Thankyou for coming :)

Rabu, 13 Februari 2013

Valen and Tino

Aku tertunduk, sesekali aku mencoba melihat matanya dengan tatapan baik-baik saja. Sore ini, di cafe biasa aku bersamanya. "Valen... Val... Len..." Panggilnya berulang-ulang. Aku pura-pura tak mendengarnya, tapi karena suaranya yang terus menerus mengganggu pendengaranku, akhirnya aku melihat kearahnya lagi. Sebenarnya aku rindu dia, aku ingin menatap wajahnya dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Tapi untuk kali ini sudah tak bisa, setelah kejadian yang menyakitkan itu terjadi diantara aku dan dia. "Apa sih No?" Tanyaku. "Maafin aku, aku gak sengaja ngelakuin hal ini." Ujarnya, entah sudah keberapa kali Ia mengatakan hal itu. "Tino.. Gak mungkin kamu gak sengaja, secara kamu tau Raisa itu sahabat aku, kalian saling kenal, dan kalian tau bahwa kalian orang yang paling aku sayang, tapi kenapa kalian tega ngelakuin hal ini?" Ujarku dengan penuh emosi, aku tahan air mataku sekuat hati, karena aku tau, Tino atau Raisa tak pantas untuk aku tangisi. "Maaf.. Itu semua aku lakuin karena..." Aku potong perkataannya. "Karena apa? karena cinta? aku tau cinta itu emang buta, tapi sebuta-butanya cinta kamu harusnya bisa bedain mana cinta yang asli, atau cinta yang cuma nafsu! Kita gak akan bisa mencintai 2 orang sekaligus No, kecuali saat itu kamu udah gak cinta lagi sama aku.." Kali ini air mataku menetes. "Engga! Aku masih cinta sama kamu, aku masih sayang sama kamu Len.." Ujarnya tegas. "Kalau kamu cinta, dan sayang sama aku, kamu gak mungkin ngeduain aku. kamu gak mungkin ngelakuin ini, karena kamu gak akan pernah mau air mata orang yang kamu sayang, menetes karena kamu.. Cinta gak pernah nyakitin, kalau cinta itu gak berubah jadi nafsu. Kamu mencintai 2 orang, itu berarti bukan cinta, tapi nafsu!" Dengan emosi aku menggebrak meja, tak heran jika semua orang melihat kami berdua, saat aku menyadari percakapan kami sudah menjadi perhatian orang-orang di dalam caffe itu, aku pergi dengan air mata yang menetes. Tino tak mencegahku, mungkin menurutnya memang sudah tak ada yang perlu dibicarakan. semuanya sudah jelas, dia salah.

****

H-14 Valentine's Day. Valentine tahun ini akan menjadi Valentine terburuk bagiku, setelah 5tahun terakhir aku selalu bersuka cita merayakan tanggal 14 Febuari ini. Cinta memang tak pernah memakai logika, sekuat tenaga aku bilang "Orang yang udah bikin kita nangis, gak pantes untuk kita tangisin!" itu memang gak mudah buat di lakuin, apalagi orang yang bikin kita nangis itu, orang yang kita sayang. Mustahil banget kalau kita gak nangis.
Aku melihat kedua mataku sudah bengkak, 2 hari kebelakangan ini memang aku tak henti-hentinya menangis. Masalahnya bukan karena patah hati, tapi karena aku terlalu kecewa dengan dua orang yang aku percaya dan aku sayang. Ternyata mereka gak lebih dari seorang pengkhianat. Suara ketukan pintu terdengar. "Bi kan udah dibilangin, aku lagi gak mau di ganggu dulu!" Teriakku. Ketukan itu masih saja terdengar. Dengan kesal aku membuka pintu kamarku. Dengan mata bengkak aku membuka pintu. "Ngapain lo disini?" Aku segera menutup pintu kembali, tapi sudah terlanjur ditahan oleh Raisa. "Len izinin gue jelasin dulu!" Ujarnya. "Gak ada yang perlu dijelasin! Semuanya udah jelas, lo dan Tino udah khianatin gue, apapun itu alasannya!" Teriakku. Tenaga Raisa yang kuat mengalahkan tenagaku yang lemas, secara sudah 2 hari aku mogok makan. Akhirnya Raisa berhasil masuk ke dalam kamarku. "Len maafin gue! Gue ngelakuin ini karena cinta udah butain gue." Raisa memohon. "Stop nyalahin cinta! Cinta memang membutakan, tapi cinta cuma ngebutain mata hati lo! Bukan mata lo yang sebenarnya! Lo masih bisa liat kan, kalo Tino itu orang yang paling gue sayang! Gue sama Tino udah pacaran 5 tahun! dan lo tega ngelakuin hal ini?! Hati lo kemana?!" Ujarku dengan pandangan tajam ke arahnya. "Tapi gue gak bisa mengendalikan hati gue Len! Seharusnya lo ngerti!" Ujarnya. "Gue harus ngertiin lo? Buat apa? lo aja gak ngertiin perasaan gue kan? gue aja masih gak ngerti apa yang ada di fikiran lo, sampe-sampe lo tega ngelakuin ini semua!" Nada bicaraku semakin tinggi. "Gue marah sama lo bukan karena cinta, atau karena lo rebut Tino dari gue, tapi gue marah sama lo karena gue terlalu sayang sama lo berdua, dan gue terlalu kecewa dan sakit!" Aku meluapkan emosiku malam ini, di kamarku dengan sahabatku. "Len, coba aja lo ada di posisi gue, lo bisa bayangin gak gimana perasaan gue?" Tanyanya. "Gue gak pernah tau gimana perasaan lo, karena gue gak akan pernah ngelakuin hal kayak gini! Apalagi karena cinta! Gue lebih milih sakit karena memendam cinta daripada harus mengungkapkan cinta kepada orang yang dicintai sahabat gue sendiri!!" Jawabku, masih dengan emosi. "Lo sok suci banget! Gak akan ada orang yang bisa bener-bener ngertiin perasaan orang lain, termasuk lo dan gue! Udah deh Len, seterah lo mau maafin gue atau enggak! Yang penting gue udah minta maaf!" Ujar Raisa, lalu Raisa pergi tanpa ada ekspresi menyesal sedikitpun di wajahnya. Aku sedikit terkejut, Bisa-bisanya Raisa secuek itu dengan mengucapkan "Sok suci lo!" Aku emang gak suci apalagi sempurna, tapi seenggaknya aku masih bisa mengakui kesalanku dan menyesal jika aku melakukan suatu kesalahan. Bener kata orang, jangan pernah terlalu sayang dengan orang lain, karena apapun statusnya, dia gak lebih dari orang asing yang kebetulan ada di kehidupan kita. Jangan terlalu sayang dengan oranglain, karena kita ataupun dia bukan malaikat yang bisa selalu baik dan benar, dan bisa memaafkan dengan mudah.

****

Berat sekali kakiku untuk bisa aku langkahkan ke sekolah, tempat dimana aku, Tino dan Raisa berkumpul disuatu ruangan, kelas. Untung saja sejak seminggu yang lalu tempat duduk rolling setiap hari, jadi aku gak duduk dengan Raisa. Hari ini ternyata aku duduk dengan Dimas, lumayan kenal sih, secara sering banget satu kelompok sama dia, orangnya baik, lucu, dan pintar. Lumayanlah buat tempat "Lirikan" ulangan harian hari ini. "Eh Len ngapain cekikikan sendiri." Suara itu mengejutkanku. "Eh engga gue tadi ngeliatin si itu tuh kejedot pintu." Aku pura-pura tertawa padahal tidak ada yang lucu sama sekali. Kan gak mungkin banget kalau aku bilang "Lagi mikirin lo Dim, buat nanti dijadiin bahan lirikkan pas ulangan." *Plakk yang ada dia langsung minggat dari tempat duduknya! "Oh gitu! Eh lo kok gak bareng sama Tino? dan barusan gue liat si Tino sama Raisa lagi berduaan di kantin." Mendengar pernyataan Dimas "Si Tino sama Raisa lagi berduaan di kantin" #Jleb! "Gue udah putus sama dia." Ujarku sok tenang. "Ha? Putus? Kok bisaa?" Dimas terlihat sangat kaget. "Dih selow aja kaliiii" Ujarku sambil menepak wajah Dimas yang kepo abisss. "Ceritain dong, kok lo bisa putus?" Tanyanya lagi. "Bukannya gue gak mau cerita Dim, tapi gue sakit kalau cerita tentang hal itu." Raut wajah sedihku mulai terlihat. "Aduh iya sorry ya, gue ngerti kok." Dimas terlihat sangat menyesal. "Iya gak apa-apa kok Dim, asalkan lo mau kasih contekan buat ulangan nanti." Ujarku sambil menjulurkan lidah. "Enaaaak ajeee!"

Saat pulang sekolah, aku melihat Tino dengan Raisa sedang jalan berdua menuju parkiran. Aku tarik nafasku dalam-dalam, dan kuhembuskan "Tenang Valen... Jangan nangis disini!!" Aku mencoba tersenyum didalam kesedihan, setidaknya aku tersenyum untuk diriku sendiri. "Woyy kenapa lu bengong sendirian disini?" Suara itu sangat mengejutkanku. "Aku melihat kearah belakang dan ternyata itu Dimas. "Siapa yang bengong. Dim anter gue pulang mau gak?" Dengan sepontan aku menyuruhnya. "Hmm boleh, kebetulan gue bawa motor." Dimas kelihatannya semangat banget, akhirnya kami pergi menuju parkiran khusus motor. "Ini motor lo??" Aku terkejut saat melihat motor yang... keren banget! ini motor merk luar negeri yang di incer sama om gue! Gak nyangka Dimas punya motor sekece ini! "Bukan! Nih motor guee!" Dimas menunjuk motor yang ada disebelah motor keren itu. Aku lebih terkejut lagi dari sebelumnya. "Ini motor lo? *jadulbanget*"
"Iya, apa tadi lo bilang?" Dimas sepertinya mendengar pernyataan aku tadi. "Motor lo unik banget:D" aku terpaksa berbohong, berbohong demi kebaikan gapapa kali ya.
Awalnya gak yakin bakal pulang pakai motor yang super jadul, mungkin ini motor diproduksi pada jaman purba kali ya. *Motor kayak gini mending dimasukin musium* ujarku pelan, dan ternyata Dimas mendengar ucapan aku yang super pelan itu. "Motor ini emang jadul, tapi motor ini gak bisa dimasukin musium, soalnya berarti banget buat keluarga gue." Ujarnya sambil menyetir. "Oh... Gitu ya." Aku merasa gak enak banget, gak enak naik motor ginian!
Akhirnya sampai juga di rumah. "Makasih ya Dimas" Aku tersenyum. "Iya, kalau mau dijemput sms aja ya!" Dimas menawari. "Hehe.. Iya iya" Aku langsung masuk ke dalam Rumah. "Valen..." Dimas memanggilku. "Apa Dim?"
"Helmnya mau dibawa masuk?"
Oh my godd!! Memalukan. "Oh haha iya iya ini, maaf ya Dim:D" Aku melepas helm yang kebesaran itu dan mengembalikannya kepada Dimas. "Hehe iya gpp. Yaudah gue cabut dulu ya, bye Valen.."
Dimas menggas motornya dan... asap kenalpotnya ngebul badaiiiii! "ohokohkokk"

****

Valentine semakin dekat, dan aku gak akan sanggup ngelewatin hari yang penuh cinta itu tanpa cinta. "Aku gak pernah benci sama kamu No, tapi hati aku terlanjur disakitin sama kamu. Kalau dengan melihatmu tidak mengingatkan aku akan luka, aku mau banget buat maafin kamu. Tapi setiap aku ngeliat kamu, rasanya aku kayak terlempar ke waktu saat aku lihat kamu lagi... eh hampir ciuman sama Raisa. Sumpah! Itu nyakitin banget No.." Air mataku menetes di kaca figura aku dan Tino. "Aku masih cinta sama kamu walaupun aku udah tau sisi buruk kamu, dan aku sadar kamu bukan sosok seseorang yang benar-benar sempurna lagi. Sampai kapanpun kamu hanyalah manusia yang pastinya punya kesalahan. Aku gak bisa mengatur hati aku saat jatuh cinta, dan juga saat aku lagi sakit hati kayak gini." Aku terus saja memandangi foto yang penuh kenangan itu. Aku masih belum mau melupakan dia. Waktu 5 tahun bukan waktu yang singkat, dan gak mungkin juga bisa ngelupain dia dengan singkat.

H-2 Valentine. Temen-temen udah pada sibuk nyiapin coklat buat orang yang special. Mulai dari pacar, sahabat, gebetan, dan orangtua. Apa perlu aku nyiapin coklat juga? ini cuma budaya "kebiasaan" bukan keharusan. Tapi masalahnya udah 5 tahun berturut-turut aku menjalankan kebudayaan ini! Aku menundukkan kepalaku, menutup kedua telingaku yang penuh dengan topik valentine. Rasanya pengen teriak "Stop!!" deh, tapi nanti yang ada di kira rada-rada. "Patah hati bikin aku ngerasa kaya gak punya siapa-siapa, Udah gak ada Tino apalagi gak ada Raisa." ucapku lirih, Aku masih dengan posisi tertunduk. Tiba-tiba terdengar suara hentakan kaki yang mendekat. "Valen.... Mau beli coklat gue? nih ada yang bentuk Teddy bear, bentuk lope, ada juga yang bentuk bintang..." Suara itu terdengar seperti suara sales yang sering ibuku usir. Aku menegakkan kepalaku. "Dimas? lo jualan coklat?" Aku terheran. "Iya, mau beli gak? masa lo gak beli sih? anak-anak juga pada beli ke gue."
"Engga ah! sana-sana jangan ganggu gue." Aku mengusir Dimas. Secara aku udah menghindar abis-abisan dari yang namanya coklat, pasti bikin flashback satu tahun yang lalu! "Yah masa lo gak mau.. Coklat di gue itu unik loh! Lo bisa request gambar wajah lo di atas coklat ini. mau ya??" Dimas terus saja berusaha, udah persis kayak seles! "Enggak enggak! Dim please jauh-jauh sana!" Aku berdiri dan mendorong Dimas agar segera menjauh. "Atau lo mau request coklat yang ada gambar gue? tenang gue udah siapin nih!" Dimas mengeluarkan sebungkus coklat dari kantung plastik yang ia bawa. "NO WAYYYYY!!!!"

****
Malam Valentine
*BunyiSMS*
"Raisa lo lagi ngapain? Jalan Yuk!"
Awalnya aku seneng banget, secara yang muncul di layar HPku adalah nama Tino. Tapi, isi smsnya? Raisa? Bales gak ya?.........bales deh!
"Raisa?"
Sedetik, semenit, tiga menit, sepuluh menit, belum dibales juga. 1 Jam kemudia....
"Sorry Len, salah kirim. hehe"
Udah lama gak sms, giliran sms malah salah kirim. Sengaja atau gimana? mau bikin aku cemburu? bisa banget ya. Malam menjelang Valentine ini bener-bener suram banget! Giliran besok deh, ada yang ngasih coklat ke aku gak ya?
****

Semua pasangan kayaknya mengumbar-umbarkan kemesraan hari ini. dan aku cuma bisa jalan sendiri, keliatan banget jomblonya. Sesampai di depan gerbang aku melihat pemandangan yang gak enak banget. Dimas ngasih coklat ke Tino. Kayaknya Tino beli coklat Valentine buat Raisa deh. Fix penderitaanku dihari Valentine ini lengkap! Aku percepat langkahku ke dalam kelas. "Sampai kelas, tundukin kepala dan gak boleh ngelirik-lirik Tino!" Aku tekatkan didalam hati.

"Mengkerut aja lo Valentine kayak gini? Mending beli coklat di gue, terus makan deh sama lo!" Dimas menawarkan dengan senyum yang sangat merekah. "Dasar seles. Temen lagi galau masih aja nyari keuntungan! Sana sana gue mau sendiri!" Aku usir lagi Dimas untuk kesekian kalinya. "Bukan gitu maksud gue, kan biar lo bisa lebih enak. Orang galau kan bisa disembuhin sama coklat."
"Bagus sih niat lo, tapi lebih baik lagi kalo lo kasih coklat gratis buat gue!"
"Nanti ya kalo Valentine udah selesai, soalnya takut ada yang order lagi nih!"
"Berarti gue dikasih sisaan dong? parah banger sih lo."
"Tenangggg rasanya sama aja kok Len, oke oke? Udah ya jangan galau lagi?" Dimas mengelus kepalaku.
Aku hanya diam mematung. "Dimas ternyata sweet banget ya?" Ujarku pelan saat Dimas melesat pergi dari penglihatanku.


*BelPulangSekolah*
"Thanks ya sayang....."
Aduhh pemandangan di depan aku sungguh bikin envyyyyyy!
Ku percepat langkah kakiku menuju kantin, coba ah beli coklat buat dimakan sendiri. Dalam perjalanan aku melihat Dimas sedang berjalan ke arah yang berbeda, di depan aku, ke arah aku. Dia memegang sekotak coklat. "Jangan-jangan coklatnya buat gue lagi? Aduh harus pasang ekspresi apa nih? hmmm." Semakin dekat, semakiiiiiiin dekat dan ternyata dia gak berhenti di depan aku? dia jalan terus. Dan aku perhatikan mau kemana Dimas sebenarnya. dan ternyata dia berhenti di depan Raisa? "Raisa? kenapa harus Raisa?" Geramku. "Dia kan pacar Tino! Masa gak ada satupun sih cowok yang kasih gue coklat??" Aku membalikan badanku, aku tak mau melihat kejadian yang menyakitiku lagi. saat aku ingin melangkah pergi, ada seseorang yang memanggilku. "Len.. Tunggu!" Aku kenal suara itu, Tino! Dan ternyata bukan. eh eh tapi tunggu ternyata iya! Tino yang ada di belakang cowok yang ada di depan aku. "Tino??"
"Hey Len, apa kabar?"
"Baik, kamu?"
"Baik, hmmm Len... Happy Valentine's day ya. Ini buat kamu."
"Kok buat aku? kamu kan sekarang udah pacaran sama Raisa? iyakan?"
"Kata siapa? hahahahahahaha" Tino ketawa sangat kencang sekali, tampak wajah kepuasan di wajah Tino. "Kok ketawa sih? emang ada yang lucu?" Ku tampakkan ekspresi kesal di wajahku. "Dimas, Raisa sini!" Tino memanggil mereka. "Ada apa sih No?" Aku bingung dengan semuanya. "Len.. Menurut lo logis gak kalo gue sama Tino selingkuh di belakang lo?" Tanya Raisa. "Engga, tapi kan mungkin aja, cinta kan gak pake logika." Ujarku ketus. Secara aku masih sangat kesal. "Jadi gini... Semua ini tuh cuma SANDIWARAAAAA." Raisa, Tino dan Dimas berteriak dengan penuh ke bahagiaan. Aku hanya menampakkan ekspresi datar. 'Apa ini mimpi? endingnya? nyebelin bangeeeeeeeeeet!!!'
"Lo semua ngerjain gue? ih gak lucu banget sih!!" dengan wajah kesal aku pergi meninggalkan mereka bertiga. "Yah dia marah! gue gak ikut-ikutan loh!" Ujar Dimas.

"Mereka gak asik banget sih? masa perasaan dijadiin mainan? nyakitin banget!" Aku bingung, aku harus senang? marah? atau nangis? tapi yang pasti itu semua aku rasain sekaligus. Aku membuka kotak yang diberikan oleh Tino. Ternyata isinya coklat berbentuk hati, yang di atasnya ada gambar aku dan Tino. "Ternyata Dimas bener ya ada coklat yang kayak gini" Aku sedikit tertawa. "Gimana suka gak?" Suara Tino terdengar di belakangku. "Bercanda kamu gak lucu tau gak sih?!" Aku masih kesal. "Maaf ya kalo bercandanya nyakitin hati kamu, aku cuma mau kasih kesan yang berbeda di Valentine Tahun ini. Aku mau jadi cowok yang paling unik buat kamu, aku mau detik ini tuh bisa selalu teringat sama kamu, sayang." Aku gak nyangka Tino bisa seromantis ini. "Tanpa kamu ngelakuin semua ini, semua kenangan kita gak ada kok yang bisa aku lupain.. Tapi bener sih kata kamu, dari kejadian ini aku ngerasa, kalo kehilangan kamu itu nyiksa banget dan aku gak mau hal itu jadi kenyataan. aku jadi tambah sadar, kalo kamu emang orang yang paling berarti." Aku memeluk tubuh orang yang udah bikin aku selalu bahagia di hari yang penuh kasih sayang ini. "Makasih ya sayang dan kamu tau gak? walaupun aku tau ini cuma sandiwara, tapi tanpa kamu 2 minggu lebih itu rasanya nyiksa banget tau!" Ucapan Tino membuat pipi ini terasa panas, Kaya baru pertama jadian. "Coba bayangin gimana rasanya jadi aku?haaaa" aku mencubit perut Tino yang sekarang kayanya buncit. "Tino perut kamu gendut ya?" Aku sedikit tertawa. "Iya nih, abisnya tanpa kamu aku galauuuu!" Ujarnya ngikutin gaya iklan kartu AS. "Korban iklan haha."
"Kalo galau kan bawaannya makan terus." Tino memang paling bisa bikin hidup aku benar-benar bahagia. Raisa dan Dimaspun datang, Aku segera memeluk Raisa. "Raisa maafin gue ya... Gue udah gak percaya sama lo."
"Haha itukan emang tujuan kita, bikin lo gak percaya sama gue. Tapi gue janji kok, gue gak akan pernah ngelakuin hal itu ke lo."
"Gue juga janji gak akan ngelakuin hal yang bisa bikin persahabatan kita hancur." Aku melepaskan pelukkanku. "Jadi kalian beneran pacaran?" Tanyaku kepada Raisa dan Dimas. Dan mereka berdua mengangguk. "Yeayyy kapan-kapan kita bisa double date dong!!"
"IYAAA...."
=The End=

Valentine's day itu hanya istilah aja kok, padahal tanpa adanya hari itu juga hidup kita udah penuh dengan cinta. dan kita gak perlu nunggu valentine buat ngungkapin perasaan yang indah itu. Happy Valentine's Day my readers. Have a sweet day ya:D - #ValenAndTino by @fhafha93