bisa jadi tempat berakhirnya kenangan ini. Tapi
ternyata, keindahan Bali tak mampu untuk mengalahkan keindahanmu
dihatiku. Kamu masih jadi yang terindah di hati ini, meski pun kamu
telah menyakiti hatiku. Kenapa 2 kata itu hanya mudah untuk aku
ungkapkan saja? Kenapa sangat sulit untuk aku lakukan? "Move On"
Apa waktu 1 Bulan tidak cukup untuk aku bisa melupakan kenangan ini?
Apa perlu waktuku seumur hidup untuk aku bisa melupakan semua kenangan
yang telah terjalin selama 3 tahun? Apa benar kata Amira, cuma orang
yang amnesia yang bisa melupakan kenangan yang terjalin selama 3 Tahun
dengan cepat? Ya Tuhan, Engkau yang telah mempertemukan aku dan dia,
Engkau yang telah memperkenalkan cinta ini kepada ku dan dia. Jika ini
saatnya aku dan dia dipisahkan, pisahkanlah juga aku dengan semua
kenangan tentangnya. Hilangkanlah rasa sakit ini, karena aku percaya
cinta adalah anugerah yang indah yang telah Engkau berikan untuk aku dan
dia." Air mata Alya menetes lagi untuk ke sekian kalinya. Pagi-pagi
sekali, saat Ia baru terbangun dari mimpi yang tak seindah biasanya.
Mimpi buruk yang mengingatkan Alya dengan detik-detik kata "Putus" yang
terucap dari mulut Dika. "Sampai kapan aku pasrah dengan keadaan yang
menyakitkan ini? Sampai kapan aku dikendalikan dengan emosiku sendiri?
Rasanya aku ingin sekali memberontak, memberontak dari segala hal yang
telah menyakiti hatiku, tapi aku tak sanggup." Alya membuka jendela
kamarnya, menikmati hembusan angin pagi yang sejuk, yang terasa masih
sama, di tempat yang sama, hanya sekarang, Ia merasa dirinyalah yang
berbeda. "Andaikan, semua yang ada didunia ini abadi, keindahan yang
abadi pasti takkan pernah bisa berubah menjadi kesedihan. Ya Tuhan...
Aku ingin hidup abadi didalam kebahagiaan, bukan hidup abadi didalam
kesedihan dan air mata." Alya teringat oleh kenangan fisik yang telah Ia
simpan di laci kamarnya. Alya membuka lacinya, mengambil semua
barang-barang pemberian Dika, dan foto-foto dari berjuta moment-moment
yang telah mereka abadikan. "Andaikan... Kebahagiaan kita bisa seabadi
keindah yang ada di foto ini. tapi nyatanya, semua yang aku harapkan
sangatlah mustahil untuk bisa jadi kenyataan didunia nyata." Alya
memandangi fotonya dengan Dika satu-persatu. "Apa harus aku bakar
semuanya? Tapi apakah dengan membakar semua ini, kenangan aku dan dia
bisa menjadi asap yang bisa menyatu dengan angin dan akan ikut berlalu?
Tidak ada salahnya mencoba, toh semua ini ga ada artinya lagi, yang ada
hanya bisa membuat air mata ini menetes." Alya membawa semua
barang-barang yang bersangkutan dengan Dika ke halaman belakang.
"Ya Tuhan.. Aku ga sanggup." Alya terduduk lemah di halaman
belakang, air matanya terus mengalir. "Aku harus kuat!! Aku udah berani
jatuh cinta, maka aku harus berani di saat cinta itu menjatuhkanku!"
Alya menyalakan koreknya "Akan aku lakukan segalanya untuk mematikan
kenangan ini, jika menghanyutkan kenanganmu di Pantai Kuta ga berhasil,
maka hari ini, pagi ini aku akan membakar semua kenangan kita di sini,
tong sampah." Alya menjatuhkan sebatak korek kayu yang sudah berapi.
"Selamat tinggal kenangan, semoga kali ini kamu bisa meninggalkanku,
karena sampai kapanpun aku ga akan pernah bisa meninggalkanmu,
kenangan." Alya menangis sejadi-jadinya. Melihat semua barang yang
sangat Ia jaga dan kumpulkan selama 3 tahun, bisa lenyap hanya dengan
waktu sekejap.
Melihat asap yang mengebul di halaman belakang, membuat Mama Alya
penasaran. Apa yang telah terbakar. Mama Alya keluar dari dapur dan
berjalan menuju halaman belakang. "Alya, ngapain sayang kamu disini?"
Mama Alya sangat terkejut, Ia langsung berlari dan memeluka tubuh
anaknya itu yang sudah terduduk lemas sambil mengeluarkan air mata.
"Mamaaaa" Alya memeluk erat Mamanya balik. "Sayang, kenapa kamu
melakukan semua ini?" Tanya Mamanya yang masih dalam keadaan memeluk
Alya. "Ma, aku ga tau apa yang harus aku lakukan untuk ngelupain Dika.
Aku ga tau kenapa cinta yang katanya indah malah meninggalkan kenangan
yang sakit untuk dikenang. Ma, maaf kalo sekarang aku nangis-nangis
dipelukan Mama, padahal aku ingat, Mama udah ngelarang aku buat kenal
yang namanya cinta. bener kata mama, aku memang terlalu kecil dan
terlalu lemah untuk mengenal lebih jauh apa itu cinta Ma. Makanya
sekarang cinta bisa bikin aku jatuh kaya gini." Alya menangis di pelukan
Mamanya. "Sayang, jika kamu udah bisa mengenal apa itu cinta, maka
cinta pula yang akan mengenalkan dan mengajarkanmu bagaimana caranya
melupakan, semua butuh proses. Kamu ga perlu ngelakuin apapun untuk bisa
melupakan semua kenangan yang udah kamu jalanin bersama Dika, karena
semakin kamu berusaha melupakan, semakin kenangan itu akan menghantui
fikiran kamu sayang. Hati kamu cuma butuh waktu, untuk bisa terbiasa
dari rasa sakit." Mama Alya melepaskan pelukannya dan menghapus air mata
Alya. Alya masih saja menangis. "Kamu ga usah nangis, karena semakin
sering kamu nangis, semakin sering juga kamu ingat dia. dan rasa cinta
kamu akan semakin kuat sayang. Udah dong, masa yang baru pulang dari
Bali malah sedih kaya gini?" Mama Alya terus menghapus air mata yang
masih Alya teteskan. "Senyum dong, kamu bisa cerita apapun. Sekarang
anak mama udah dewasa, udah kenal cinta. Mama mau kok jadi tempat curhat
kamu. Udah jangan nangis, kamu bisa curahin semua rasa yang udah penuh
sesak dihati kamu." Mama Alya meyakinkan Alya untuk berhenti menangis.
"Makasih ya Ma, aku ga tau. Bisa serumit apa hati ini kalo sekarang aku
ga cerita sama Mama."
Alya mulai berhenti menangis, dan memberikan senyuman termanis untuk
Mamanya. "Iya sayang, Mama will always there for Alya" Mama Alya
mencium kening anaknya itu. 'Mama emang obat penenang aku, makasih Ma'
****
"Selamat Pagi... Semoga dengan membakar semua kenangan aku sama
Dika, aku bisa lupa gimana rasanya sakit hati." Alya selalu tersenyum
manis untuk menyambut hari baru, walaupun hatinya tak semanis
senyumannya. Alya sudah rapih dan siap untuk menjalani setiap detik
hidupnya. "Back to school! I hope i not back to memories of Dika."
Harapannya pagi ini. Saat perjalanan menuju sekolah, Alya ditawari
berangkat bareng oleh seseorang yang tak Ia kenal. "Dek mau bareng ga?"
Tanyanya. Alya memerhatikan cowok itu dari atas sampai bawah 'Seragamnya
seragam sekolah aku sih, tapi siapa ya?'
"Gausah deh kak, makasih ya atas tawarannya." Alya menolak tawaran
lelaki itu. "Oh iya gpp. Duluan ya!" Pamit lelaki itu. "Baik sih dia, ga
kenal tapi mau ditebengin, malahan nawarin. Tapi maaf deh. Aku ga kenal
jadi aku takut." Ujarnya sambil sedikit tertawa.
'Kelas itu tempat paling bersejarah untuk aku. Begitu menyakitkan
ketika aku melihat setiap sudut, dan saat itu juga aku teringat dengan
semua hal yang sering aku lakukan bersamanya. Di kelas, aku sering
bercanda dengannya, saat jam pelajaran aku sering lirik-lirikan sama
dia, saat jam istirahat aku makan bekal yang aku bawa dan aku makan sama
dia, di papan tulis itu, dika pernah menuliskan nama aku dan dia,
dilingkari dengan bentuk hati. Kenangan itu masih tersimpan hangat di
fikiran aku.Ya Tuhan, apa perlu aku pindah kelas? Tapi kata Mama,
semakin aku menghindari semuanya, akan semakin kuat kenangan ini.' Alya
tersadar bahwa Ia telah meneteskan air matanya pagi ini, di depan kelas.
Alya menarik nafasnya dalam-dalam dan mengupayakan diri untuk memasuki
ruang kelas. "Alyaaaa kangeen" Amira langsung menyambutnya dengan
pelukkan. "Gue jugaaaa" Alya berusaha terlihat bahagia pagi ini. "Ciyeee
yang abis liburan dari Bali, mana nih oleh-oleh buat gue." Sindir
Amira. "Tenaaang, gue udah beliin oleh-oleh kok buat sahabat gue
tercinta ini." Alya tersenyum dan langsung membuka tasnya. "Maaf ya cuma
ngasih ini." Alya menyodorkan bungkusan. "Wihhh gue cuma bercanda kali,
tapi seriusan nih?"
"Iyaaa Mir."
"Thanks ya, ohya gimana nih liburan lo? ketemu ga sama bule-bule
cakep?" Tanya Amira. "Hmmm banyak Mir bule cakep, tapi ga ada yang
deketin gue haha" Alya tertawa. "Makanya lo jangan galau mulu, gue yakin
pasti lo liat sunset di Pantai Kuta sambil galau-galau badai gitu. Iya
kan?Haha" Tebak Amira. Alya cukup kaget dengan tebakan Amira yang pas
sekali. "Loh tau dari mana lo? Sotoy ihhh" Alya menjulurkan lidahnya.
"Hmm nebak doang sih, ya maap kalo salah. Tapi semoga aja lo ga bohongin
gue." Ujar Amira. "Hihi lo emang peramal hati gue Mir, bener kata lo.
Gue galau badai pas liat sunset di Pantai Kuta." Alya mengakui, karena
Ia sudah berjanji untuk tidak berbohong apapun kepada Amira. "Hihi gue
hebat kan? Makasih lo udah jujur, Al menurut buku kumpulan kata mutiara
yang gue baca..." Belum Amira menyelesaikan ucapannya, Alya langsung
bilang "Buset dah, masa copast kata-kata dari buku sih haha ga
kreatippp" Ledek Alya. "Yeeee bukan copast dari buku kalee, kan gue cuma
menyampaikan apa yang telah gue baca." Jelas Amira. "Haha iya deh,
yaudah emang apa yang udah lo baca?" Tanya Alya. "Semua orang itu pasti
bisa move on, meninggalkan kenangan dan melupakannya. Lo tau kan? Cinta
itu soal rasa, yang ngerasain cinta itu hati. Dan saat kenangan itu
masih ada di fikiran lo, itu berarti hati lo yang masih mau buat stuck
sama kenangan yang pernah ada di hidup lo. Move on itu cuma butuh waktu
kok, waktu buat hati lo untuk terbiasa dari rasa sakit." Jelasnya dengan
mata yang meyakinkan. "Bener kata lo, nyokap gue juga bilang kaya gitu.
Selama ini, gue emang bodoh banget. Gue udah dibodohin dan dibutain
sama cinta. Gue udah nyiksa diri gue sendiri, dengan kebodohan gue. Dan
sekarang gue sadar itu." Alya mencoba untuk tersenyum dan terlihat
tegar. "Udah gausah sok tegar, kalo mau nangis, nangis aja nih di pundak
gue. Pundak gue selalu siap sedia buat nampung air mata lo." Amira
menepuk pundaknya, Alya tak kuasa menahan air matanya. Dan akhirnya Alya
menangis di pundak Amira. "Mir, gue ga bisa lupain Dika." "Melupakan
itu memang sulit. Apalagi melupakan hal yang indah, hal yang mau lo
kenang selamanya. Dan saat lo ingin melupakan kenangan itu, lo malah
mengenangnya sehingga kenangan itu terasa sakit. Udah, ini saatnya lo
move. Proses dibantu usaha mungkin lebih cepet. Gimana kalo gue, cariin
cowok buat lo?" Amira memberi saran. Alya yang sedang bersandar dipundak
Amira, seketika bangun dan terkejut. "What? Cariin cowok buat gue? Ga
ah, hati gue belum siap buat disakitin lagi." Alya menolaknya. "Gausah
langsung pacaran, kenalan aja dulu. Dan kalo cocok ga ada salahnya kan
mencoba?" Amira membujuk Alya dengan idenya itu. Alya berfikir sejenak.
"Hmm terserah lo deh, gue udah ga bisa lakuin apapun, otak gue udah ga
bisa mikir 'Gimana caranya lupain Dika?' Yang ada otak gue mikirin dia
terus." Akhirnya Alya menerima tawaran Amira. "Oke sip deh, BYE" Amira
langsung ngeloyor. "Dihdih, gece banget tuh anak." 'Ini adalah kesekian
cara yang akan aku coba, semoga kali ini Tuhan mengizinkan aku untuk
melupakanmu'
Langkah kaki itu, langkah kaki yang sangat Alya kenal. "Itu pasti
Dika." Beberapa detik kemudian, benar. Memang Dika yang baru datang.
'Kalo ngeliat kamu lagi sendiri, kayanya pengen terus sayang sama kamu.
Tapi disaat aku lihat kamu lagi sama dia, rasanya aku ingin membenci
kamu.'
'Alya, kenapa ya pagi ini aku seneng banget liat kamu. Aku ga tau
apa yang salah sama perasaan ini. Apa aku kangen sama kamu? Bodoh!
Kenapa aku bisa putusin kamu Al. Aku tau banget, sampai hari ini kamu
pasti belum bisa move on dari aku. Sama kaya aku, aku belum bisa move on
dari kamu.'
'Dika, andaikan kamu bisa denger apa kata hati ini, andaikan kamu
bisa membaca apa arti dari sorotan mata aku ke kamu. Andaikan kamu bisa
merasakan apa yang hati ini rasakan. Aku sakit banget, aku belum bisa
melepaskanmu dari benakku.'
'Aku faham Al, sama apa yang kamu rasain. Karena sekarang, aku juga
merasakan apa yang kamu rasakan. Bahkan aku merasakan yang lebih sakit
dari kamu. Karena aku telah menyakiti dua hati, hati aku dan hati kamu.'
Alya dan Dika hanya diam di dua sudut. Sesekali melirik, dan hanya
berbicara didalam hati, kata hati yang tidak akan pernah bisa didengar
oleh siapapun.
Disaat Dika sedang memperhatikan Alya dari jauh, disaat itu pula
Dika melihat ada seorang lelaki yang mendekati mantannya itu, mantan
yang masih Ia sayang.
"Hey Al!" Sapa lelaki itu. "Welly? Ada apa?" Alya terlihat bingung,
karena dia sudah membayar uang kas untuk 1 Bulan kedepan. "Engga,
gue..gue cuma mau.." Welly terlihat gugup. "Mau apa?" Alya penasaran.
"Mau.. Gue mau ngobrol aja sama lo." Akhirnya Welly bisa menjelaskan
maksudnya menghampiri Alya. "Oh boleh, tapi kok tumben banget sih?" Alya
masih bingung. Tapi karena Welly adalah lelaki yang cerdas, pintar
berbicara, dan berwawasan luas. Mereka nyambung, bahkan sempat tertawa
bersama.
Dari sudut lain, hati Dika hancur saat melihat Alya, orang yang
masih Ia sayang. sudah dapat pengganti yang bisa membuat senyuman di
wajah Alya.
'Ternyata aku salah, Al... Kamu udah Move On dari aku. Kamu udah
bisa senyum sama dia didepan aku.' Batin Dika. "Apa ini ya yang Alya
rasain, pas gue deket sama Yassa? Tapi gue kan ga pernah ketawa-tawa
sama dia, terus dia kok yang deketin gue, bukan gue yang deketin dia."
Ujar Dika pelan.
Dari sudut lain, Alya sibuk mendengarkan Welly, sambil sesekali Ia melirik Dika.
'Hmm ga ada respon apapun dari kamu. Bahkan kamu ga perhatiin sama
sekali. Aku semakin yakin, Dika udah hapus aku dari hidupnya.'
"Ohya Well, gue punya sesuatu buat lo." Alya mengorek-ngorek Tasnya.
"Nih oleh-oleh dari Bali dari gue." Alya menyodorkan bungkusan yang
berisi baju Bali. 'Padahal ini buat Dika, tapi udah lah. Dia pasti ga
akan mau terima.'
"Al, kenapa lo ga kasih ke gue? Biasanya kalo kita abis dari
mana-mana kita selalu kasih oleh-oleh." Ujar Dika pelan saat melihat
Alya memberikan oleh-oleh dari Welly.
"Wah Thanks ya Al, hmm gimana kalo sebagai gantinya, gue teraktir lo makan. Sore ini ya di Cafe Terys?" Ajak Welly. "Hmm boleh"
****
"Anak Mama mau kemana nih?" Tanya Mama Alya yang sedang menyiram
tanaman. "Mau jalan sama temen Ma" Jawab Alya dengan wajah malu. "Siapa
tuh temennya? pasti bukan Amira. Karena biasanya kalo kamu jalan sama
Amira, kamu pasti sebut namanya." Sindir Mama Alya.
"Emang bukan, tapi Mama ga boleh tau bangeeet." Ledek Alya. "Udah ya
Ma, udah telat nih. Byeee" Alya langsung pergi dan mencium pipi
Mamanya.
Alya pergi ke Caffe menggunakan Taxi. 'Welly lumayan sih, pinter,
manis, tinggi. Tapi kata orang-orang mukanya sangar. haha emang Dika
yang paling cute di kelas.' Alya senyum-senyum sendiri, lagi-lagi
teringat Dika.
"Hey Well, udah nunggu lama ya?" Tanya Alya yang baru sampai ke
tempat janjiannya itu. "Engga kok baru aja. Kamu udah aku pesenin ya,
kamu pasti suka sama makanan pesanan aku." Alya hanya mengangguk agak
bingung. 'Kok panggilnya aku kamu sih, kedengerannya aneh. Emang cuma
sama Dika panggilan itu terdengar sweet.' Beberapa menit kemudian,
pesanan Welly sudah datang. Pelayan yang membawa pesanan, tidak sengaja
menumpahkan minuman ke Welly. "Aduh mas, maaf saya ga sengaja" Pelayan
itu segera mengelap baju yang sudah basah oleh segelas orange juice.
"Aduh mba hati-hati dong, bego banget sih!" Bentak Welly sambil
menggebrak meja. Alya yang menyaksikan kejadian itu sangat terkejut.
'Ohmygod! Welly galak banget.....'
****
"Hallo Mir ada apa?"
"Gimana nih yang abis ngedate sama Welly?"
"Kok lo tau sih?"
"Kan Welly salah satu rekomendasi gue buat jadi cowok baru lo" Amira cengengesan.
"Oh jadi lo yang bikin Welly jadi deketin gue, haduuu"
Alya kesal.
"Kenapa emang? Keliatannya lo happy deh sama Welly."
"Awalnya emang gitu, tapi lo tau ga dia itu kasar banget, galak banget. Ga suka gue sama cowok kaya gitu."
"Masa sih? Yaudah tenang... Gue punya banyak stok. Nanti gue kasih tau ke lo ya disekolah."
"Aduh.. Yaudah deh seterah lo aja."
****
"Yang ini gimana?"
"Engga ah!"
"Yang ini ini?"
"Engga juga"
"Yang ini deeh"
"Dia namanya siapa?"
"Yess.. Soffie"
"Cewek banget namanya, SKIP!"
"Ini?"
"No way..."
"Aduh kapan sih yes waynya? Lo tuh nilai cowok dari tampang sama nama ya?" Amira mulai terlihat capek.
"Bukannya gitu Mir, hati gue ga bisa mengagumi lebih dari satu pria.
Hati gue masih stuck sama semua tentang Dika." Ujar Alya dengan nada
ingin mendapat pengertian. "Kayanya lo ga perlu cariin gue cowok. Move
On ga perlu cowok kok, Move On itu cuma butuh kesiapan hati. Kan lo
bilang, hati cuma butuh waktu untuk bisa terbiasa dari rasa sakit."
Amira mengangguk dan mengerti "Yaudah, rencana gue buat cariin lo cowok di batalkan."
"Yessss! Tapi thanks ya Mir, udah ngelakuin semua ini cuma buat gue."
"Iya sama-sama."
****
"Udah sepi banget ni sekolahan." Ujar Alya yang baru saja keluar
dari perpustakaan sekolah. Alya berjalan dengan cepat, sehingga Ia tak
melihat batu besar yang ada di depannya. Alya tersandung dan jatuh.
"Aduuuuh... Sakiiit." Alya kesakitan. "Mana duit abis lagi, naik apa nih
pulang? Kalo kaki kaya gini ga akan sanggup deh pulang ke rumah jalan
kaki." Alya kebingungan. Ia mencoba untuk bangun. Alya memaksakan
kakinya untuk berdiri. "Aduh sakit banget, hmm butuh keajaiban nih! Ada
kek gitu orang yang nawarin tebengan. Kalo sampe ada, gue bakal kasih
apapun yang dia minta!" Beberapa detik setelah Alya bernazar, ada
seorang lelaki yang menghampirinya. "Dek, kaki kamu kenapa?" Alya kenal
suara itu. "Kakak kelas yang waktu itu kan?" Tanya Alya. "Iya, kaki kamu
kenapa?"
"Tadi kesandung kak..."
Lelaki itu langsung turun dari motor, dan melihat keadaan kaki Alya. "Cuma keseleo, yaudah yuk naik. Bisa kan?"
"Bisa kak" Alya menaiki tubuhnya keatas motor itu. "Udah?"
"Udah kak, makasih ya?"
"Iya sama-sama. Nama kamu siapa?"
Tanya lelaki itu.
"Alya, kakak?"
"Irdan"
"Oooh..."
'Baru aja aku mau nyamperin kamu dan anter kamu pulang. Tapi udah
keduluan sama dia. Aku kan dari tadi udah sengaja nunggu kamu keluar
dari perpus.'
Batin Dika saat melihat niatnya mengantar Alya pulang sudah didahului oleh lelaki lain.
"Makasih ya kak! Maaf ngerepotin" Ujar Alya saat sampai di depan
rumahnya. "Iya sama-sama, ga ngerepotin sama sekali kok. Besok mau
bareng ga? Nanti aku jemput?" Tawar Irdan. "Aduh ga usah kak, nanti
ngerepotin." Alya terlihat tidak enak. "Engga lah, rumah aku kan deket
tuh di kompleks sebelah, jadi bisa sekalian." Jelas irdan.
"Hmm oke deh kak."
"Oke? Nanti aku jemput jam set7 ya?"
****
"Semoga Kak Irdan bisa bantu aku untuk Move On. Dika sebenarnya aku
ga mau melupakanmu, tapi aku ga mau juga menyiksa hati ini untuk terus
merasakan sakit. Semoga kita bisa bahagia dengan pasangan kita
masing-masing." Alya memandangi foto yang Alya ambil dari tongsampah
kemarin. Foto yang sudah sebagian terbakar. "Jika aku fikirkan, jujur
masih sangat menyakitkan. Karena hati ini masih sayang dan masih
merasakan kehilangan. Jika aku punya 1 permintaan, aku akan minta, tidak
ada cinta di antara kita, sehingga hari ini aku tidak menangisimu."
****
"Makasih ya kak" Ujar Alya saat turun dari motor Irdan. "Yap
sama-sama. Kalo butuh jemputan, telpon aku aja ya" Irdan sedikit
tertawa. "Haha iya kak, nanti aku telpon" Alya bergegas menuju kelasnya.
Sesampai di kelas. "Al lo tadi dianter siapa?" Tanya Amira. "Lo
ngintipin gue ya?" Ujar Alya kaget. "Bukan ngintipin, tapi ga sengaja
liat." Amira ngeles. "Dia itu Kak Irdan, gue ketemu dia udah 2 kali.
Awalnya dia....." Alya menceritakan awal mula kenal dengan Irdan.
"Semoga dia bisa jadi pengganti Dika ya."
"Amin, emang itu yang gue harapin. Semoga aja harapan gue kali ini
terwujud. Bisa dikasih kesempatan buat ngerasain cinta lagi saat cinta
ngejatuhin gue." Ujar Alya. "Wish all the best for ur heart deh!"
****
"Nih eskrim buat kamu de" Irdan menyodorkan eskrim yang telah Ia
beli. 'Kak Irdan kok bisa tau sih apa yang aku mau?' Batin Alya. "Thanks
kak" Alya meraih eskrim itu dan segera membukanya. Alya dan Irdan sudah
dekat hampir 3 bulan. "Kamu tau ga kenapa hanya dengan eskrim hati kita
bisa jadi tenang?" Tanya Irdan. "Mungkin karena manis kak, dan saat itu
hati kita lagi pahit-pahitnya." Jawab Alya. "Yap itu salah satunya,
tapi yang paling pas adalah Tuhan selalu kasih kita cara yang mudah
untuk melawan rasa sakit yang Tuhan kasih. Orang bilang setiap masalah
pasti ada solusinya. Nah maka dari itu, kita bisa ngerasa tenang dan
mendinganlah pas lagi makan eskrim atau coklat. Iya kan?" Jelas Irdan.
"Hmm bener tuh kak, Tuhan udah ciptain semuanya dengan sempurna. Udah
kasih kita mata untuk melihat, tangan untuk menyentuh, hidung untuk
bernafas, mulut untuk berbicara, dan hati untuk merasakan semua
kenikmatan yang udah Tuhan kasih." Ujar Alya.
"Dan Tuhan, udah ciptain rasa manis dan pahit untuk saling
melengkapi. Menciptakan kesedihan agar kita bisa bersyukur saat kita
merasakan apa itu kebahagiaan." Lanjut Irdan. "Dan Tuhan juga udah kasih
tau semua orang, gimana rasanya patah hati. agar kita bisa menjaga hati
kita untuk tidak patah." Alya tersenyum. "Hati kamu masih patah Al?"
Tanya Irdan seketika. "Kayanya iya kak, udah hampir 5 bulan aku
ngerasain sakit yang ga pernah berkurang." Jawab Alya dengan wajah
murung. "Mungkin Tuhan udah ciptain aku untuk menyatukan hati kamu yang
udah patah itu...." Ujar Irdan, Alya terkejut dengan perkataan Irdan.
"Kamu mau ga jadi pacar aku? Aku akan nyatuin hati kamu yang patah itu,
dan aku janji ga akan biarin siapapun untuk patahinnya lagi." Pertanyaan
Irdan kali ini membuat Alya sangat terkejut. Alya terdiam sejenak.
"Apapun jawaban kamu, aku akan tetap berusaha bikin hati kamu menyatu
lagi." Ujar Irdan sebelum Alya menjawab pertanyaannya itu. "Iya aku mau
kak" Jawab Alya yang masih saja menundukan kepalanya. Saat mendengar
pernyataan itu, Irdan langsung memeluk Alya. "Makasih ya Al"
****
Kabar Irdan dan Alya pacaran sudah sampai ke telinga Dika. 'Kamu
pantas untuk bahagia, dan aku pantas untuk tersakiti seperti ini. Karena
aku yang telah mematahkan hati kita, hati yang seharusnya tetap
menyatu. Waktu 3 tahun tanpa masalah untuk kita adalah waktu terindah
didalam hidup aku Al. Dan hanya dengan sekejap aku mengakhirnya. Maafkan
aku Al, aku sadar penyesalan ini sudah tidak ada artinya lagi, kamu
sudah jadi milik dia. Dan tidak mungkin kamu memilih kembali kepadaku,
orang yang telah merubah hari-hari indah kamu menjadi hari-hari yang
buruk.'
"Lo kenapa murung gitu Dik?" Tanya seorang perempuan yang
menghamburkan renungan Dika. "Tiba-tiba hati gue jadi nyesek banget
Mir." Jawab Dika. "Itulah ambas dari kebodohan lo Dik, Lo pacaran sama
Alya 3 tahun tanpa berantem. Sedangkan hubungan itu ga akan lengkap kalo
ga ada masalah, dan saat sedikit aja masalah dateng di antara hubungan
lo berdua lo langsung minta putus. Itu bodoh banget Dik!" Ujar Amira
agak sedikit emosi. "Walaupun hari ini gue liat lo sedih, gue tetep
bahagia. Karena Alya sahabat gue bisa lepas dari air mata yang selalu
menghiasi hari-harinya selama 5 Bulan!" Lanjut Amira. "Saat ini gue cuma
bisa berharap, berharap keajaiban. Tapi mana ada keajaiban yang dateng
buat orang sejahat gue. Mir jujur sejujur jujurnya, gue masih sayang
banget sama Alya, masih sama kaya 3 tahun yang lalu. Ga pernah berkurang
sedikitpun." Ujar Dika penuh penyesalan. "Iya gue tau, gue bisa lihat
dari mata lo. Tapi itulah cinta, penuh lubang. Kalo lo sampe salah pilih
lubang, maka lo bakal jatuh dari angan-angan lo setinggi apapun! Kalo
cinta masih mau maafin lo, gue yakin orang yang lo cintai bakal meraih
lo kembali dari lubang yang dalam itu." Amira menepuk pundak Dika.
"Berdoa yang terbaik buat kalian aja ya Dik!" Amira pergi meninggalkan
Dika yang akhirnya meneteskan air matanya. 'Penyesalan apapun memang ga
pernah ada yang indah'
****
'Hallo? iya gue yakin dia masih sayang banget. Oke sip!!'
'Dik gue pengen ketemu lo di taman sari ya jam 7'
Amira kembali menaru handphonenya setelah sms Alya.
****
'Sayang, ketemuan di Taman sari ya jam 7'
"Malam minggu kesekian yang aku jalani sama Irdan, tapi ga semanis
malam minggu yang aku jalani sama Dika selama 3 tahun. Kenapa ya Dik,
aku ga pernah bosen habisin waktu aku sama kamu." Ujar Dika sehabis
membaca sms dari Irdan.
Di satu sisi yang berbeda. "Amira ada apa sih ngajak ketemuan
segala? Udah tau gue lagi galau badai dan males kemana-mana." Komentar
Dika setelah membaca sms dari Amira.
Jam 7 Pas #TamanSari
"Mana si Mira, katanya ketemuan jam 7! Dasar tukang ngaret" Dika mundar-mandir sambil melihat jam yang ada di tangannya.
"Irdan mana sih?" Alya yang baru saja datang ke Taman Sari sibuk
mencari sosok Irdan, matanya mencari-cari ke sekeliling Taman. "Nah itu
dia!!" Alya langsung menghampiri Irdan.
"Hey!" Alya menyentuh pundak Irdan. Wajah Alya seketika berubah saat
lelaki yang Ia tepuk pundaknya itu membalikan badannya. "Alya??" Tanya
lelaki itu seraya tak percaya. "Dika lo kok ada di sini?" Tanya Alya
balik. "Amira yang suruh gue kesini." Mendengar jawaban itu Alya
langsung berfikir 'Pasti ini kerjaannya Amira, hmm rese sih. Tapi gpp
deh' Ujarnya dalam hati. "Lo kok bisa kesini?" Tanya Dika lagi. "Tadi
tuh Irdan ngajakin ketemuan. Makanya tadi gue kira lo itu Irdan." Jelas
Alya. "Oh... Al kenapa ya gue kok kangen banget sama lo!" Ujar Dika agak
malu-malu. "Ohya??" Alya tampak tak percaya 'Aku malah setiap
detik,menit,jam,hari selalu kangen sama kamu'
"Yes yes!! Akhirnya lo berdua bisa ngobrol bareng lagiiii" Ujar
Amira dengan suara pelan di balik semak-semak. "Rasanya pengen nyamper
mereka! Mana sih Irdan?? Lama bener!" Omel Amira.
"Al.. Kalo malam ini aku bilang kalo aku nyesel putus sama kamu,
kamu mau ga kasih kesempatan aku untuk jadi pacar kamu lagi?" Tanya
Dika. Alya hanya terdiam, sebenarnya Ia ingin menjawab 'mau' dengan
lantang, tapi tiba-tiba dia teringat oleh Irdan, yang sekarang telah
jadi pacarnya. "Aku...." *brrrukkkkk*
"Suara apaan tuh?" Ujar Dika saat mendengar suara tabrakan. "Apaan
ya? Kayanya ada yang kecelakaan deh!" Alya menunjuk daerah yang mulai
dikerumungin banyak orang.
"Waduh apaan tuh?" Amira yang dari tad fokus mengintipi Dika dan
Alya juga ikut mendengar. Akhirnya Amira keluar dari tempat
persembunyiannya.
"Mir, lo disini?" Tanya Alya kaget saat melihat Amira yang tiba-tiba
nongol. "Hehe iyaaa, eh itu ada apaan ya?" Tanya Amira. "Yaudah kita
liat yuk!" Ajak Dika.
Tubuh mungil Alya berusaha untuk melewati kerumunan orang-orang.
Begitupun dengan Dika dan Amira. "Misi ya Mas Mba.." Ujarnya. Saat Alya
berhasil melewati kerumunan itu dan berhasil melihat dengan jelas apa
yang telah terjadi, wajah Alya berubah drastis.
"Irdaaaan????" Alya langsung tertunduk mengoyak-oyak tubuh Irdan."
Begitupun dengan Dika dan Amira melakukan hal yang sama saat mereka
melihat Irdan sudah tergeletak tak berdaya di jalan dan berlumuran
darah.
"Al..." Ujar Irdan lirih. "Irdan, kamu harus kuat Dan kamu harus
kuat!" Alya berusaha minta bantuan. "Gausah Al..." Irdan menahan Alya
untuk pergi. "Al... Urusan aku disini udah selesai, kalian berdua udah
tau kan perasaan kalian masing-masing?" Ujar Irdan tersendat-sendat.
"Maksud kamu apasih? Dan aku gamau kehilangan kamu..." Ujar Alya dengan
penuh emosi, air matanya menetes membasahi wajah Irdan. Dika dan Amira
hanya terdiam menyaksikan percakapan Irdan dan Alya. "Al... aku kan udah
bilang.. aku akan menyatukan hati kamu yang patah itu, dengan atau
tanpa kita pacaran. Al aku udah sayang sama kamu dari dulu, dan saat
Tuhan patahin hati kamu, saat itulah aku menjalankan tugasku yaitu
menyatukan hati kamu yang patah itu" Irdan menghapus air mata Alya.
Irdan menyatukan tangan Alya dan tangan Dika. "Aku akan pergi dengan
tenang kalo kalian janji, terutama lo Dik, jangan patahin hati Alya
lagi..." Ujar Irdan. Dika mengangguk "Iya gue janji Dan."
"Al... Kalo kamu mau lihat aku bahagia, kamu jangan pernah ya
berhenti tersenyum, demi aku." Ujarnya kepada Alya. "Iya aku janji Dan,
terimakasih untuk semuanya yang udah kamu lakuin, aku janji akan terus
tersenyum untuk kamu." ujar Alya dengan air mata yang tak kuasa
terbendung.
"Mir, thanks ya lo udah mau bantuin gue, walaupun gue telat tadi, ga
liat di semak-semak sama lo, gue udah tau kok kalo Alya hatinya udah ga
patah lagi." Ujarnya kepada Amira. "Iya sama-sama Dan, itu juga gue
lakuin demi kebahagiaan Alya." Ujar Amira yang juga meneteskan air
matanya. "Ini saatnya gue pergi, walaupun kehadiran gue singkat di
antara kalian, tapi tolong kenang gue ya..." Tangan Dika yang dari tadi
memegang pipi Alya, terjatuh. "Irdaaan" teriak Alya, Dika dan Amira.
'Irdan... Kamu bener, Tuhan selalu kasih solusi dari setiap masalah.
Dan kamu adalah solusi aku untuk bisa menyelesaikan masalah aku. Kamu
memang malaikat yang telah Tuhan kasih untuk aku. Terimakasih untuk
semuanya, aku sayang kamu Kak Irdan......'
"Dika.. Aku ga akan pernah salahin kamu, karena aku tau Tuhan takkan
pernah salah telah mempertemukan kita." Ujar Alya dengan penuh
kebahagiaan. "Dan Tuhan juga pasti akan memisahkan kita dengan cara yang
indah nanti. Al.. Aku tau apa yang salah dari semua ini..." Ujar Dika.
"Apa?" Tanya Alya. "Saat kita menjalin hubungan 3 Tahun tanpa
pacaran, itu adalah saat-saat yang paling indah di dalam hidup aku. Dan
saat kita bertengkar, aku takut, keindahan itu pergi meninggalkan aku.
Maka dari itu, aku berfikir mending aku yang pergi meninggalkan
keindahan itu. Tapi nyatanya aku salah, yang ada malahan penyesalan yang
aku rasakan. Dan penyesalan itu hal yang paling sakit dari pada
apapun." Jelas Dika.
"Dik... Aku sadar Cinta tanpa cobaan itu ga akan pernah berasa
artinya. Karena cinta baru terasa begitu berarti saat cinta itu pergi
meninggalkan kita secara tiba-tiba." Ujar Alya.
"Kebahagiaan memang selalu datang pada waktunya ya? selalu datang setelah kita bisa melalui dan merasakan kesedihan."
"Karena Tuhan telah menciptakan kesedihan dan kebahagiaan itu satu
paket... Jadi kita pasti akan bisa menghargai kebahagiaan dan bisa
menikmati kesedihan."
"Jangan sampai diantara kita yang mau terpisahkan lagi ya? kalo
suatu saat aku minta kita pisah lagi, kamu jangan pernah mau
mengabulkannya. Karena aku ga mau, terjerumus dalam penyesalan lagi. Aku
harap ini adalah cobaan hubungan kita ya, aku ga mau jauh dari kamu
lagi" Pinta Dika.
"Pasti Dika... Aku juga ga mau jauh dari kamu lagi, hati aku ga akan
sanggup ngerasain sakit hati kaya gini lagi...." Mata Alya memandang ke
langit-langit yang biru. "Pasti di atas sana Irdan lagi senyum ngeliat
kita sekarang."
"Thanks Irdan!"
nyentuh banget. TeOoPe BeGeTe dech ceritanya.
BalasHapusNyetuh bgttt lhh ini..
BalasHapusizin copas kata2 bijaknya ya
Ceritny nyesss banget kak dihati aku :') *alebay :D wks~
BalasHapuskeren kak! terus berkarya ya :)
BalasHapus