"Perasaan ini datang dari hatiku, bukan fikiranku. Cinta memang tak
mengenal logika, tak mengenal dengan siapa, kapan, dimana dan mengapa.
Seharusnya aku tidak mencintaimu. Tapi apakah cinta bisa di atur kepada
siapa ia harus terjatuh? tidak. Selama cinta ini aku simpan rapat-rapat,
dalam-dalam dan sendirian. Aku yakin cinta ini bukanlah kesalahan.
Biarkan cinta ini datang dan pergi dengan sendirinya. Semoga terus
seperti ini, kamu disana dengan milikmu, dan aku disini dengan milikku."
"Wihhh kata-katanya bagus banget sih? nyentuh banget Ra!" komentar
Bella. Sedangkan Rani dengan wajahnya yang merah padam, panik dan malu
terus saja berusaha mengambil buku catatannya itu dari tangan Bella.
"Bell sini bell balikin!" seru Rani. "Kenapa sih Ran? kan gue cuma mau
baca, yaudah nih gue balikin." Bella mengembalikan buku yang berisi
kata-kata curahan hati Rani. Dengan wajah yang mulai memutih kembali ia
pergi dengan ekspresi kesal. "Dihh jangan marah dong Ran, gue kan cuma
baca aja." Bella segera mengejar Rani yang pergi sedikit berlari itu.
"Gue gak suka tau gak sih kalau privacy gue di obrak-abrik. Kalau gue
bilang jangan, itu berarti hal itu gak boleh dimiliki sama orang lain."
ujar Rani kesal. "Miliki? gue gak niat milikin buku itu kok." jelas
Bella. "Lo emang gak milikin buku ini, tapi sekarang lo udah miliki apa
isi dari buku ini!" Rani masih terlihat marah. "Aduh sorry deh Ran,
kalau emang isi buku ini privacy lo banget. Maaf ya." Bella merasa
sangat bersalah. Rani masih saja terdiam. "Maaf ya Ran..." Bella terus
meminta maaf. Tiba-tiba seseorang mendekat. "Hey! kok keliatannya tegang
banget." Suara itu mengejutkan Rani. Raut wajah Rani berubah. "Itu
cewek lo marah sama gue.." jelas Bella. "Gara-gara apa?" tanya lelaki
itu. "Gara-gara..." mulut Bella langsung dibekap oleh Rani. "Engga kok
sayang, cuma gara-gara bercanda, aku kesel. Abisnya Bella kalau bercanda
suka berlebihan." Jelas Rani cepat. "Oh..." lelaki itu terlihat
percaya. "Rik, aku ke perpus dulu ya sama Bella. Daaaah." Rani buru-buru
menarik tangan Bella dan pergi meninggalkan Erik. Erik adalah pacar
Rani si cewek pendiam, dan suka menyendiri. Entahlah apa yang Erik suka
dari Rani, karena dari segi sifat mereka sangat bertolak belakang. Erik
periang, dan humoris. Sedangkan Rani pendiam, dan serius. Perbedaan
fisiknya ada di warna kulit mereka. Erik berkulit hitam, sedangkan Rani
berkulit putih. "Lumayanlah, memperbaik keturunan." ujar Erik dengan
nada candaan khasnya. Mereka sudah berpacaran sekitar 6 bulan. Sama
seperti lamanya hubungan Bella dengan Dika. Hanya berselang 1 minggu
lebih dulu Bella dan Dika. Ketika mereka double date, ada keanehan
diantara kedua pasangan tersebut. Erik lebih sering asyik bercanda
dengan lelucon ataupun tebak-tebakannya dengan Bella. Sedangkan Dika
lebih sering sharing soal pelajaran apapun dengan Rani. Mereka seperti
bertukar pasangan ketika double date.
****
"Lo kenapa sih Ran?" tanya Bella bingung. "Gue bakal maafin lo,
asalkan lo gak kasih tau apapun tentang buku ini ke siapapun, terutama
Erik." ujar Rani. "Emangnya kenapa? kok Erik gak boleh tau? palingan isi
buku lo itu tentang Erik kan?" tanya Bella masih heran. "Udah deh gak
usah banyak nanya pleaseeee." ujar Rani. "Iyadeh sip, asalkan lo mau
kasih gue contekan ya buat ulangan hari ini?" pinta Bella. "Halaah! lo
mah nyontek mulu! kapan pinternya Bell? mending sekarang kita belajar
bareng aja di Perpus." ajak Rani. "Dih otak gue gak akan mampu menyerap
materi ulangan wayah gini." ujar Bella. "Manusia punya otak sama,
fungsi, ukuran, saraf-sarafnya, dan letaknya. Selagi otak lo masih ada
di kepala, lo pasti bisa Bell. Ayo ah!" Rani menarik tangan Bella.
Sampai di Perpus. Rani dan Bella duduk di tempat favoritnya, pojok
dekat dengan rak buku matematika. "Dikaaaa." sapa Bella saat melihat
sesosok pria berkacamata yang sedang asyik membaca buku yang sangat
tebal. "Eh Bella, tumben Bell ke Perpus." ujar Dika kaget. "Hehee biasa
diajakin sama Rani." Bella cengengesan. "Kamu itu yaa, kapan coba punya
kesadaran sendiri buat belajar? buat baca buku? aku jarang banget
ngeliat kamu lagi belajar tapi inisiatif sendiri." ujar Dika panjang
lebar. Bella hanya merengutkan mulutnya, sedangkan Rani sibuk menahan
rasa ingin tertawa saat melihat ekspresi dari wajah cantik Bella yang
tak pernah lepas dari make up, saat sedang dinasehati oleh seorang
lelaki yang sangat berbeda dengannya. "Iya ih.. Ini juga aku kan mau
belajar." ujar Bella dengan ekspresi agak kesal. "Tapi belajar karena
diajakin sama Rani kan?" ujar Dika yakin. Bella hanya diam menahan
segala rasa kesal di dalam hatinya. 'Kamu tuh ya, sekalinya nyebelin,
nyebelin banget. Tapi kalau udah romantis, romantis banget.' batin
Bella. "Udah-udah, Bell buru gih baca buku ini. Biasanya Pak Nanto pake
buku ini." saran Rani. Bella meraih buku itu dan segera membuka bukunya.
"Ran materi ulangannya apa?" tanya Bella dengan nada pelan. Suara Bella
terdengar oleh Dika, Dika hanya menggelengkan kepalanya. 'Aku tau kita
berbeda, tapi perbedaan itulah yang aku suka. Aku tak pernah
menginginkannya menjadi sama. Tapi aku hanya ingin menjadikan perbedaan
ini untuk bisa menjadi alasan kita untuk tetap bersama.' batin Dika.
****
"Aku sayang kamuuuuu...." ujar Erik dari ujung telfon. "Kamu lebay."
ujar Rani. "Kok lebay sih? aku tuh serius, aku sayang banget sama kamu
Ran." ujar Erik dengan nada yang benar-benar lebay. "Denger ya Rik,
terkadang perasaan yang benar-benar dalam itu sulit diungkapkan dengan
kata-kata. Biasanya diungkapkannya dengan tindakan. not just words but
action." ujar Rani. "Iya iya sayangkuuu, apapun bakal aku buktiin kok
kalau aku itu sayang kamu." ujar Erik lebay lagi. "Tuhkan, apa yang kamu
omongin tadi juga itu tuh cuma kata-kata basi." ujar Rani selalu
serius. "Yaampun yanggggg, kamu itu serius banget yaa." ujar Erik mulai
kesal. "Oh gitu ya... Yaudah deh kita putus aja." ujar Rani mengejutkan.
"Hah? putus?? yanggggg jangaaaaaan!!" Suara Erik terdengar kelabakan
dari ujung telfon. "Bercanda deeeh." Rani tertawa terbahak-bahak. "Jadi
kamu bercanda? yaampun Ran, bercandaan kamu gak lucu. Udah deh, orang
yang gak bisa bercanda mah gak boleh bercanda." Giliran Erik yang kesal.
"Heheee maaf ya, lain kali makanya ajarin aku gimana caranya bercanda."
ujar Rani. "Hmmm iya iyaa, nanti aku ajarin kamu gimana caranya bikin
orang ketawa sampai terkencing-kencing, okeeeh?." ujar Erik. "Okee, Rik
aku tidur dulu ya, ngantuk banget."
"Yaudah, mau aku nyanyiin dulu gak yang?" tawar Erik. "Haha gak usah
deh makasihhhhh." Rani langsung menutup gagang telfonnya. Dengan mata
yang sudah 0.9 watt akhirnya Rani tidur dengan cepat.
****
"Cinta yang tepat adalah cinta yang ada diantara 2 orang yang saling
mencintai secara sadar, bukan pura-pra ataupun terpaksa. Aku gak tau
harus bertahan sampai sejauh apa dalam kepura-puraan ini, tapi
nyatanya... Hidup itu memang penuh drama, jarang ada orang yang jujur,
apalagi jujur soal perasaan."
Rani menulis lagi, di sebuah buku catatan kecilnya yang selalu ia
bawa kemana-mana. Buku kecil yang berisi rahasia terbesar Rani. "Hey
sayang, kamu lagi nulis apasih? Coba sini aku liaaat." Erik langsung
menarik buku yang sedang di pegang Rani dengan kencang. "Eh sayang
jangan! itu buku kumpulan rumus matematika aku, nanti kamu pusing lagi
kalau liat itu." Rani langsung menarik kembali buku yang ada ditangan
Erik. "Oh kumpulan rumus? yaudah deh ga jadi, bisa-bisa aku pusing kalau
liat kumpulan rumus kaya gitu."
"Hehehe, iya sayang, makanya aku selalu jauhin buku ini dari kamu."
Rani mencoba menampakkan ekspresi tenang. "Yaudah ke kantin yuk!" ajak
Erik. "Kamu udah selesai piketnya?" tanya Rani. "Udah, sekarang aku haus
banget nih.." Erik memegangi tenggorokkannya yang terasa sangat kering.
"Yuk!" Rani bangkit dari tempat duduknya, lalu meraih tangan Erik.
Jalan berdua, bergandengan tangan. Tidak ada yang mencurigakan dari
semua itu, mereka tampak harmonis, tapi di dalamnya? Tidak ada yang
tahu.
"Aku pesen minum dulu ya, kamu kesana duluan aja." ujar Erik. Rani
hanya mengangguk dan langsung melesat ke meja andalan mereka, ya mereka,
keempat sahabat itu, keempat sahabat yang terjebak dalam sebuah cinta
yang tak terduga.
"Hey Ran, sendirian aja?" sapa Bella yang sedang duduk disamping
lelaki, pacarnya, Dika. "Engga, gue sama Erik. Dia lagi pesan minuman."
Jelas Rani. Matanya langsung menuju wajah itu, wajah yang sangat senang
ia pandangi, menatap matanya, mata yang sudah terisi oleh wanita lain.
"Dik, di mulut lo tuh ada coklatnya." tunjuk Rani, seperti ingin
mengelapnya. "Ohhhh Dikaaa, makannya kayak anak kecil banget sih? Sini
aku elapin ya." Bella langsung mengambil tisu di sakunya. "Udah-udah,
biar aku aja." Dika langsung mengambil tisu dari tangan Bella. Suasana
itu cukup memojokkan Rani, untung saja penyelamat itu datang. "I'm back!
Nih susu coklat buat kamu." Erik menyuguhi secangkir coklat hangat
untuk Rani. "Kalian romantis banget sih, Dika boro-boro bisa kayak
gitu." wajah Bella merengut. "Ah, Bell. Udah biasa kali, kita emang
couple yang paling bikin envy orang-orang, apalagi jones. Iya kan
sayang?" ujar Erik dengan gaya songongnya sambil merangkul Rani. "Apaan
sih, lebay tau gak!" respon Rani, selalu cuek dan masa bodoh dengan
hubungannya sendiri. "Ha..ha.. iya katanya." ujar Erik asal. "Kalau gue
jadi lo Ran, gue bakal seneng banget punya cowok kayak Erik." Bella
terkejut dengan omongannya sendiri, dia baru sadar bahwa di sebelahnya
ada Dika, pacarnya sendiri. "Yaudah, lo pacaran aja sama Erik!" Dika
langsung bangkit dari tempat duduknya. Wajah Bella tampak panik. Dia tau
bahwa pacarnya itu sedang marah. Karena, dari panggilannya sudah
berubah menjadi "Lo"
"Lo sih, kalau ngomong gak disaring dulu." ujar Erik. "Yaudah, lo
kejar Dika gih!" seru Rani. Tanpa banyak bicara lagi, Bella langsung
mengejar Dika. Ternyata, selain Dika si kutu buku yang serius, ternyata
dia juga sensitif. Kaki Dika yang pasti lebih panjang dari Bella,
membuat dia berjalan lebih cepat dibandingkan Bella. Bella sangat
kewalahan, dia tak Dapat mengejar Dika. Akhirnya dia memutuskan untuk
berhenti, berhenti mengejar Dika dan memilih duduk di bangku taman untuk
menstabilkan nafasnya. "Harusnya kejadian kayak gini gak pernah ada di
hidup gue! Gue emang bodoh! Buat apa gue dulu sok-sokan jadian sama
Dika cuma buat ngetest Erik cemburu atau engga, toh akhirnya dia gak
cemburu sama sekali, dia malah jadian sama Rani. Terus kenapa juga gue
masih pertahanin Dika? Harusnya gue sadar, gue sama Dika gak mungkin
bisa nyatu, perbedaan gue sama Dika terlalu jauh, sulit buat disatuin.
Dan emang bener, cinta itu harusnya udah hadir sebelum jadian, bukan
jadian dulu baru nunggu cinta itu hadir." Cewek periang itu akhirnya
meneteskan air matanya, tampak sekali peyesalan dari wajahnya yang
cantik itu. Dia tidak sadar, bahwa tidak semua perbedaan harus
disatukan, dan cinta bukan sarana untuk menyamakan perbedaan, tapi cinta
untuk menyatukan perbedaan itu agar tetap menjadi apa adanya.
Sudah hampir seminggu Dika menjauhi Bella. Bella pun lebih memilih untuk
diam, menunggu amarah Dika meredam. Buku yang dipegangnya sama sekali
tak dia lirik, dia menatap ke arah lain. "Sampai kapan aku terus
diam-diam mengagumimu dari kejauhan seperti ini. Padahal jarak kita
sangat dekat." ucapnya lirih. "Sssttt... Lo ngapain duduk sendirian
disitu? Sini Bell!" seruan itu menghamburkan lamunan Bella. "Eehh..
Iya-iya Rik." Bella langsung merapihkan buku-buku yang diambilnya dari
rak buku perpus, dia langsung melangkahkan kakinya ke meja Erik. "Gaya
lo! ambil buku banyak-banyak tapi gak dibaca, lo daritadi malah liatin
gue terus." ujar Erik dengan lancarnya. Mendengar ucapan Erik, Bella
langsung tersentak kaget. "APAA??!! Ih pede banget looooo!" Sangking
paniknya, Bella tidak sadar bahwa teriakannya tadi sangat mengganggu
telinga tipe kutu buku penghuni perpus disini. Sontak semua perhatian
langsung tertuju pada Bella, tentunya dengan tatapan sinis para kutu
buku. "Upss.. Sorry-sorry!" Bella langsung membekap mulutnya sendiri.
"Untung penjaga perpus lagi gak ada. Kalau ada lo bisa-bisa disuruh baca
tumpukkan buku itu!" Erik menunjuk pada tumpukkan buku yang sudah
disediakan untuk para perusuh perpus (suka pacaran di perpus/curhat di
perpus). "Lo juga tumben-tumbenan ke perpus, biasanya kantin mulu, lo
kan muka laper!" ejek Bella balik. "Yee gue tadi nungguin Rani, tapi
barusan dia sms. Dia lagi bantuin Bu Tina koreksi ujian matematika."
Jelas Erik dengan muka lapernya. "Yaudah mending lo dengerin gue curhat
aja, tapi jangan disini nanti gue dicap sebagai perusuh perpus lagi."
Dengan spontan Bella menarik tangan Erik, dan menyeretnya keluar perpus.
Beberapa saat kemudian dia baru sadar bahwa tangannya sedang
bergandengan dengan Erik. Seketika itu juga Bella langsung melepasnya
"Ups.. Sorry." Wajah Bella memerah. "Halaaaaaah biasa aja kali, ayuk ah.
Laper nih gue." Sekarang Erik yang menggandeng tangan Bella. Bella
hanya tersenyum dan mengikuti jalan Erik. Mereka pun sampai di kantin.
"Si muka laper mau makan dulu." Ujar Erik. "Eh BTW keren juga lohh 'muka
laper' haha iyaiya serius! thanks Bella si muka galau." ujar Erik
dengan nada bercandaan khasnya. "Muka galau? Enak aja lo." Bella tidak
terima namun dia sedikit tertawa. "Ayo cepetan mau curhat apa?" Erik
mulai serius. "Gue bingung, Dika udah hampir seminggu ini cuekin gue,
gak sms gue. Ini pertama kalinya dia marah sama gue. Sekalinya marah
sampe separah ini." Kesedihan di hatinya akhirnya tampak di wajahnya.
"Wajar, orang sabar dan diem kayak Dika emang gitu, dia selalu nahan
perasaannya dengan kesabarannya, tapi ya namanya manusia, pasti punya
batas kesabaran. Pas batas kesabarannya udah habisnya ya gini deh,
marahnya gak ada ampun. Menurut gue, jadi orang sabar itu gak enak,
karena mereka harus nahan hal yang harusnya dikeluarin. Kayak gitu gak
enak banget lho, contohnya mules." Ucapan Erik kali ini ada isinya,
walaupun harus diakhiri dengan kata mules. "Ha..ha bener, tapi kata lo
marahnya gak ada ampunnya ya? Apa itu tandanya dia mau putusin gue?"
tanya Bella. "Lo udah usaha apa aja biar Dika gak marah lagi?" Tanya
Erik kali ini. "Gak ada, gue fikir dia cuma butuh waktu buat redamin
amarahnya." Jawab Bella. "Aduh Bell, gimana sih lo? Dengerin gue ya.
Marah itu ibarat api, nah maaf itu ibarat air. Nah.. Kalau dia marah, ya
lo minta maaf. Bukan cuma diem, cowok juga ingin dimengerti kali."
Jelas Erik dengan wajah serius. Tawa Bella membeludak "Lo itu ya,
awalnya aja bijak, keren. Eh ujungnya selalu bikin drop, mules lah,
cowok juga ingin dimengerti lah. Ha..ha tapi gue dengerin deh apa kata
lo, gue bakal coba minta maaf lagi sama Dika." Kesedihan di wajah Bella
nyaris semuanya hilang. "Gini-gini juga akhirnya lo minta saran gue kan?
Huuuu." *kring* "Pasti Rani!" ujar Erik yakin. Tawa Bella entah kenapa
tiba-tiba berhenti. Wajah Erik pun akhirnya berubah menjadi kusam ketika
melihat pesan teks di handphonenya. "Muka lo kenapa gitu deh?" tanya
Bella. "Ini si Rani..." Jawab Erik malas. "Kenapa?" Bella tampak
penasaran. "Gue kan bilang, yanggg nanti kertas ujian aku dikoreksi sama
kamu ya, terus kalau salah, benerin aja. Minimal seratus deh nilai aku.
Eh dia malah gak mau." Mendengar penjelasan Erik, tawa Bella lebih
membeludak dari sebelumnya. "Ya jelas Rani gak mau lah! Dia kan orang
paling jujur sedunia!" Bella tak berhenti tertawa. "Ehh jangan salah! Di
dunia ini gak ada orang yang jujur. Minimal setiap orang itu pasti gak
jujur soal perasaannya. Gak jujur sama perasaannya sendiri." Kali ini
ucapan Erik berisi semua, dan endingnya pun enak di dengar. "Ha..ha iya
deh iya."
(Di satu sisi yang lain)
"Terimakasih ya Rani, Dika. Kalian sudah mau bantu Ibu koreksi."
"Iya sama-sama, bu." ujar Rani dan Dika serempak. "Aduh kompak
banget kalian, pinternya juga kompak." Ledek Bu Tina. Mereka berdua
hanya tertunduk dan diam ketika mendengar ledekkan Bu Tina. "Yasudah,
Rani, Dika. Ibu harus pergi rapat dulu ya, terimakasih sekali lagi."
"Iya bu." ujar Rani sopan. Sekarang tinggal mereka berdua. Berjalan
bersampingan tanpa ucap. "Lo gimana sama Bella? Udah baikan?" Akhirnya
Rani memulai pembicaraan. Dika hanya menggelengkan kepalanya. Melihat
itu, sepertinya Rani merasa tak dihargai saat Dika hanya menggelengkan
kepalanya. "Kenapa? Kalau berantem jangan lama-lama kali." Rani
memberanikan diri untuk menanyakan lebih jauh, dan dia berharap aa
jawaban yang memuaskan dari mulut Dika. "Gue liat, Bella sama sekali gak
ada usahanya untuk minta maaf sama gue.". ujar Dika, dengan wajah yang
lurus ke depan. "Maaf ya, gara-gara gue sama Erik, lo berdua jadi
berantem kayak gini. Tapi Dik, gue liat, kayaknya Bella ga seriusan kok
ngomongnya, dia cuma asal ceplos." Rani mencoba meakinkan Dika. "Dia
bukan asal ceplos, tapi keceplosan. Dan biasanya hal yang keluar dengan
spontan itu, datangnya dari hati, tulus, jujur." mendengar ucapan Dika,
Rani tidak memiliki kuasa lagi untuk berkomentar.
Akhirnya mereka hanya diam sepanjang jalan. 'Dulu gak ada istilah
canggung kayak gini, persahabatan kita begitu hangat Dik. Tapi kenapa?
Sekarang jadi berantakan begini? Sebelum ada yang jadian dintara kita;
Kamu dan Bella, begitu juga Aku dan Erik. Mungkin cinta ini memang
seharusnya tidak ada.' batin Rani.
"Eh yang.. Udah selesai?" Rani tidak sadar, ternyata didepannya
telah ada Erik dan Bella. Suasana saat itupun beku ketika Bella dan Dika
saling bertatapan. Erik langsung memberi isyarat kepada Bella bahwa ini
saat yang tepat untuk meminta maaf. "Gue pulang duluan ya." ujar Dika
singkat. Mendengar pernyataan itu, Bella langsung buru-buru mengikuti
langkah Dika yang lebar-lebar itu. "Dik tunggu!" Seru Bella. Dika terus
saja berjalan. "Please, Dik. Tunggu gue." Akhirnya tangan Bella mampu
meraih Dika. Dengan nafas yang tidak stabil, Bella berusaha untuk
mengeluarkan kata-kata yang telah ia siapkan. "Dik, kamu kenapa sih?
Masa cuma gara-gara itu, kamu marahnya pake banget kayak gini? Aku minta
maaf Dik." ujar Bella cepat. "Kalau kamu gak tau kesalahan kamu apa,
ngapain kamu minta maaf?" tanya Dika. "Aku tau kok. Aku udah berusaha
untuk minta maaf, tapi kamu malah cuekin aku terus." Jelas Bella. Kalau
kamu tau kesalahan kamu apa, kenapa kamu masih tanya 'kenapa'?" Dika
masih saja ketus. "Yaudah sekali lagi aku tegasin, aku ngerasa salah.
Kata-kata aku kemarin udah nyakitin hati kamu, aku minta maaf." Bella
meneteskan air matanya. Hati Dika sangat rentan dengan air mata, dia tak
mampu melihat air mata wanita menetes, apalagi jika penyebabnya adalah
dirinya. "Yaudah aku maafin kamu, kamu gak usah nangis kayak gitu."
Akhirnya Dika mau memaafkan Bella. "Makasih dik." Bella langsung memeluk
Dika. 'Asal kamu tau Bell, aku gak akan semarah ini kalau aku gak tau
yang sebenarnya. Aku tau, selama ini kamu suka sama Erik, tapi selama
aku berpura-pura tidak tau itu bisa membuat kamu bahagia, aku akan
lakukan itu, sambil menunggu kamu jujur dengan perasaan kamu sendiri
Bell. Walaupun aku tau, hal yang paling menyakitkan adalah ketika ragamu
ada didekatku, namun hati kamu hanya ada untuk orang lain.' Batin Dika.
"Kamu langsung ke parkiran aja, aku ke kelas dulu sekalian ambil
radio dan tas kamu." ujar Erik. "Yaudah." Rani langsung pergi menuju
parkiran, begitu juga Erik menuju kelas.
"Aduh Rani, bukunya masih belum dimasukin tas." Erik buru-buru
memasuki buku-buku Rani, karena dia tidak mau membuat Rani menunggu
lama. Lalu, sebuah buku catatan kecil terjatuh, dengan posisi terbuka.
Erik langsung mengambilnya. Dia ingat bahwa itu adalah buku kumpulan
rumus matematika Rani, tanpa curiga dia langsung mengambil dan
menutupnya. Namun sekilas dia melihat ada gambar, dan emotic kiss, love,
dan gambar-gambar yang berwarna-warni. Akhirnya Erik membuka buku itu
lagi dan dia membacanya. Pada akhirnya, rahasia pasti akan terbongkar
juga.
'Erik kenapa sih? Kok tumben dia diem aja sepanjang jalan?' batin
Rani. Sepanjang jalan Erik diam, dia menahan amarahnya. Memang terkadang
diam jauh lebih baik, daripada marah, banyak bicara dan akhirnya harus
menyakiti hati orang lain. Tak terasa, akhirnya mereka sampai di depan
rumah Rani. "Makasih ya." ujar Rani dengan senyumnya. Erik masih diam,
dia hanyaa mengangguk melihat keanehan pada Eerik, akhirnya Rani
menanyakannya. "Kamu kenapa? Ada masalah?" tanya Rani. Erik hanya
menatap wajah Rani dalam-dalam. "Kamu setuju gak, kalau di dunia ini gak
ada orang yang jujur, minial setiap orang pasti gak jujur soal
perasaannya?" Tanya Erik. "Hmm.. Setuju, emang kenapa ya?" Rani belum
merasa curiga. "Berarti bener dong?" Ujar Erik. "Bener apa?" Rani tampak
heran. Erik mengeluarkan sebuah buku catatan di saku jaketnya. "Soal
isi di buku ini." Rani sangat terkejut ketika melihat bukunya, buku yang
berisi banyak rahasianya sekarang ada di tangan Erik, dan Erik pasti
sudah mengetahui isi dari buku itu. "Aku bisa jelasin kok." kepanikan
sudah memenuhi wajah manis Rani. "Gak perlu dijelasn, karena semakin
kamu jelasin, pasti akan tambah sakit." ujar Erik. "Kamu salah paham,
semua yang ada di buku itu udah berakhir." Rani terus meyakini Erik.
"Aku lihat tanggalnya, terakhir kamu nulis ini kemarin. Kalau emang udah
berakhir harusnya kamu udah buang buku ini." Emosi Erik semakin
menjadi-jadi. Kali ini Rani tidak bisa berkata apa-apa. "Menyakitkan
adalah ketika aku punya pacar yang mencintai oranglain. Apalagi orang
lainnya itu sahabat aku sendiri. Aku emang gak sepinter Dika, tapi aku
selalu berusaha selalu ada buat kamu. Aku emang gak seganteng Dika, tapi
aku selalu berusaha buat bikin kamu gak malu buat ngakuin kalau aku ini
pacar kamu." ujar Erik dengan tatapan yang sangat tajam kepada Rani,
sedangkan Rani hanya mengangguk menutupi air matanya. "Ohya.. Bella kan
lagi berantem sama Dika, palingan bentar lagi mereka putus. Sama kayak
kita sekarang. Semoga kamu bisa ya dapetin Dika, orang yang selama ini
kamu harapin. Semoga kamu bisa dapet perhatian dari orang yang kamu
cinta, bukan perhatian dari aku, orang yang gak pernah kamu harapin."
ujar Erik seperti menyindir. "Stop Rik! Aku gak sejahat itu. Kamu fikir
aku suka dengan kepura-puraan ini, kamu fikir aku sengaja jatuh cinta
sama Dika? Gak Rik! Setiap hari juga aku udah berusaha sakit-sakitan
supaya bisa lupain Dika, dan belajar mencintai kamu. Tapi apakah cinta
bisa diatur? Coba kamu ngertiin aku Rik, aku gak ada maksud buat
nyakitin kamu." ujar Rani dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku sayang
kamu, aku ngerti banget perasaan kamu. Kamu tersiksa kalau aku jadi
pacar kamu, karena kamu gak sanggup jujur sama perasaan sendiri. Jadi,
mending kita jadi temen aja, aku relain kamu bahagia, walaupun
kedengeran munafik, tapi inilah perjuangan terakhir aku. Makasih Rani
udah mau jadi pacar aku. udah bikin aku bahagia. Aku pergi dulu ya, aku
gak sanggup lihat kamu nangis kayak gini, aku juga sadar kok, aku gak
bisa berhentiin air mata kamu, karena aku bukan orang yang bisa bikin
kamu bahagia, bukan orang yang kamu harapkan." Erik pergi, dia
benar-benar pergi meninggalkan Rani dalam keadaan menangis. Rani hanya
melihat Erik dengan penuh sesal.
****
"Kenapa ya perasaan gue jadi serba salah gini, gue ngerasa gak enak
banget sama Dika. Jangankan dibohongin, ngebohongin orang aja rasanya
gak enak, gak tenang." ujar Bella kepada dirinya sendiri, sambil
merendam sebagian kakinya di kolam renang. "Apa gue harus jujur ya,
kalau gue sebenarnya suka sama Erik? Aaaaaaaaaa galau, Erik gue kangen
sama lo." Bella teriak sejadi-jadinya. "APAAA?!"
Bella langsung menengok ke sumber suara, ternyata di depannya telah
berdiri Erik. Bella langsung bangkit dari duduknya. "Erik? Lo ngapain
disini malem-malem." Tanya Bella dengan cepat. "Gue baru putus sama
Rani, dan gue kesini mau curhat sama lo. Lo bener suka sama gue?" tanya
Erik dengan wajah yang agak penasaran. Entah kenapa, Bella hanya dia.
Dia tak mampu lagi berbohong. "Kalau bener, gue gak bisa suka balik sama
lo. Gue sayang sama lo sebagai sahabat Bell, bahkan lo sering gue
anggap sebagai adek gue, karena lo manja. Please Bell jawab, gue gak mau
tambah bingung." Erik mendekati Bella, menatap mata Bella dalam-dalam.
"Iya Rik, maaf." Jawaban Bella sungguh membuat bingung. "Terus maksud lo
jadian sama Dika kenapa?" Tanya Erik lebih jauh. "Awalnya gue cuma mau
bikin lo cemburu, tapi ternyata lo malah jadian sama Rani." Jelas Bella
dengan nada tenang, namun terlihat dari wajahnya ada rasa malu. "Tapi
lo gak minta..." Belum Erik selesai berbicara langsung di jawab oleh
Bella. "Gak kok, gue gak minta lo jadi pacar gue. Gue gak mau ngerusak
kebahagiaan dua sahabat gue. Eh tapi lo barusan bilang abis putus?
Kenapa? Kok bisa?" Tanya Bella semena-mena. "Mulai deh, nanya satu-satu
kali. Iya gue putus sama Rani, gue abis baca buku catatan dia, di situ
dia nulis kalau dia suka sama Dika." Jelas Erik. "Dika? Rani suka sama
Dika?" Pastinya Bella kaget, dia memutar otaknya, mengingat buku catatan
yang disebutkan Erik. 'Buku catatan? Ohiya, itu buku yang waktu dulu
gue baca. Biar saja terus seperti ini, kamu disana dengan milikmu, dan
aku disini dengan milikku. Itu artinya Dika dengan Gue, dan Rani dengan
Erik? My god.. Rani ternyata lo...'
"Eh lo kok bengong!" Erik menghamburkan lamunan Rani. "Engga kok,
gak apa-apa. Rik kayaknya kita emang harus jadi sahabat aja deh. Gue
juga baru sadar, kalau dulu sama sekarang lebih seru dulu, apa-apa
selalu berempat, belajar bareng, atau apalah." ujar Bella mengingat
masa-masa dulu sebelum cinta datang di tengah-tengah mereka berempat.
"Iya, lo bener Bell. Lo udah putus sama Dika?" Tanya Erik. "Belum, tapi
barusan gue punya fikiran buat putusin Dika. Dia juga udah tau kalau
sebenarnya gue suka sama lo. Tapi dia, maafin gue. Mungkin dia mau
putusin gue, tapi gak berani." Jelas Bella. "Yaudah lo putusin aja,
terus kita kumpul berempat, saling jujur, dan sahabatan lagi." Erik
tampak yakin dengan idenya. "Oke, gue sms Dika dulu ya." Izin Bella.
"Sedih amat mutusin lewat sms." Erik mulai kembali dengan ledekannya.
"Yang penting gak nyeraiin lewat sms." timbal Bella sedikit tertawa.
****
(Di sekolah)
"Dika, Rani, Erik. Gue kumpulin kalian disini, karena gue mau
memperbaiki persahabatan kita yang akhir-akhir ini udah berjalan gak
baik." Bella memulai pembicaraan. Meski diantara mereka berempat Bella
adalah yang paling kecil, childish. Namun karena kekanak-kanakannya itu
dia tak malu untuk meminta maaf duluan, nyatain perasaan duluan, dan
keberanian-keberanian Bella yang lainnya. "Iya, gue udah diskusi sama
Bella sebelumnya. Tanpa dibahas pun konfliknya kalian juga masing-masing
udah ngerti kan? Sebelum cinta itu pergi dari kita, mending kita duluan
yang ninggalin cinta itu. Ngerti kan maksud gue?" Tanya Erik. Semuanya
mengangguk. Dengan suasana yang tenang, mereka berempat dapat merenungi
apa yang salah diantara mereka, dan akan berubah untuk lebih dewasa.
"Maafin gue ya, gue gak bisa jadi sahabat yang baik, tapi gue akan
berusaha untuk lebih terbuka sama kalian." ujar Rani dengan penuh haru.
"Gue juga, gue yang melankonis tapi belaga sok dingin, sering sibuk sama
hobby sendiri, maafin gue ya, gue usahain buat bisa berubah jadi lebih
baik." ujar Dika, sepertinya luka Dika sudah lumayan membaik, karena
menurutnya lebih baik dia dilukai oleh kejujuran, daripada dibahagiakan
lalu dilukai juga oleh kebohongan. Akhirnya mereka berempat dapat saling
menyayangi, menjaga, bukan hanya kepada pasangannya, tapi semuanya.
"Terkadang, sahabat memang hanya diciptkan hanya untuk menjadi
sahabat, bukan kekasih. Jangan sampai salah arti, perhatian sahabat
tulus dari hati, bukan bermaksud ada hati." - Rani.
"Terkadang, cinta itu datang dari sebuah kebahagiaan, dibuat tertawa
lepas. Tapi, kebahagiaan itu bukan berarti dari cinta, tapi kebahagiaan
yang diberikan murni oleh sahabat, sahabatlah yang menciptakan bahagia
itu terasa sederhana." - Bella.
"Terkadang, cinta itu menuntut sebuah pengertian. Harus mengerti
perasaan orang yang kita cintai melebihi kita mengerti perasaan kita
sendiri. Cinta itu, rela sakit demi kebahagiaan orang yang kita cintai,
bukan pura-pura bahagia demi kebahagiaan orang yang kita cinta." - Erik.
"Terkadang, cinta itu memang penuh dengan kepura-puraan.
Berpura-pura secara sadar, demi orang yang kita cintai agar tetap
bahagia. Cinta adalah dimana kita melakukan segala hal untuk bisa
membuat orang yang kita cintai merasa nyaman, walaupun harus
berpura-pura." - Dika.
"Cinta tidak pernah salah. Maksudnya, jika cinta terasa menyakitkan
jangan sekali-kali menyalahkan cinta. Karena cinta selalu menimbulkan
kebahagiaan tanpa alasan. Jika jatuh cinta terasa menyakitkan, itu
berarti salah jatuh cinta, jatuh cinta kepada orang yang tidak tepat.
Tidak semua perhatian itu cinta, jadi jangan salah menilai cinta." -
@fhafha93
Thanks for reading. #muchlove