Thankyou for coming :)

Jumat, 02 Januari 2015

Just The Way You Are #OnlyLove Part 5



Yubi

            Kemarin malam itu adalah malam yang paling panjang selama aku hidup. Gimana nggak panjang? Semalaman aku nggak bisa tidur mikirin Digra. Emang sih aku yang salah, pas di ke rumah, aku nggak nemuin dia. Tapi kalian tau dong cewek itu kayak gimana kalau marah?
Cuma bisa diem.
Pengen sendiri.
Pengennya di perhatiin; dikhawatirin.
Pokoknya dibujuk sama cowoknya.
Kayak Digra semalam. Tapi nggak tau kenapa, rasanya masih kesel banget sama Digra!

Mata aku sekarang merah akibat ngantuk.
Dan sembab akibat nangis semalaman.
Semoga aja Digra nggak ada di depan, semoga Digra belum jemput.
Biar aku bisa langsung kabur ke sekolah! (Amin)

"Hi, Bi."

Duh, Digra...

"Hi."
"Bi, Masih bete?" tanya Digra sambil menatapku dengan tatapan memelas.
"Menurut kamu?"
"Iya, gue ngaku salah. Gue kebanyakan nyeritain Delia di depan lo. Mungkin,
Itu karena lo belum kenal dia. Makanya gue pengen ngenalin lo sama dia. Biar ga ada
salah paham, Bi." Digra mencoba menjelaskan alasannya.
Oke, untuk masalah Delia aku bisa sedikit maklum.
Tapi....

"Bi, udah dong, lo masa ngga bisa ngertiin gue?"
"Aku nggak bisa ngertiin kamu? Terus kamu emang bisa ngertiin aku?
Apa kamu inget minggu ini cerpen aku terbit di majalah? Apa kamu nanyain soal
hal itu? Aku tau itu cuma cerpen biasa yang terbit di majalah biasa, nggak begitu penting
dibanding Delia, cinta pertama kamu itu!"

Aku bicara dengan lancarnya, bahkan sampai Digra ngga ngeliat kearahku, dia cuma nunduk, sambil membenarkan letak kacama matanya beberapa kali.

"Dan satu hal lagi, Denis, dia malah lebih care dari pacar aku sendiri. Kemarin pagi-pagi dia nanyain soal cerpen aku. Tapi kamu mana? Nggak ada sekalipun nanyain, ngga peduli sama hal itu. Jujur mis, aku kecewa."
Mataku mulai berkaca-kaca.
Digra cuma diem.
Lalu, Digra membuka tasnya.
"Majalah ini? Kalo Denis pagi-pagi sms lo nanyain majalah ini. Gue pagi-pagi udah keluar rumah nyari majalah ini."
Majalah itu ada ditangan Digra. Sumpah, hati aku langsung nyelekit pas ngeliat majalah yang aku maksud ada di tangan Digra. Ternyata Digra inget. Tapi aku malah nethink dan banding-bandingin Digra sama Denis.
Gak tau harus ngapain.

"Bi, udah, ya? Ini pertama kalinya kita ribut. Dan ternyata cuma salah paham, kan? Gue janji gak akan ngomongin Delia secara berlebihan ke lo. Janji." Digra tersenyum sambil memegang tangku.
Aku masih terpaku.
Masih amat sangat ngerasa bersalah udah giniin Digra.

"Kamu nggak marah tadi aku abis marah-marah sama kamu dan bandingin kamu sama Denis?"

"Nggak, gue juga salah, kok. Yang penting sekarang kita harus lebih dewasa kalau ada masalah, jangan cuma diem, tapi omongin baik-baik. Jangan marah-marah kayak tadi, nanti cepet tua, lho." Kata Digra sambil mencubit pipiku.

"Hmmmmm Digraaaa, makasih, maaf ya." Aku refleks memeluk Digra.

"Malu, Bi." komentar Digra. Aku langsung melepas pelukannya.
"Yuk berangkat." kataku sambil tersenyum. Senyuman ini berkat Digra. Emang cuma Digra yang bisa ngembaliin senyum aku walaupun aku abis nangis semalaman.
I Love You Mis.


Digra

            Semaleman nggak bisa tidur. Ini pertama kalinya gue ribut sama Yubi. Yubi yang biasanya ceria dan manja sama gue, tapi malem ini berubah dingin dan nggak mau nemuin gue pas gue samper ke rumahnya.
            Oke, dalam sebuah hubungan emang wajar ribut kayak gini. Tapi ini bener pertama kalinya gue ribut sama cewek. Bahkan saat sama Delia gue gak pernah berantem sama dia. Dari TK sampe terakhir gue ketemu pas lulus SMP gak pernah sekalipun.
Jadi ini pertama kalinya gue ribut sama yang namanya cewek.

Dan, ini majalah yang nerbitin cerpen Yubi. Gue udah baca cerpennya, dan ternya seru. Isinya tentang gue. Tentang awal gue dan dia ketemu. Tentang Love at first sigh. Yubi ternyata romantis. Gue nggak boleh kalah!

*****

"Bi, cerpen kamu bagus." gue to the point pas ngeliat Yubi bengong, kayaknya dia masih ngerasa nggak enak karena kejadian tadi pagi.
"Kamu udah baca?" Dia langsung keliatan antusias.
"Udah dong. Lo lanjutin nulisnya ya, tapi jangan nyeritain gue terus. Bacanya bikin nggak fokus."
Mendengar sindiran gue, pipi Yubi memerah.
"Kamu aja kepedean. Emang di cerpen aku ada nama kamu? Nggak kan." Yubi ketawa. Dan lesung pipit di bawah matanya mulai keliatan lagi. Gue perhatiin selama kenal Yubi, kayaknya lesung pipit itu cuma keliatan kalau dia lagi ketawa seneng, sama senyum yang bener-bener dari hati. Kemarin-kemarin gue nggak liat itu. Berarti dia…

"Besok nonton, yuk?" ajak Yubi.
"Nonton apa?"
            Jujur gue kurang suka nonton.Gue pernah nonton di Bioskop sekali-kalinya sama Delia. Gue lebih milih nonton DVD daripada nonton di Bioskop.

"Apa aja, yang penting Drama."

"Jangan dibiasain nonton Drama, nanti kamu makin Drama lagi."



Yubi

            Semenjak aku sama Digra ribut pagi itu. Aku nggak pernah denger lagi Digra ngomongin Delia. Digra nepatin janji. Tapi, Digra bilang minggu depan Delia kesini dan mereka bakal ketemu, dan aku bakal dikenalin sama dia.

Aku harus gimana?

            Tapi kalau dipikir-pikir, Digra bener, dia nggak mau ada salah paham lagi. Makanya dia ga nutupin apapun dari aku. Dan harusnya aku seneng punya pacar kaya dia. Tapi kadang, kalau dia terlalu jujur, itu bisa bikin sakit. Apalagi pas Digra jujur dia pernah suka sama Delia, eh bukan sekedar suka, tapi Cinta, ya cinta pertama.

Kenapa yang pertama itu nggak bisa dilupain?
Kenapa harus cewek lain yang jadi pertama buat Digra?
Kenapa nggak aku aja?
I'm so late.

            Pokoknya aku harus bisa bikin kesan yang ga bisa dilupain sama Digra. Semoga bisa bikin kenangan yang indah sama dia sampe-sampe dia ngga bisa move dari aku.
Jadi, aku gak gagal move on sendirian, deh.

"Bi, kok bengong? Mau nonton apa, nih?"

"Eh, nggak. Hmmm nonton apa ya?"
Kita udah di Bioskop. Pertama kalinya aku nonton sama Digra. Tapi aku bingung, padahal gak ada film yang bagus hari ini, tapi cuma maksa aja pengen nonton biar bisa jalan berdua sama Digra, biar hari minggu ini dia nggak ngajakin BELAJAR terus.

"Ini aja." aku tunjuk film yang covernya lagi pelukan. Mungkin, film romantis.
Digra hanya mengangguk. Menyetujui pilihanku.
Kami memasuki Theater, dan Film yang nggak jelas tentang apa itu pun sudah mulai. Lampu Theater sudah dimatikan. Dan karena ini Film baru tayang, jadi Theater pun masih penuh.

“Emang Film ini ceritanya tentang apa?” tanya Digra penasaran, mungkin karena banyaknya penonton.
“Seru deh pokoknya.” aku asal jawab.

Film pun dimulai.
Dan aku mulai tau ini film tentang apa.
Oh, God.


Digra

            Selera film Yubi ternyata kayak gitu ya. Covernya sih oke, tapi isinya. Udah mah tanpa sensor. Oke, mungkin buat sebagian cowok itu adalah hal yang menggairahkan. Tapi gue? gak suka,
Bukan berarti gue gak suka. Tapi film yang menayangkan adegan kayak gitu, menurut gue kampungan banget. Gak berkualitas.

            Tapi tenang, gue nggak ilfeel kok sama Yubi cuma karena hal kayak gitu.

            Cinta yang sesungguhnya itu timbul lewat pandangan, dan tumbuh dengan segala kekurangan yang sedikit demi sedikit mulai ketahuan. Dan gue rasain itu.
Semakin gue kenal Yubi, gue tau Yubi yang sebenernya, bikin gue bener-bener makin sayang sama dia.

Yeah, I love you just the way you are, Bi.


Baca part yang lainnya:
Part 1:  http://fhafha93.blogspot.com/2013/12/only-love-love-is-quickly.html
Part 2: http://fhafha93.blogspot.com/2013/12/only-love-i-love.html
Part 3: http://fhafha93.blogspot.com/2014/01/only-love-3-jealous.html
Part 4: http://fhafha93.blogspot.com/2014/04/peka-dong-onlylove-part-4.html

Thank you :)

Minggu, 28 Desember 2014

1st Anniversary with Kung ❤



29 Desember 2013 - 29 Desember 2014

K U

Ciyeeee kita setahun({})
First time buat aku sama kamu yaaa({})
Semoga ga nyampe segini aja ya kung...
Terus terus terus sampai kita nanti jauh... Semoga
Kamu bisa tahan walaupun nanti kita bakal LDRan:')

Setahun itu diliat-liat lama juga ya, tapi kerasanya kaya
Cepet. Tapi setahun ini bener-bener penuh perjuangan dan kenangan banget.
Berawal dari friendzone, sampe skrg aja masih gak nyangka bisa sama kamu
Sampai skrg:') Tentunya banyak yg berubah selama kita sama-sama.



Awal-awal kenal: I hate you!
Now : I love you so much kung, always more than you know.



Awal-awal jadian:
Me: haha (masih jaim)
You: Ketawa kamu lucu.
Now:
Me: HAHAHAHAHAHAHAAAA
You: udah U malu...

Awal-awal jadian:
#Disms
You: Dingin nih..
Me: Sana selimutan.
Now:
You: Dingin nih..
Me: ({})




Awal-awal jadian:
#Disms
Me: (sms)
You: (ga bales)
Me: (nunggu balesan)
You: Maaf baru bales (3jam kemudian)
Me: Gapapa, santai aja.

Now:
Me: (Sms)
You: (30 menit belum dibales)
Me: (kirim ulang sms)
You: (Ga bales)
Me: KUUUUUUNG
ME : WHERE ARE YOUUUU?



Awal-awal jadian:
#Disekolah
Me: (Nyariin kamu)
Diem aja, cuma ga bisa diem nyari nyari ke setiap sudut kelas.

Now:
Me: (Nyariin kamu)
Nanya kesetiap orang. "Kung mana?"
"Kung mana?"
"Liat kung ga?"
"Dimana siiiiiiiiiih?
#Namadisamarkan



Awal-awal jadian:
You: (Gemes) (Nyubitin pipi/idung aku)

Now:
You: (Gemes) (Nabok tiba-tiba) (tabokan cinta)
Pret



Awal-awal jadian:
You: I love you...
Me: I love you too... (Masih canggung)

Now:
Me: Please say anything... (Kode dulu)
You: I love you (mesti diminta)



Awal-awal jadian:
Belum terlalu sayang.
Me and you chat with another people :v
Dan timbulah rasa cemburu, lalu.... Berantem.... Baikan....
Jadi sayang... Makin sayang.... Tambah tambah sayang....
Sampe sekarang deh....

Now:
You still chat with another girls-_-v
Me : galau
Galau
Galau
Galau
Galau
Galau
Tapi sekarang, udah janji ga gitu lagi ya:')({})



Awal-awal jadian:
You: Aku ada film buat kamu... (Ga minta)
Me: Makasih ya:)

Now:
Me: Sayang...
You: Iya?
Me: Aku mau film Ini, sama ini, sama ini juga, sama ini juga deh,
    Eh ada lagi, tunggu.... Ini catetannya ya daftar film yg aku pengen,
    Downloadin ya:-*
You: Iya sayang... (Dalam hati w-_-w)



Awal-awal jadian:
You: Aku mau ke Bandung..
Me: Kapan?
You: lusa
Me: hmm... Ya udah, hati-hati ya.


Now:
You: aku mau ke Bandung.
Me: Kapan?
You: lusa
Me: Ya udah skrg kita bikin acara perpisahan ya. Aku mau ngomong banyak sama kamu.
    Jangan ini, jangan itu, smsnya jangan cuek, OTPan sama aku ya, kamu beli kartu m3
    Biar muraaah...
Gua lebay, emang....




Awal-awal jadian:
Me: (Curhat)
You: Yaudah makanya kamu harus bla bla bla bla (sampe setengah jam)
Me: (nunduk, pasang kuping) iya, iya, iya.

Now:
Me: (Curhat)
You: YYaudah makanya kamu harus bla bla bla bla (sampai satu jam)
Me: (nunduk, pasang kuping) iya, hmm, iya, iya kung...
*Untuk yang satu ini tetep nurut kok, selalu dengerin kalau dia lagi
  Ceramah. :-*



Awal-awal jadian:
#Keliatannya
You: Kamu dewasa...

Now:
You: Umur aja yang tua, kelakuan kaya anak kecil.
Sebenernya ada yg disensor dari kalimat diatas:')



Pas pedekate:
Me: (upload foto)
You: (comment) nice...

Now:
Me: (upload foto)
You: *GAK KOMEN GA LIKE GA DILIAT KALI-_-

Awal-awal jadian:
1st monthsarry
Me: (Send VN)
You: Wah... Ga sabar pengen didengerin nih...
Me: Jangan sekarang.... Di rumah aja.

10th monthsarry
Me: Kung bikin VN yuk....
You: Buat apa? Alay.
Me: Please...
You: No!
Me: PLEASEEEEEEE
YOU: ( NYERAH, MAU NGOMONG, JADI DEH VNnya)

Now:
KITA LDRAAAAAAAAAN



Masih banyak sih sebenernya, tapi udah ah maluuu:3



Miss you kung....
Hari ini udah berapa kali ya ngomong kangen:(


Inget banget pas terakhir kita ketemu, ceritanya mah acara perpisahan.

Aku nanya
"Aku dewasa gak sih?"
Kamu:
"Kalau matiin api gimana caranya?"
Aku, spontan jawab:
"Ditiup"
Kamu:
Berarti kamu belum dewasa, selalu nganggep semua masalah itu kecil,
Ga berpikir panjang. Blablablablabla.... (Pokoknya lama)
Aku: Terus jawaban yg dewasa apa?
Kamu: Kalau aku kasih tau, kamu nggak bakal dewasa, ntar juga tau kok.




Terus aku iseng nanya:
Pas tanggal tanggal segini dulu kamu udah suka sama aaku belum? (Kalau ga salah tanggal 17 des)
Kamu jawab dengan muka aneh:
Masa lu gak nyadar, pas itu gua 'bom bardir' smsin lu terus.
Me:
HAHAHAHA BOM BARDIR, HAHAHAHA BOM BARDIR, LEBAY LU.



Terus akhirnya aku jujur satu hal sama kamu:
"Pas awal kamu nembak aku, jujur kamu bikin ilfeel"
"Kenapa?"
"Kan kamu nembak malem, terus besoknya baru aku jawab kan,
  Sengaja tuh aku balesnya lama, eh kamu sms...."
"Kalau kamu gak nerima, ga apa-apa, tapi aku pinta, jangan
Bilang siapa-siapa kalau aku nembak kamu."
GA NIAT AMAT LUUUUU! (Hahhahahahaha jangan marah kung)
Tapi atas keberanian kamu, akhirnya kita sampai sekarang ya:')



Kung, do you know?
You are the only one in my heart. You too?:')
Thanks buat 12 bulan ini, gak pernah nyesel udah sama-sama
Kamu sampe sekarang. Maaf buat semua kesalahan aku, buat tingkah
Aku yang bikin kamu pusing, buat semuanya pokoknya:')

Kamu satu-satunya cowok yg bisa nerima aku segini adanya.
Kamu selalu bilang : "Walaupun kamu gendut, pendek, jerawatan, bawel, cemburuan,
Alay, tapi aku tetep sayang kok."
Itu kata-kata yang paling nyelekit, sekaligus nyenengin:'D
Kamu itu cowok abnormal, cerewet, ganjen, suka bikin cemburu,
Suka bikin nangis, suka ngomel juga, ambekan juga, suka ngancem
Ngancem, perhitungan, ga romantis, kadang mulutnya pedes.
But...
Kamu bisa bikin aku ketawa, seneng, dan nyaman dengan cara kamu
Sendiri. Makasih buat semuanya({})


Dear kung...
Semua kesalahan kamu, udah aku maafin, cuma ga bisa aku lupain.
Buat semua kesempatan yg aku kasih, semoga kamu bisa manfaatiin
Buat ga ngulangin lagi. Karena aku juga sadar aku juga banyak salah, dan
Setiap orang berhak dapet kesempatan buat berubah.
I trust you.

Sekali lagi, happy 1st anniversarry. I love you so much.



Jumat, 22 Agustus 2014

Dear 29...

Dear Kung... 29 Desember 2013... Tanggal yang nggak akan pernah aku lupain.
Tanggal dimana aku mutusin buat belajar mencintai kamu. Tanggal dimana aku mutusin buat keluar dari hati seseorang, dan masuk ke hati kamu.
Semua udah kita lewatin sama-sama, dari mulai perasaan itu sama sekali nggak ada, lalu berubah menjadi ada, dan semakin dalam, semakin dalam, sampai detik ini pun masih dalam.
Dari mulai aku dan kamu masih sama-sama kaku. Aku jadi inget, pas hari pertama masuk sekolah, hari pertama kita ketemu selama  kita pacaran. Waktu itu aku sama kamu kaya orang gak kenal, padahal sebelum kita pacaran pun kita udah deket, kita udah temenan, ya walaupun banyak ributnya sih, banyak berantemnya, jujur waktu itu kamu adalah cowok yang paling nyebelin yang pernah aku kenal, suka ngatain aku gendut, jelek, segala macem (sampai sekarang juga sih) dan gak tau kenapa sekarang kamu malah jadi cowok paling baik yang pernah aku kenal, cowok yang udah bikin aku ngerasa jadi diri sendiri, ngajarin aku banyak hal.

Sampai akhirnya kita bisa jadi pasangan beneran, aku sama kamu udah sama-sama sayang, udah bener-bener nyaman. Aku udah mulai ngerasain cemburu, kamu juga. Kita udah mulai berantem, dan kalau baikannya cepet banget. :'D

Aku seneng kung udah pernah bisa lewatin hari aku sama kamu, udah hampir delapan bulan ya? dan ternyata aku juga ga nyangka sih monthsarry 8th nya ga bakal ada :')

Aku tuh udah bener-bener nyaman sama kamu, aku bisa jadi diri aku apa adanya. Aku bisa ngelakuin hal-hal yang "aku banget" kapanpun aku mau.

Kalau aku marah, aku tinggal marah.
Mau mukul kamu, tinggal mukul.
Mau bercanda, bahkan setiap hari pun kamu selalu bercandain aku.
Bahkan kalau aku mau nangis, aku tinggal nangis di depan kamu, tanpa rasa malu sedikitpun.
Tapi aku ga tau, kalau setiap aku nangis, kamu juga terluka.
Aku kadang sengaja nangis di depan kamu, biar kamu tau apa yang sebenernya aku rasain.
Aku minta maaf ya kung, aku terlalu sayang sama kamu, makanya aku gampang cemburu, gampang marah, dan gampang nangis, padahal cuma hal sepele. Kita sering berantem gara-gara aku salah paham terus, gara-gara aku kadang nggak bisa ngertiin kesibukan kamu.

Sebelum kamu pulang, aku udah janji gak akan nangis lagi. Maaf ya kalau sekarang aku ga nepatin.
Aku nulis ini bukan buat apa-apa. Dan aku pun ga terlalu berharap kamu baca. Bahkan aku ga mau kamu baca.

Rasanya kaya baru kemarin kita seneng-seneng bareng.
Kata "sayang" dari kamu juga masih terngiang-ngiang di telinga aku.
Bahkan kalimat yang kamu ucapin pas nembak aku, aku masih inget.
Semuanya kerasa kaya baru kemarin kung.
Dan akupun nggak nyangka hari ini kita bakal kaya gini.

Aku minta maaf ya kung, kalau kamu ga suka aku nulis ini di blog, aku cuma bingung aja harus gimana. Malem ini aku ga bisa berhenti mikirin kejadian hari ini, padahal aku udah berusaha buat nerima, buat nepatin janji aku buat nggak nangisin kamu.
Tapi untuk saat ini aku belum bisa, semuanya masih kerasa banget kung.
Semua ngingetin aku sama kamu, dari mulai isi talenan aku, isi kamar aku yang ada barang-barang dari kamu, di kursi ruang tamu, di depan komputer pun pernah ada kamu. Bahkan aku pake gelang yang barusan kamu kasih, yang barusan kamu pakein di tangan aku. Aku nggak mau lepas, karena belum tentu kamu bakal pakein gelang ini lagi... Parfum kamu juga sekarang aku pake kung, aku bakal awet-awetin biar ga cepet abis, karena aku tau kamu ga bakal ngasih parfum kamu lagi.

Aku sayang kamu, bahkan setelah "Kita" udah ga ada lagi, masih sama rasanya.
Aku terima kok alasannya, aku juga ngertiin posisi kita sekarang. Udah kelas 3 SMA, harus fokus sama sekolah, sama UN, biar bisa masuk PTN yang kita inginin. Ini emang jalan terbaik buat aku ataupun kamu. Aku berharap usaha kita bisa berhasil ya, kita bisa sama-sama sukses, biar bisa jadi orang beneran.

Sekali lagi, makasih, kung.
Buat 7bulan 24hari kita.
Buat senyum yang udah pernah kamu ukir.
Buat tawa yang selalu kamu beri.
Buat air mata, yang udah bikin aku semakin kuat dan dewasa.
Makasih udah bisa jadi segalanya buat aku. Jadi Pacar, temen, sahabat, kakak, bahkan kadang-kadang jadi adik, dan juga jadi samsak yang bisa aku pukul kapanpun.
I Love You. Kamu adalah cowok abnormal yang bisa bikin aku jatuh cinta secara abnormal. :')
Coretan terakhirku bersamamu, semoga akan menjadi awal yang lebih baik lagi.
29 Desember 2013 - 22 Agustus 2014
With Kung.
 

Rabu, 09 April 2014

Peka dong! #OnlyLove part 4



Yubi

            Kamu masih inget, nggak? Minggu kemarin aku cerita kalau di dompet Digra ada foto dia lagi sama cewek, dan dia bilang kalau cewek itu sahabat dia dari kecil. Aku cemburu banget. Secara aku tau banget, persahabatan cewek-cowok kan pasti selalu berakhir dengan cinta. Entah dari satu pihak, atau keduanya.
            Semenjak aku tau Delia (nama sahabat Digra) dia jadi sering ceritain soal cewek itu ke aku. Mulai dari pertama mereka kenal, masa-masa SD, sampai SMP, dan termasuk kalau dia pernah suka sama Delia.
            Ok. Harusnya aku seneng. Soalnya itu pertanda kalau Digra itu ‘terbuka’ sama aku. Tapi harusnya Digra juga tau. Aku nggak suka kalau dia ceritain cewek lain dan dia puji-puji di depan aku, apalagi cewek yang dulu pernah dia suka. Digra bilang, Delia itu baik, riang, pinter apalagi di bidang olahraga, terutama basket, dan dia cantik. Itu bener-bener bikin aku nggak nyaman, ya, walaupun Digra bilang lebih cantikan aku, sih.
            Cemburu itu tanda sayang, kan? jadi, wajar dong kalau aku cemburu. Tapi rasa cemburu itu nyiksa banget, apalagi disaat yang dicemburuin nggak nyadar-nyadar, dan nggak berusaha buat jaga perasaan. Ya, kayak Digra sekarang.
            “Bi, kamu mau pesen apa?” tanyanya. Sekarang aku dan Digra lagi makan siang di Solaria. Udah dua jam aku muter-muter nyari kado yang pas buat sahabat aku, Marine. Dan perut kami demo, akhirnya kami memutuskan buat makan dulu.
            “Biasa.” kataku singkat. Digra pasti udah tau. Dan aku lagi males buat ngomong banyak-banyak.
            “Oke, nasi goreng udang dua, sama jus melon dua ya.” katanya. Tuh, kan, Digra tau yang aku mau. Setelah pelayan pergi untuk memenuhi pesanan kami, Digra mengalihkan pandangannya ke aku. Aku lagi nopang dagu, sambil cemburut. Ya, aku emang paling nggak bisa nyembunyiin perasaan, kalau aku lagi bete, ya gini deh ekspresinya.
            “Lo kenapa?” tanyanya penuh perhatian. Digra pasti tau kalau aku lagi kenapa-kenapa makanya dia nanya.
            Aku coba senyum ke dia, dan bohong “I’m fine.”
            “Capek, ya? Abis ini langsung pulang aja.” katanya sambil mengelus kepalaku. Bagian yang paling aku suka.
            “Nggak, kita cari kado dulu. Itu juga kalau kamu masih mau temenin aku.”
            Mendengar perkataanku, Digra cemberut. “Kok ngomongnya gitu? gue pasti masih mau, lah.” sambil menarik hidungku. Oke, kali ini aku bener-bener senyum. Nggak terpaksa kayak tadi.
            Pesanan kami pun datang. Dan, kami menyantap makanannya dengan khidmat.
            “Bi, kamu inget, kan, tante Delia yang masih tinggal di sini?” tanyanya sambil mengunyah.
            Delia lagi, please jangan ngomongin dia lagi. “Hmm, inget. Kenapa?” kataku malas-malasan.
            “Minggu depan Delia mau kesini. Soalnya anak tantenya mau nikah.” Digra keliatan seneng banget. “Nanti aku kenalin kamu sama dia. Pasti kalian bisa deket.”
            Aku bener-bener nggak mau kenal dia, apalagi bisa deket sama dia. Nggak mau.
            “Kok diem aja? mau kan kenal sama dia?” Digra menanyakan hal yang harusnya aku jawab ‘nggak’.
            “Iya, mau.” aku jawab tanpa ngeliat wajah Digra. Aku langsung habisin makanan aku, dan berniat buat langsung pulang aja setelah ini.
            “Britney…” kata Digra menggantung. Aku langsung liat ke arah yang lagi dia liat. Digra lagi liat cewek yang pakai shirt gambar Britney Spear.
            “Ngeliatin apa?” tanyaku kesal. Pasti Digra ngeliatin cewek itu.
            “Liat gambar Britney di kaos cewek itu. Delia ngefans banget sama Britney.” jelasnya dengan antusias.
            Delia lagi? Digra please aku nggak suka kalau kamu ngomongin Delia terus. “Oh..,” aku bergumam pelan, tak ingin tau.
            “Kalau kita lagi karokean, pasti Delia nyanyiin semua lagu Britney. Bahkan pernah satu jam penuh, cuma lagu Britney yang dia puter.” Dira tersenyum lebar, kayaknya dia bener-bener kangen sama masa-masa itu.
            Aku bener-bener nggak mau tau, Digra.
            “Terus, koleksi CDnya lengkap banget, kamernya dipenuhi sama poster-poster Britney. Sampe bosen ngeliatnya.”
            Aku juga bosen dengerin kamu ngomongin Delia terus.
            “Jadi kangen sama si curut satu itu.”
            Curut? panggilan kesayangan?
            “Nggak sabar pengen cepet-cepet ketemu, terus kenalin lo sama dia….” Digra bener-bener kelewatan. Aku bener-bener udah nggak tahan.
            “Pulang, yuk.” aku bangkit dari kursi, dan menyambar tas di sampingku. Nggak nunggu Digra setuju buat pulang, aku udah keluar dari Solaria.

ooo

            Digra

            Yubi marah sama gue? masalahnya apa? kayaknya gue nggak ngelakuin hal yang aneh-aneh. Gue cuma ceritain apapun yang gue rasain, cuma ceritain siapapun yang ada di kehidupan gue, mulai dari keluarga, temen, bahkan musuh. Itu aja. Gue cuma pengen terbuka sama dia, dan gue juga pengen dia terbuka sama gue. Tapi gue nggak tau, kenapa dia tiba-tiba ninggalin gue di Solaria. Padahal gue lagi nyeritain Delia.
            Delia.
            Apa dia nggak suka sama Delia? tapi kenapa? kan dia cuma sahabat gue.
            Iya, dulu gue pernah suka sama dia, dulu banget. Dan gue akui itu ke Yubi, nggak ada yang gue tutup-tutupin. Masa dia masih cemburu? Gue nggak ngerti jalan pikiran cewek.
            Udah sembilan sms gue kirim ke dia, tapi nggak ada satu pun yang dibales. Udah lima kali gue PING!!! Tapi nggak diread, padahal deliv. Sampe segitunya kah? Yubi emang kebiasaan, kalau marah atau ngerasa ada yang nggak beres pasti cuma diem. Diemkan nggak akan nyelesain masalah.
            Gue udah hafal, sampe besok juga BBM gue nggak bakal dibales. Kayaknya gue harus samperin ke rumahnya.
            Jam udah nunjukin pukul 10. Modal nekat gue datengin Yubi ke rumahnya, daripada gue nggak bisa tidur semaleman. Gue juga yakin sih, Yubi pasti belum tidur, mana mungkin dia bisa tidur dalam keadaan kayak gini.
            Gue berdiri di depan pager yang ternyata udah digembok. Tapi gue liat, kamer Yubi lampunya masih nyala. Bener kan dia belum tidur.
            Gue diem sejenak, mikir gimana supaya Yubi bisa tau gue ada disini. Nggak mungkin gue teriak-teriak manggil Yubi. Gue keluarin Hand Phone dan telepon Yubi. Nggak diangkat.
Akhirnya, gue sms.
Bi, liat deh kebawah. Aku ada di depan rumah kamu.
           
            Nggak lama, Yubi nongol di jendela. Mukanya keliatan bete banget. Beneran marah tuh anak. Gue langsung lambain tangan gue, tapi dia langsung pergi.
            Gue tunggu, semenit… dua menit… lima menit… dia nggak keluar juga. SMS pun nggak dibales. Tanpa nyerah, gue coba SMS lagi.

Bi, keluar dong… kalau ada masalah yuk kita omongin, jangan diem kaya gini.

            Dengan penuh harap, gue berharap dia bales. Dan dua menit kemudian Yubi bales.

Kamu pulang aja, udah malem. Besok aja ngomongnya, aku lagi badmood. males keluar.

            Gue tarik nafas panjang-panjang, kayaknya Yubi bener-bener marah banget. Tapi ya udah lah, cewek kalau lagi emosi emang susah dibilanginnya, nggak bakal didenger.

Ya udah, good night sayang… :*


Baca seri yang lainnya ya:

Ditunggu kritik dan sarannya. Keep Read my story :*