Aku tertunduk,
sesekali aku mencoba melihat matanya dengan tatapan baik-baik saja. Sore
ini, di cafe biasa aku bersamanya. "Valen... Val... Len..." Panggilnya
berulang-ulang. Aku pura-pura tak mendengarnya, tapi karena suaranya
yang terus menerus mengganggu pendengaranku, akhirnya aku melihat
kearahnya lagi. Sebenarnya aku rindu dia, aku ingin menatap wajahnya
dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Tapi untuk kali ini sudah tak bisa,
setelah kejadian yang menyakitkan itu terjadi diantara aku dan dia. "Apa
sih No?" Tanyaku. "Maafin aku, aku gak sengaja ngelakuin hal ini."
Ujarnya, entah sudah keberapa kali Ia mengatakan hal itu. "Tino.. Gak
mungkin kamu gak sengaja, secara kamu tau Raisa itu sahabat aku, kalian
saling kenal, dan kalian tau bahwa kalian orang yang paling aku sayang,
tapi kenapa kalian tega ngelakuin hal ini?" Ujarku dengan penuh emosi,
aku tahan air mataku sekuat hati, karena aku tau, Tino atau Raisa tak
pantas untuk aku tangisi. "Maaf.. Itu semua aku lakuin karena..." Aku
potong perkataannya. "Karena apa? karena cinta? aku tau cinta itu emang
buta, tapi sebuta-butanya cinta kamu harusnya bisa bedain mana cinta
yang asli, atau cinta yang cuma nafsu! Kita gak akan bisa mencintai 2
orang sekaligus No, kecuali saat itu kamu udah gak cinta lagi sama
aku.." Kali ini air mataku menetes. "Engga! Aku masih cinta sama kamu,
aku masih sayang sama kamu Len.." Ujarnya tegas. "Kalau kamu cinta, dan
sayang sama aku, kamu gak mungkin ngeduain aku. kamu gak mungkin
ngelakuin ini, karena kamu gak akan pernah mau air mata orang yang kamu
sayang, menetes karena kamu.. Cinta gak pernah nyakitin, kalau cinta itu
gak berubah jadi nafsu. Kamu mencintai 2 orang, itu berarti bukan
cinta, tapi nafsu!" Dengan emosi aku menggebrak meja, tak heran jika
semua orang melihat kami berdua, saat aku menyadari percakapan kami
sudah menjadi perhatian orang-orang di dalam caffe itu, aku pergi dengan
air mata yang menetes. Tino tak mencegahku, mungkin menurutnya memang
sudah tak ada yang perlu dibicarakan. semuanya sudah jelas, dia salah.
****
H-14 Valentine's Day. Valentine tahun ini akan menjadi
Valentine terburuk bagiku, setelah 5tahun terakhir aku selalu bersuka
cita merayakan tanggal 14 Febuari ini. Cinta memang tak pernah memakai
logika, sekuat tenaga aku bilang "Orang yang udah bikin kita nangis, gak
pantes untuk kita tangisin!" itu memang gak mudah buat di lakuin,
apalagi orang yang bikin kita nangis itu, orang yang kita sayang.
Mustahil banget kalau kita gak nangis.
Aku melihat kedua mataku sudah bengkak, 2 hari kebelakangan ini
memang aku tak henti-hentinya menangis. Masalahnya bukan karena patah
hati, tapi karena aku terlalu kecewa dengan dua orang yang aku percaya
dan aku sayang. Ternyata mereka gak lebih dari seorang pengkhianat.
Suara ketukan pintu terdengar. "Bi kan udah dibilangin, aku lagi gak mau
di ganggu dulu!" Teriakku. Ketukan itu masih saja terdengar. Dengan
kesal aku membuka pintu kamarku. Dengan mata bengkak aku membuka pintu.
"Ngapain lo disini?" Aku segera menutup pintu kembali, tapi sudah
terlanjur ditahan oleh Raisa. "Len izinin gue jelasin dulu!" Ujarnya.
"Gak ada yang perlu dijelasin! Semuanya udah jelas, lo dan Tino udah
khianatin gue, apapun itu alasannya!" Teriakku. Tenaga Raisa yang kuat
mengalahkan tenagaku yang lemas, secara sudah 2 hari aku mogok makan.
Akhirnya Raisa berhasil masuk ke dalam kamarku. "Len maafin gue! Gue
ngelakuin ini karena cinta udah butain gue." Raisa memohon. "Stop
nyalahin cinta! Cinta memang membutakan, tapi cinta cuma ngebutain mata
hati lo! Bukan mata lo yang sebenarnya! Lo masih bisa liat kan, kalo
Tino itu orang yang paling gue sayang! Gue sama Tino udah pacaran 5
tahun! dan lo tega ngelakuin hal ini?! Hati lo kemana?!" Ujarku dengan
pandangan tajam ke arahnya. "Tapi gue gak bisa mengendalikan hati gue
Len! Seharusnya lo ngerti!" Ujarnya. "Gue harus ngertiin lo? Buat apa?
lo aja gak ngertiin perasaan gue kan? gue aja masih gak ngerti apa yang
ada di fikiran lo, sampe-sampe lo tega ngelakuin ini semua!" Nada
bicaraku semakin tinggi. "Gue marah sama lo bukan karena cinta, atau
karena lo rebut Tino dari gue, tapi gue marah sama lo karena gue terlalu
sayang sama lo berdua, dan gue terlalu kecewa dan sakit!" Aku meluapkan
emosiku malam ini, di kamarku dengan sahabatku. "Len, coba aja lo ada
di posisi gue, lo bisa bayangin gak gimana perasaan gue?" Tanyanya. "Gue
gak pernah tau gimana perasaan lo, karena gue gak akan pernah ngelakuin
hal kayak gini! Apalagi karena cinta! Gue lebih milih sakit karena
memendam cinta daripada harus mengungkapkan cinta kepada orang yang
dicintai sahabat gue sendiri!!" Jawabku, masih dengan emosi. "Lo sok
suci banget! Gak akan ada orang yang bisa bener-bener ngertiin perasaan
orang lain, termasuk lo dan gue! Udah deh Len, seterah lo mau maafin gue
atau enggak! Yang penting gue udah minta maaf!" Ujar Raisa, lalu Raisa
pergi tanpa ada ekspresi menyesal sedikitpun di wajahnya. Aku sedikit
terkejut, Bisa-bisanya Raisa secuek itu dengan mengucapkan "Sok suci
lo!" Aku emang gak suci apalagi sempurna, tapi seenggaknya aku masih
bisa mengakui kesalanku dan menyesal jika aku melakukan suatu kesalahan.
Bener kata orang, jangan pernah terlalu sayang dengan orang lain,
karena apapun statusnya, dia gak lebih dari orang asing yang kebetulan
ada di kehidupan kita. Jangan terlalu sayang dengan oranglain, karena
kita ataupun dia bukan malaikat yang bisa selalu baik dan benar, dan
bisa memaafkan dengan mudah.
****
Berat sekali kakiku untuk bisa aku langkahkan ke
sekolah, tempat dimana aku, Tino dan Raisa berkumpul disuatu ruangan,
kelas. Untung saja sejak seminggu yang lalu tempat duduk rolling setiap
hari, jadi aku gak duduk dengan Raisa. Hari ini ternyata aku duduk
dengan Dimas, lumayan kenal sih, secara sering banget satu kelompok sama
dia, orangnya baik, lucu, dan pintar. Lumayanlah buat tempat "Lirikan"
ulangan harian hari ini. "Eh Len ngapain cekikikan sendiri." Suara itu
mengejutkanku. "Eh engga gue tadi ngeliatin si itu tuh kejedot pintu."
Aku pura-pura tertawa padahal tidak ada yang lucu sama sekali. Kan gak
mungkin banget kalau aku bilang "Lagi mikirin lo Dim, buat nanti
dijadiin bahan lirikkan pas ulangan." *Plakk yang ada dia langsung
minggat dari tempat duduknya! "Oh gitu! Eh lo kok gak bareng sama Tino?
dan barusan gue liat si Tino sama Raisa lagi berduaan di kantin."
Mendengar pernyataan Dimas "Si Tino sama Raisa lagi berduaan di kantin"
#Jleb! "Gue udah putus sama dia." Ujarku sok tenang. "Ha? Putus? Kok
bisaa?" Dimas terlihat sangat kaget. "Dih selow aja kaliiii" Ujarku
sambil menepak wajah Dimas yang kepo abisss. "Ceritain dong, kok lo bisa
putus?" Tanyanya lagi. "Bukannya gue gak mau cerita Dim, tapi gue sakit
kalau cerita tentang hal itu." Raut wajah sedihku mulai terlihat. "Aduh
iya sorry ya, gue ngerti kok." Dimas terlihat sangat menyesal. "Iya gak
apa-apa kok Dim, asalkan lo mau kasih contekan buat ulangan nanti."
Ujarku sambil menjulurkan lidah. "Enaaaak ajeee!"
Saat pulang sekolah, aku melihat Tino dengan Raisa
sedang jalan berdua menuju parkiran. Aku tarik nafasku dalam-dalam, dan
kuhembuskan "Tenang Valen... Jangan nangis disini!!" Aku mencoba
tersenyum didalam kesedihan, setidaknya aku tersenyum untuk diriku
sendiri. "Woyy kenapa lu bengong sendirian disini?" Suara itu sangat
mengejutkanku. "Aku melihat kearah belakang dan ternyata itu Dimas.
"Siapa yang bengong. Dim anter gue pulang mau gak?" Dengan sepontan aku
menyuruhnya. "Hmm boleh, kebetulan gue bawa motor." Dimas kelihatannya
semangat banget, akhirnya kami pergi menuju parkiran khusus motor. "Ini
motor lo??" Aku terkejut saat melihat motor yang... keren banget! ini
motor merk luar negeri yang di incer sama om gue! Gak nyangka Dimas
punya motor sekece ini! "Bukan! Nih motor guee!" Dimas menunjuk motor
yang ada disebelah motor keren itu. Aku lebih terkejut lagi dari
sebelumnya. "Ini motor lo? *jadulbanget*"
"Iya, apa tadi lo bilang?" Dimas sepertinya mendengar pernyataan
aku tadi. "Motor lo unik banget:D" aku terpaksa berbohong, berbohong
demi kebaikan gapapa kali ya.
Awalnya gak yakin bakal pulang pakai motor yang super jadul,
mungkin ini motor diproduksi pada jaman purba kali ya. *Motor kayak gini
mending dimasukin musium* ujarku pelan, dan ternyata Dimas mendengar
ucapan aku yang super pelan itu. "Motor ini emang jadul, tapi motor ini
gak bisa dimasukin musium, soalnya berarti banget buat keluarga gue."
Ujarnya sambil menyetir. "Oh... Gitu ya." Aku merasa gak enak banget,
gak enak naik motor ginian!
Akhirnya sampai juga di rumah. "Makasih ya Dimas" Aku tersenyum.
"Iya, kalau mau dijemput sms aja ya!" Dimas menawari. "Hehe.. Iya iya"
Aku langsung masuk ke dalam Rumah. "Valen..." Dimas memanggilku. "Apa
Dim?"
"Helmnya mau dibawa masuk?"
Oh my godd!! Memalukan. "Oh haha iya iya ini, maaf ya Dim:D" Aku
melepas helm yang kebesaran itu dan mengembalikannya kepada Dimas. "Hehe
iya gpp. Yaudah gue cabut dulu ya, bye Valen.."
Dimas menggas motornya dan... asap kenalpotnya ngebul badaiiiii! "ohokohkokk"
****
Valentine semakin dekat, dan aku gak akan sanggup
ngelewatin hari yang penuh cinta itu tanpa cinta. "Aku gak pernah benci
sama kamu No, tapi hati aku terlanjur disakitin sama kamu. Kalau dengan
melihatmu tidak mengingatkan aku akan luka, aku mau banget buat maafin
kamu. Tapi setiap aku ngeliat kamu, rasanya aku kayak terlempar ke waktu
saat aku lihat kamu lagi... eh hampir ciuman sama Raisa. Sumpah! Itu
nyakitin banget No.." Air mataku menetes di kaca figura aku dan Tino.
"Aku masih cinta sama kamu walaupun aku udah tau sisi buruk kamu, dan
aku sadar kamu bukan sosok seseorang yang benar-benar sempurna lagi.
Sampai kapanpun kamu hanyalah manusia yang pastinya punya kesalahan. Aku
gak bisa mengatur hati aku saat jatuh cinta, dan juga saat aku lagi
sakit hati kayak gini." Aku terus saja memandangi foto yang penuh
kenangan itu. Aku masih belum mau melupakan dia. Waktu 5 tahun bukan
waktu yang singkat, dan gak mungkin juga bisa ngelupain dia dengan
singkat.
H-2 Valentine. Temen-temen udah pada sibuk nyiapin
coklat buat orang yang special. Mulai dari pacar, sahabat, gebetan, dan
orangtua. Apa perlu aku nyiapin coklat juga? ini cuma budaya "kebiasaan"
bukan keharusan. Tapi masalahnya udah 5 tahun berturut-turut aku
menjalankan kebudayaan ini! Aku menundukkan kepalaku, menutup kedua
telingaku yang penuh dengan topik valentine. Rasanya pengen teriak
"Stop!!" deh, tapi nanti yang ada di kira rada-rada. "Patah hati bikin
aku ngerasa kaya gak punya siapa-siapa, Udah gak ada Tino apalagi gak
ada Raisa." ucapku lirih, Aku masih dengan posisi tertunduk. Tiba-tiba
terdengar suara hentakan kaki yang mendekat. "Valen.... Mau beli coklat
gue? nih ada yang bentuk Teddy bear, bentuk lope, ada juga yang bentuk
bintang..." Suara itu terdengar seperti suara sales yang sering ibuku
usir. Aku menegakkan kepalaku. "Dimas? lo jualan coklat?" Aku terheran.
"Iya, mau beli gak? masa lo gak beli sih? anak-anak juga pada beli ke
gue."
"Engga ah! sana-sana jangan ganggu gue." Aku mengusir Dimas.
Secara aku udah menghindar abis-abisan dari yang namanya coklat, pasti
bikin flashback satu tahun yang lalu! "Yah masa lo gak mau.. Coklat di
gue itu unik loh! Lo bisa request gambar wajah lo di atas coklat ini.
mau ya??" Dimas terus saja berusaha, udah persis kayak seles! "Enggak
enggak! Dim please jauh-jauh sana!" Aku berdiri dan mendorong Dimas agar
segera menjauh. "Atau lo mau request coklat yang ada gambar gue? tenang
gue udah siapin nih!" Dimas mengeluarkan sebungkus coklat dari kantung
plastik yang ia bawa. "NO WAYYYYY!!!!"
****
Malam Valentine
*BunyiSMS*
"Raisa lo lagi ngapain? Jalan Yuk!"
Awalnya aku seneng banget, secara yang muncul di layar HPku
adalah nama Tino. Tapi, isi smsnya? Raisa? Bales gak ya?.........bales
deh!
"Raisa?"
Sedetik, semenit, tiga menit, sepuluh menit, belum dibales juga. 1 Jam kemudia....
"Sorry Len, salah kirim. hehe"
Udah lama gak sms, giliran sms malah salah kirim. Sengaja atau
gimana? mau bikin aku cemburu? bisa banget ya. Malam menjelang Valentine
ini bener-bener suram banget! Giliran besok deh, ada yang ngasih coklat
ke aku gak ya?
****
Semua pasangan kayaknya mengumbar-umbarkan kemesraan
hari ini. dan aku cuma bisa jalan sendiri, keliatan banget jomblonya. Sesampai di depan gerbang aku melihat pemandangan yang gak enak banget.
Dimas ngasih coklat ke Tino. Kayaknya Tino beli coklat Valentine buat
Raisa deh. Fix penderitaanku dihari Valentine ini lengkap! Aku percepat
langkahku ke dalam kelas. "Sampai kelas, tundukin kepala dan gak boleh
ngelirik-lirik Tino!" Aku tekatkan didalam hati.
"Mengkerut aja lo Valentine kayak gini? Mending beli
coklat di gue, terus makan deh sama lo!" Dimas menawarkan dengan senyum
yang sangat merekah. "Dasar seles. Temen lagi galau masih aja nyari
keuntungan! Sana sana gue mau sendiri!" Aku usir lagi Dimas untuk
kesekian kalinya. "Bukan gitu maksud gue, kan biar lo bisa lebih enak.
Orang galau kan bisa disembuhin sama coklat."
"Bagus sih niat lo, tapi lebih baik lagi kalo lo kasih coklat gratis buat gue!"
"Nanti ya kalo Valentine udah selesai, soalnya takut ada yang order lagi nih!"
"Berarti gue dikasih sisaan dong? parah banger sih lo."
"Tenangggg rasanya sama aja kok Len, oke oke? Udah ya jangan galau lagi?" Dimas mengelus kepalaku.
Aku hanya diam mematung. "Dimas ternyata sweet banget ya?" Ujarku pelan saat Dimas melesat pergi dari penglihatanku.
*BelPulangSekolah*
"Thanks ya sayang....."
Aduhh pemandangan di depan aku sungguh bikin envyyyyyy!
Ku percepat langkah kakiku menuju kantin, coba ah beli coklat buat dimakan sendiri. Dalam perjalanan aku melihat Dimas sedang berjalan ke
arah yang berbeda, di depan aku, ke arah aku. Dia memegang sekotak
coklat. "Jangan-jangan coklatnya buat gue lagi? Aduh harus pasang
ekspresi apa nih? hmmm." Semakin dekat, semakiiiiiiin dekat dan ternyata
dia gak berhenti di depan aku? dia jalan terus. Dan aku perhatikan mau kemana
Dimas sebenarnya. dan ternyata dia berhenti di depan Raisa? "Raisa?
kenapa harus Raisa?" Geramku. "Dia kan pacar Tino! Masa gak ada satupun
sih cowok yang kasih gue coklat??" Aku membalikan badanku, aku tak mau
melihat kejadian yang menyakitiku lagi. saat aku ingin melangkah pergi,
ada seseorang yang memanggilku. "Len.. Tunggu!" Aku kenal suara itu,
Tino! Dan ternyata bukan. eh eh tapi tunggu ternyata iya! Tino yang ada
di belakang cowok yang ada di depan aku. "Tino??"
"Hey Len, apa kabar?"
"Baik, kamu?"
"Baik, hmmm Len... Happy Valentine's day ya. Ini buat kamu."
"Kok buat aku? kamu kan sekarang udah pacaran sama Raisa? iyakan?"
"Kata siapa? hahahahahahaha" Tino ketawa sangat kencang sekali,
tampak wajah kepuasan di wajah Tino. "Kok ketawa sih? emang ada yang
lucu?" Ku tampakkan ekspresi kesal di wajahku. "Dimas, Raisa sini!" Tino
memanggil mereka. "Ada apa sih No?" Aku bingung dengan semuanya. "Len..
Menurut lo logis gak kalo gue sama Tino selingkuh di belakang lo?" Tanya
Raisa. "Engga, tapi kan mungkin aja, cinta kan gak pake logika." Ujarku
ketus. Secara aku masih sangat kesal. "Jadi gini... Semua ini tuh cuma
SANDIWARAAAAA." Raisa, Tino dan Dimas berteriak dengan penuh ke
bahagiaan. Aku hanya menampakkan ekspresi datar. 'Apa ini mimpi?
endingnya? nyebelin bangeeeeeeeeeet!!!'
"Lo semua ngerjain gue? ih gak lucu banget sih!!" dengan wajah
kesal aku pergi meninggalkan mereka bertiga. "Yah dia marah! gue gak
ikut-ikutan loh!" Ujar Dimas.
"Mereka gak asik banget sih? masa perasaan dijadiin
mainan? nyakitin banget!" Aku bingung, aku harus senang? marah? atau
nangis? tapi yang pasti itu semua aku rasain sekaligus. Aku membuka
kotak yang diberikan oleh Tino. Ternyata isinya coklat berbentuk hati,
yang di atasnya ada gambar aku dan Tino. "Ternyata Dimas bener ya ada
coklat yang kayak gini" Aku sedikit tertawa. "Gimana suka gak?" Suara
Tino terdengar di belakangku. "Bercanda kamu gak lucu tau gak sih?!" Aku
masih kesal. "Maaf ya kalo bercandanya nyakitin hati kamu, aku cuma mau
kasih kesan yang berbeda di Valentine Tahun ini. Aku mau jadi cowok
yang paling unik buat kamu, aku mau detik ini tuh bisa selalu teringat
sama kamu, sayang." Aku gak nyangka Tino bisa seromantis ini. "Tanpa
kamu ngelakuin semua ini, semua kenangan kita gak ada kok yang bisa aku
lupain.. Tapi bener sih kata kamu, dari kejadian ini aku ngerasa, kalo
kehilangan kamu itu nyiksa banget dan aku gak mau hal itu jadi
kenyataan. aku jadi tambah sadar, kalo kamu emang orang yang paling
berarti." Aku memeluk tubuh orang yang udah bikin aku selalu bahagia di
hari yang penuh kasih sayang ini. "Makasih ya sayang dan kamu tau gak?
walaupun aku tau ini cuma sandiwara, tapi tanpa kamu 2 minggu lebih itu
rasanya nyiksa banget tau!" Ucapan Tino membuat pipi ini terasa panas,
Kaya baru pertama jadian. "Coba bayangin gimana rasanya jadi aku?haaaa"
aku mencubit perut Tino yang sekarang kayanya buncit. "Tino perut kamu
gendut ya?" Aku sedikit tertawa. "Iya nih, abisnya tanpa kamu aku
galauuuu!" Ujarnya ngikutin gaya iklan kartu AS. "Korban iklan haha."
"Kalo galau kan bawaannya makan terus." Tino memang paling bisa
bikin hidup aku benar-benar bahagia. Raisa dan Dimaspun datang, Aku
segera memeluk Raisa. "Raisa maafin gue ya... Gue udah gak percaya sama
lo."
"Haha itukan emang tujuan kita, bikin lo gak percaya sama gue.
Tapi gue janji kok, gue gak akan pernah ngelakuin hal itu ke lo."
"Gue juga janji gak akan ngelakuin hal yang bisa bikin
persahabatan kita hancur." Aku melepaskan pelukkanku. "Jadi kalian
beneran pacaran?" Tanyaku kepada Raisa dan Dimas. Dan mereka berdua
mengangguk. "Yeayyy kapan-kapan kita bisa double date dong!!"
"IYAAA...."
=The End=
Valentine's day itu hanya istilah aja kok, padahal
tanpa adanya hari itu juga hidup kita udah penuh dengan cinta. dan kita
gak perlu nunggu valentine buat ngungkapin perasaan yang indah itu.
Happy Valentine's Day my readers. Have a sweet day ya:D - #ValenAndTino
by @fhafha93