Thankyou for coming :)

Senin, 22 Juli 2013

Aku dengan Milikmu, dan Kamu dengan Milikku.

"Perasaan ini datang dari hatiku, bukan fikiranku. Cinta memang tak mengenal logika, tak mengenal dengan siapa, kapan, dimana dan mengapa. Seharusnya aku tidak mencintaimu. Tapi apakah cinta bisa di atur kepada siapa ia harus terjatuh? tidak. Selama cinta ini aku simpan rapat-rapat, dalam-dalam dan sendirian. Aku yakin cinta ini bukanlah kesalahan. Biarkan cinta ini datang dan pergi dengan sendirinya. Semoga terus seperti ini, kamu disana dengan milikmu, dan aku disini dengan milikku."

"Wihhh kata-katanya bagus banget sih? nyentuh banget Ra!" komentar Bella. Sedangkan Rani dengan wajahnya yang merah padam, panik dan malu terus saja berusaha mengambil buku catatannya itu dari tangan Bella. "Bell sini bell balikin!" seru Rani. "Kenapa sih Ran? kan gue cuma mau baca, yaudah nih gue balikin." Bella mengembalikan buku yang berisi kata-kata curahan hati Rani. Dengan wajah yang mulai memutih kembali ia pergi dengan ekspresi kesal. "Dihh jangan marah dong Ran, gue kan cuma baca aja." Bella segera mengejar Rani yang pergi sedikit berlari itu. "Gue gak suka tau gak sih kalau privacy gue di obrak-abrik. Kalau gue bilang jangan, itu berarti hal itu gak boleh dimiliki sama orang lain." ujar Rani kesal. "Miliki? gue gak niat milikin buku itu kok." jelas Bella. "Lo emang gak milikin buku ini, tapi sekarang lo udah miliki apa isi dari buku ini!" Rani masih terlihat marah. "Aduh sorry deh Ran, kalau emang isi buku ini privacy lo banget. Maaf ya." Bella merasa sangat bersalah. Rani masih saja terdiam. "Maaf ya Ran..." Bella terus meminta maaf. Tiba-tiba seseorang mendekat. "Hey! kok keliatannya tegang banget." Suara itu mengejutkan Rani. Raut wajah Rani berubah. "Itu cewek lo marah sama gue.." jelas Bella. "Gara-gara apa?" tanya lelaki itu. "Gara-gara..." mulut Bella langsung dibekap oleh Rani. "Engga kok sayang, cuma gara-gara bercanda, aku kesel. Abisnya Bella kalau bercanda suka berlebihan." Jelas Rani cepat. "Oh..." lelaki itu terlihat percaya. "Rik, aku ke perpus dulu ya sama Bella. Daaaah." Rani buru-buru menarik tangan Bella dan pergi meninggalkan Erik. Erik adalah pacar Rani si cewek pendiam, dan suka menyendiri. Entahlah apa yang Erik suka dari Rani, karena dari segi sifat mereka sangat bertolak belakang. Erik periang, dan humoris. Sedangkan Rani pendiam, dan serius. Perbedaan fisiknya ada di warna kulit mereka. Erik berkulit hitam, sedangkan Rani berkulit putih. "Lumayanlah, memperbaik keturunan." ujar Erik dengan nada candaan khasnya. Mereka sudah berpacaran sekitar 6 bulan. Sama seperti lamanya hubungan Bella dengan Dika. Hanya berselang 1 minggu lebih dulu Bella dan Dika. Ketika mereka double date, ada keanehan diantara kedua pasangan tersebut. Erik lebih sering asyik bercanda dengan lelucon ataupun tebak-tebakannya dengan Bella. Sedangkan Dika lebih sering sharing soal pelajaran apapun dengan Rani. Mereka seperti bertukar pasangan ketika double date.

****

"Lo kenapa sih Ran?" tanya Bella bingung. "Gue bakal maafin lo, asalkan lo gak kasih tau apapun tentang buku ini ke siapapun, terutama Erik." ujar Rani. "Emangnya kenapa? kok Erik gak boleh tau? palingan isi buku lo itu tentang Erik kan?" tanya Bella masih heran. "Udah deh gak usah banyak nanya pleaseeee." ujar Rani. "Iyadeh sip, asalkan lo mau kasih gue contekan ya buat ulangan hari ini?" pinta Bella. "Halaah! lo mah nyontek mulu! kapan pinternya Bell? mending sekarang kita belajar bareng aja di Perpus." ajak Rani. "Dih otak gue gak akan mampu menyerap materi ulangan wayah gini." ujar Bella. "Manusia punya otak sama, fungsi, ukuran, saraf-sarafnya, dan letaknya. Selagi otak lo masih ada di kepala, lo pasti bisa Bell. Ayo ah!" Rani menarik tangan Bella.

Sampai di Perpus. Rani dan Bella duduk di tempat favoritnya, pojok dekat dengan rak buku matematika. "Dikaaaa." sapa Bella saat melihat sesosok pria berkacamata yang sedang asyik membaca buku yang sangat tebal. "Eh Bella, tumben Bell ke Perpus." ujar Dika kaget. "Hehee biasa diajakin sama Rani." Bella cengengesan. "Kamu itu yaa, kapan coba punya kesadaran sendiri buat belajar? buat baca buku? aku jarang banget ngeliat kamu lagi belajar tapi inisiatif sendiri." ujar Dika panjang lebar. Bella hanya merengutkan mulutnya, sedangkan Rani sibuk menahan rasa ingin tertawa saat melihat ekspresi dari wajah cantik Bella yang tak pernah lepas dari make up, saat sedang dinasehati oleh seorang lelaki yang sangat berbeda dengannya. "Iya ih.. Ini juga aku kan mau belajar." ujar Bella dengan ekspresi agak kesal. "Tapi belajar karena diajakin sama Rani kan?" ujar Dika yakin. Bella hanya diam menahan segala rasa kesal di dalam hatinya. 'Kamu tuh ya, sekalinya nyebelin, nyebelin banget. Tapi kalau udah romantis, romantis banget.' batin Bella. "Udah-udah, Bell buru gih baca buku ini. Biasanya Pak Nanto pake buku ini." saran Rani. Bella meraih buku itu dan segera membuka bukunya. "Ran materi ulangannya apa?" tanya Bella dengan nada pelan. Suara Bella terdengar oleh Dika, Dika hanya menggelengkan kepalanya. 'Aku tau kita berbeda, tapi perbedaan itulah yang aku suka. Aku tak pernah menginginkannya menjadi sama. Tapi aku hanya ingin menjadikan perbedaan ini untuk bisa menjadi alasan kita untuk tetap bersama.' batin Dika.

****
"Aku sayang kamuuuuu...." ujar Erik dari ujung telfon. "Kamu lebay." ujar Rani. "Kok lebay sih? aku tuh serius, aku sayang banget sama kamu Ran." ujar Erik dengan nada yang benar-benar lebay. "Denger ya Rik, terkadang perasaan yang benar-benar dalam itu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Biasanya diungkapkannya dengan tindakan. not just words but action." ujar Rani. "Iya iya sayangkuuu, apapun bakal aku buktiin kok kalau aku itu sayang kamu." ujar Erik lebay lagi. "Tuhkan, apa yang kamu omongin tadi juga itu tuh cuma kata-kata basi." ujar Rani selalu serius. "Yaampun yanggggg, kamu itu serius banget yaa." ujar Erik mulai kesal. "Oh gitu ya... Yaudah deh kita putus aja." ujar Rani mengejutkan. "Hah? putus?? yanggggg jangaaaaaan!!" Suara Erik terdengar kelabakan dari ujung telfon. "Bercanda deeeh." Rani tertawa terbahak-bahak. "Jadi kamu bercanda? yaampun Ran, bercandaan kamu gak lucu. Udah deh, orang yang gak bisa bercanda mah gak boleh bercanda." Giliran Erik yang kesal. "Heheee maaf ya, lain kali makanya ajarin aku gimana caranya bercanda." ujar Rani. "Hmmm iya iyaa, nanti aku ajarin kamu gimana caranya bikin orang ketawa sampai terkencing-kencing, okeeeh?." ujar Erik. "Okee, Rik aku tidur dulu ya, ngantuk banget."
"Yaudah, mau aku nyanyiin dulu gak yang?" tawar Erik. "Haha gak usah deh makasihhhhh." Rani langsung menutup gagang telfonnya. Dengan mata yang sudah 0.9 watt akhirnya Rani tidur dengan cepat.

****

"Cinta yang tepat adalah cinta yang ada diantara 2 orang yang saling mencintai secara sadar, bukan pura-pra ataupun terpaksa. Aku gak tau harus bertahan sampai sejauh apa dalam kepura-puraan ini, tapi nyatanya... Hidup itu memang penuh drama, jarang ada orang yang jujur, apalagi jujur soal perasaan."
Rani menulis lagi, di sebuah buku catatan kecilnya yang selalu ia bawa kemana-mana. Buku kecil yang berisi rahasia terbesar Rani. "Hey sayang, kamu lagi nulis apasih? Coba sini aku liaaat." Erik langsung menarik buku yang sedang di pegang Rani dengan kencang. "Eh sayang jangan! itu buku kumpulan rumus matematika aku, nanti kamu pusing lagi kalau liat itu." Rani langsung menarik kembali buku yang ada ditangan Erik. "Oh kumpulan rumus? yaudah deh ga jadi, bisa-bisa aku pusing kalau liat kumpulan rumus kaya gitu."
"Hehehe, iya sayang, makanya aku selalu jauhin buku ini dari kamu." Rani mencoba menampakkan ekspresi tenang. "Yaudah ke kantin yuk!" ajak Erik. "Kamu udah selesai piketnya?" tanya Rani. "Udah, sekarang aku haus banget nih.." Erik memegangi tenggorokkannya yang terasa sangat kering. "Yuk!" Rani bangkit dari tempat duduknya, lalu meraih tangan Erik. Jalan berdua, bergandengan tangan. Tidak ada yang mencurigakan dari semua itu, mereka tampak harmonis, tapi di dalamnya? Tidak ada yang tahu.

"Aku pesen minum dulu ya, kamu kesana duluan aja." ujar Erik. Rani hanya mengangguk dan langsung melesat ke meja andalan mereka, ya mereka, keempat sahabat itu, keempat sahabat yang terjebak dalam sebuah cinta yang tak terduga.
"Hey Ran, sendirian aja?" sapa Bella yang sedang duduk disamping lelaki, pacarnya, Dika. "Engga, gue sama Erik. Dia lagi pesan minuman." Jelas Rani. Matanya langsung menuju wajah itu, wajah yang sangat senang ia pandangi, menatap matanya, mata yang sudah terisi oleh wanita lain. "Dik, di mulut lo tuh ada coklatnya." tunjuk Rani, seperti ingin mengelapnya. "Ohhhh Dikaaa, makannya kayak anak kecil banget sih? Sini aku elapin ya." Bella langsung mengambil tisu di sakunya. "Udah-udah, biar aku aja." Dika langsung mengambil tisu dari tangan Bella. Suasana itu cukup memojokkan Rani, untung saja penyelamat itu datang. "I'm back! Nih susu coklat buat kamu." Erik menyuguhi secangkir coklat hangat untuk Rani. "Kalian romantis banget sih, Dika boro-boro bisa kayak gitu." wajah Bella merengut. "Ah, Bell. Udah biasa kali, kita emang couple yang paling bikin envy orang-orang, apalagi jones. Iya kan sayang?" ujar Erik dengan gaya songongnya sambil merangkul Rani. "Apaan sih, lebay tau gak!" respon Rani, selalu cuek dan masa bodoh dengan hubungannya sendiri. "Ha..ha.. iya katanya." ujar Erik asal. "Kalau gue jadi lo Ran, gue bakal seneng banget punya cowok kayak Erik." Bella terkejut dengan omongannya sendiri, dia baru sadar bahwa di sebelahnya ada Dika, pacarnya sendiri. "Yaudah, lo pacaran aja sama Erik!" Dika langsung bangkit dari tempat duduknya. Wajah Bella tampak panik. Dia tau bahwa pacarnya itu sedang marah. Karena, dari panggilannya sudah berubah menjadi "Lo"
"Lo sih, kalau ngomong gak disaring dulu." ujar Erik. "Yaudah, lo kejar Dika gih!" seru Rani. Tanpa banyak bicara lagi, Bella langsung mengejar Dika. Ternyata, selain Dika si kutu buku yang serius, ternyata dia juga sensitif. Kaki Dika yang pasti lebih panjang dari Bella, membuat dia berjalan lebih cepat dibandingkan Bella. Bella sangat kewalahan, dia tak Dapat mengejar Dika. Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti, berhenti mengejar Dika dan memilih duduk di bangku taman untuk menstabilkan nafasnya. "Harusnya kejadian kayak gini gak pernah ada di hidup gue! Gue emang bodoh! Buat apa gue dulu sok-sokan jadian sama Dika cuma buat ngetest Erik cemburu atau engga, toh akhirnya dia gak cemburu sama sekali, dia malah jadian sama Rani. Terus kenapa juga gue masih pertahanin Dika? Harusnya gue sadar, gue sama Dika gak mungkin bisa nyatu, perbedaan gue sama Dika terlalu jauh, sulit buat disatuin. Dan emang bener, cinta itu harusnya udah hadir sebelum jadian, bukan jadian dulu baru nunggu cinta itu hadir." Cewek periang itu akhirnya meneteskan air matanya, tampak sekali peyesalan dari wajahnya yang cantik itu. Dia tidak sadar, bahwa tidak semua perbedaan harus disatukan, dan cinta bukan sarana untuk menyamakan perbedaan, tapi cinta untuk menyatukan perbedaan itu agar tetap menjadi apa adanya.

Sudah hampir seminggu Dika menjauhi Bella. Bella pun lebih memilih untuk diam, menunggu amarah Dika meredam. Buku yang dipegangnya sama sekali tak dia lirik, dia menatap ke arah lain. "Sampai kapan aku terus diam-diam mengagumimu dari kejauhan seperti ini. Padahal jarak kita sangat dekat." ucapnya lirih. "Sssttt... Lo ngapain duduk sendirian disitu? Sini Bell!" seruan itu menghamburkan lamunan Bella. "Eehh.. Iya-iya Rik." Bella langsung merapihkan buku-buku yang diambilnya dari rak buku perpus, dia langsung melangkahkan kakinya ke meja Erik. "Gaya lo! ambil buku banyak-banyak tapi gak dibaca, lo daritadi malah liatin gue terus." ujar Erik dengan lancarnya. Mendengar ucapan Erik, Bella langsung tersentak kaget. "APAA??!! Ih pede banget looooo!" Sangking paniknya, Bella tidak sadar bahwa teriakannya tadi sangat mengganggu telinga tipe kutu buku penghuni perpus disini. Sontak semua perhatian langsung tertuju pada Bella, tentunya dengan tatapan sinis para kutu buku. "Upss.. Sorry-sorry!" Bella langsung membekap mulutnya sendiri. "Untung penjaga perpus lagi gak ada. Kalau ada lo bisa-bisa disuruh baca tumpukkan buku itu!" Erik menunjuk pada tumpukkan buku yang sudah disediakan untuk para perusuh perpus (suka pacaran di perpus/curhat di perpus). "Lo juga tumben-tumbenan ke perpus, biasanya kantin mulu, lo kan muka laper!" ejek Bella balik. "Yee gue tadi nungguin Rani, tapi barusan dia sms. Dia lagi bantuin Bu Tina koreksi ujian matematika." Jelas Erik dengan muka lapernya. "Yaudah mending lo dengerin gue curhat aja, tapi jangan disini nanti gue dicap sebagai perusuh perpus lagi." Dengan spontan Bella menarik tangan Erik, dan menyeretnya keluar perpus. Beberapa saat kemudian dia baru sadar bahwa tangannya sedang bergandengan dengan Erik. Seketika itu juga Bella langsung melepasnya "Ups.. Sorry." Wajah Bella memerah. "Halaaaaaah biasa aja kali, ayuk ah. Laper nih gue." Sekarang Erik yang menggandeng tangan Bella. Bella hanya tersenyum dan mengikuti jalan Erik. Mereka pun sampai di kantin. "Si muka laper mau makan dulu." Ujar Erik. "Eh BTW keren juga lohh 'muka laper' haha iyaiya serius! thanks Bella si muka galau." ujar Erik dengan nada bercandaan khasnya. "Muka galau? Enak aja lo." Bella tidak terima namun dia sedikit tertawa. "Ayo cepetan mau curhat apa?" Erik mulai serius. "Gue bingung, Dika udah hampir seminggu ini cuekin gue, gak sms gue. Ini pertama kalinya dia marah sama gue. Sekalinya marah sampe separah ini." Kesedihan di hatinya akhirnya tampak di wajahnya. "Wajar, orang sabar dan diem kayak Dika emang gitu, dia selalu nahan perasaannya dengan kesabarannya, tapi ya namanya manusia, pasti punya batas kesabaran. Pas batas kesabarannya udah habisnya ya gini deh, marahnya gak ada ampun. Menurut gue, jadi orang sabar itu gak enak, karena mereka harus nahan hal yang harusnya dikeluarin. Kayak gitu gak enak banget lho, contohnya mules." Ucapan Erik kali ini ada isinya, walaupun harus diakhiri dengan kata mules. "Ha..ha bener, tapi kata lo marahnya gak ada ampunnya ya? Apa itu tandanya dia mau putusin gue?" tanya Bella. "Lo udah usaha apa aja biar Dika gak marah lagi?" Tanya Erik kali ini. "Gak ada, gue fikir dia cuma butuh waktu buat redamin amarahnya." Jawab Bella. "Aduh Bell, gimana sih lo? Dengerin gue ya. Marah itu ibarat api, nah maaf itu ibarat air. Nah.. Kalau dia marah, ya lo minta maaf. Bukan cuma diem, cowok juga ingin dimengerti kali." Jelas Erik dengan wajah serius. Tawa Bella membeludak "Lo itu ya, awalnya aja bijak, keren. Eh ujungnya selalu bikin drop, mules lah, cowok juga ingin dimengerti lah. Ha..ha tapi gue dengerin deh apa kata lo, gue bakal coba minta maaf lagi sama Dika." Kesedihan di wajah Bella nyaris semuanya hilang. "Gini-gini juga akhirnya lo minta saran gue kan? Huuuu." *kring* "Pasti Rani!" ujar Erik yakin. Tawa Bella entah kenapa tiba-tiba berhenti. Wajah Erik pun akhirnya berubah menjadi kusam ketika melihat pesan teks di handphonenya. "Muka lo kenapa gitu deh?" tanya Bella. "Ini si Rani..." Jawab Erik malas. "Kenapa?" Bella tampak penasaran. "Gue kan bilang, yanggg nanti kertas ujian aku dikoreksi sama kamu ya, terus kalau salah, benerin aja. Minimal seratus deh nilai aku. Eh dia malah gak mau." Mendengar penjelasan Erik, tawa Bella lebih membeludak dari sebelumnya. "Ya jelas Rani gak mau lah! Dia kan orang paling jujur sedunia!" Bella tak berhenti tertawa. "Ehh jangan salah! Di dunia ini gak ada orang yang jujur. Minimal setiap orang itu pasti gak jujur soal perasaannya. Gak jujur sama perasaannya sendiri." Kali ini ucapan Erik berisi semua, dan endingnya pun enak di dengar. "Ha..ha iya deh iya."

(Di satu sisi yang lain)

"Terimakasih ya Rani, Dika. Kalian sudah mau bantu Ibu koreksi."
"Iya sama-sama, bu." ujar Rani dan Dika serempak. "Aduh kompak banget kalian, pinternya juga kompak." Ledek Bu Tina. Mereka berdua hanya tertunduk dan diam ketika mendengar ledekkan Bu Tina. "Yasudah, Rani, Dika. Ibu harus pergi rapat dulu ya, terimakasih sekali lagi."
"Iya bu." ujar Rani sopan. Sekarang tinggal mereka berdua. Berjalan bersampingan tanpa ucap. "Lo gimana sama Bella? Udah baikan?" Akhirnya Rani memulai pembicaraan. Dika hanya menggelengkan kepalanya. Melihat itu, sepertinya Rani merasa tak dihargai saat Dika hanya menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Kalau berantem jangan lama-lama kali." Rani memberanikan diri untuk menanyakan lebih jauh, dan dia berharap aa jawaban yang memuaskan dari mulut Dika. "Gue liat, Bella sama sekali gak ada usahanya untuk minta maaf sama gue.". ujar Dika, dengan wajah yang lurus ke depan. "Maaf ya, gara-gara gue sama Erik, lo berdua jadi berantem kayak gini. Tapi Dik, gue liat, kayaknya Bella ga seriusan kok ngomongnya, dia cuma asal ceplos." Rani mencoba meakinkan Dika. "Dia bukan asal ceplos, tapi keceplosan. Dan biasanya hal yang keluar dengan spontan itu, datangnya dari hati, tulus, jujur." mendengar ucapan Dika, Rani tidak memiliki kuasa lagi untuk berkomentar.
Akhirnya mereka hanya diam sepanjang jalan. 'Dulu gak ada istilah canggung kayak gini, persahabatan kita begitu hangat Dik. Tapi kenapa? Sekarang jadi berantakan begini? Sebelum ada yang jadian dintara kita; Kamu dan Bella, begitu juga Aku dan Erik. Mungkin cinta ini memang seharusnya tidak ada.' batin Rani.
"Eh yang.. Udah selesai?" Rani tidak sadar, ternyata didepannya telah ada Erik dan Bella. Suasana saat itupun beku ketika Bella dan Dika saling bertatapan. Erik langsung memberi isyarat kepada Bella bahwa ini saat yang tepat untuk meminta maaf. "Gue pulang duluan ya." ujar Dika singkat. Mendengar pernyataan itu, Bella langsung buru-buru mengikuti langkah Dika yang lebar-lebar itu. "Dik tunggu!" Seru Bella. Dika terus saja berjalan. "Please, Dik. Tunggu gue." Akhirnya tangan Bella mampu meraih Dika. Dengan nafas yang tidak stabil, Bella berusaha untuk mengeluarkan kata-kata yang telah ia siapkan. "Dik, kamu kenapa sih? Masa cuma gara-gara itu, kamu marahnya pake banget kayak gini? Aku minta maaf Dik." ujar Bella cepat. "Kalau kamu gak tau kesalahan kamu apa, ngapain kamu minta maaf?" tanya Dika. "Aku tau kok. Aku udah berusaha untuk minta maaf, tapi kamu malah cuekin aku terus." Jelas Bella. Kalau kamu tau kesalahan kamu apa, kenapa kamu masih tanya 'kenapa'?" Dika masih saja ketus. "Yaudah sekali lagi aku tegasin, aku ngerasa salah. Kata-kata aku kemarin udah nyakitin hati kamu, aku minta maaf." Bella meneteskan air matanya. Hati Dika sangat rentan dengan air mata, dia tak mampu melihat air mata wanita menetes, apalagi jika penyebabnya adalah dirinya. "Yaudah aku maafin kamu, kamu gak usah nangis kayak gitu." Akhirnya Dika mau memaafkan Bella. "Makasih dik." Bella langsung memeluk Dika. 'Asal kamu tau Bell, aku gak akan semarah ini kalau aku gak tau yang sebenarnya. Aku tau, selama ini kamu suka sama Erik, tapi selama aku berpura-pura tidak tau itu bisa membuat kamu bahagia, aku akan lakukan itu, sambil menunggu kamu jujur dengan perasaan kamu sendiri Bell. Walaupun aku tau, hal yang paling menyakitkan adalah ketika ragamu ada didekatku, namun hati kamu hanya ada untuk orang lain.' Batin Dika.



"Kamu langsung ke parkiran aja, aku ke kelas dulu sekalian ambil radio dan tas kamu." ujar Erik. "Yaudah." Rani langsung pergi menuju parkiran, begitu juga Erik menuju kelas.
"Aduh Rani, bukunya masih belum dimasukin tas." Erik buru-buru memasuki buku-buku Rani, karena dia tidak mau membuat Rani menunggu lama. Lalu, sebuah buku catatan kecil terjatuh, dengan posisi terbuka. Erik langsung mengambilnya. Dia ingat bahwa itu adalah buku kumpulan rumus matematika Rani, tanpa curiga dia langsung mengambil dan menutupnya. Namun sekilas dia melihat ada gambar, dan emotic kiss, love, dan gambar-gambar yang berwarna-warni. Akhirnya Erik membuka buku itu lagi dan dia membacanya. Pada akhirnya, rahasia pasti akan terbongkar juga.

'Erik kenapa sih? Kok tumben dia diem aja sepanjang jalan?' batin Rani. Sepanjang jalan Erik diam, dia menahan amarahnya. Memang terkadang diam jauh lebih baik, daripada marah, banyak bicara dan akhirnya harus menyakiti hati orang lain. Tak terasa, akhirnya mereka sampai di depan rumah Rani. "Makasih ya." ujar Rani dengan senyumnya. Erik masih diam, dia hanyaa mengangguk melihat keanehan pada Eerik, akhirnya Rani menanyakannya. "Kamu kenapa? Ada masalah?" tanya Rani. Erik hanya menatap wajah Rani dalam-dalam. "Kamu setuju gak, kalau di dunia ini gak ada orang yang jujur, minial setiap orang pasti gak jujur soal perasaannya?" Tanya Erik. "Hmm.. Setuju, emang kenapa ya?" Rani belum merasa curiga. "Berarti bener dong?" Ujar Erik. "Bener apa?" Rani tampak heran. Erik mengeluarkan sebuah buku catatan di saku jaketnya. "Soal isi di buku ini." Rani sangat terkejut ketika melihat bukunya, buku yang berisi banyak rahasianya sekarang ada di tangan Erik, dan Erik pasti sudah mengetahui isi dari buku itu. "Aku bisa jelasin kok." kepanikan sudah memenuhi wajah manis Rani. "Gak perlu dijelasn, karena semakin kamu jelasin, pasti akan tambah sakit." ujar Erik. "Kamu salah paham, semua yang ada di buku itu udah berakhir." Rani terus meyakini Erik. "Aku lihat tanggalnya, terakhir kamu nulis ini kemarin. Kalau emang udah berakhir harusnya kamu udah buang buku ini." Emosi Erik semakin menjadi-jadi. Kali ini Rani tidak bisa berkata apa-apa. "Menyakitkan adalah ketika aku punya pacar yang mencintai oranglain. Apalagi orang lainnya itu sahabat aku sendiri. Aku emang gak sepinter Dika, tapi aku selalu berusaha selalu ada buat kamu. Aku emang gak seganteng Dika, tapi aku selalu berusaha buat bikin kamu gak malu buat ngakuin kalau aku ini pacar kamu." ujar Erik dengan tatapan yang sangat tajam kepada Rani, sedangkan Rani hanya mengangguk menutupi air matanya. "Ohya.. Bella kan lagi berantem sama Dika, palingan bentar lagi mereka putus. Sama kayak kita sekarang. Semoga kamu bisa ya dapetin Dika, orang yang selama ini kamu harapin. Semoga kamu bisa dapet perhatian dari orang yang kamu cinta, bukan perhatian dari aku, orang yang gak pernah kamu harapin." ujar Erik seperti menyindir. "Stop Rik! Aku gak sejahat itu. Kamu fikir aku suka dengan kepura-puraan ini, kamu fikir aku sengaja jatuh cinta sama Dika? Gak Rik! Setiap hari juga aku udah berusaha sakit-sakitan supaya bisa lupain Dika, dan belajar mencintai kamu. Tapi apakah cinta bisa diatur? Coba kamu ngertiin aku Rik, aku gak ada maksud buat nyakitin kamu." ujar Rani dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku sayang kamu, aku ngerti banget perasaan kamu. Kamu tersiksa kalau aku jadi pacar kamu, karena kamu gak sanggup jujur sama perasaan sendiri. Jadi, mending kita jadi temen aja, aku relain kamu bahagia, walaupun kedengeran munafik, tapi inilah perjuangan terakhir aku. Makasih Rani udah mau jadi pacar aku. udah bikin aku bahagia. Aku pergi dulu ya, aku gak sanggup lihat kamu nangis kayak gini, aku juga sadar kok, aku gak bisa berhentiin air mata kamu, karena aku bukan orang yang bisa bikin kamu bahagia, bukan orang yang kamu harapkan." Erik pergi, dia benar-benar pergi meninggalkan Rani dalam keadaan menangis. Rani hanya melihat Erik dengan penuh sesal.

****

"Kenapa ya perasaan gue jadi serba salah gini, gue ngerasa gak enak banget sama Dika. Jangankan dibohongin, ngebohongin orang aja rasanya gak enak, gak tenang." ujar Bella kepada dirinya sendiri, sambil merendam sebagian kakinya di kolam renang. "Apa gue harus jujur ya, kalau gue sebenarnya suka sama Erik? Aaaaaaaaaa galau, Erik gue kangen sama lo." Bella teriak sejadi-jadinya. "APAAA?!"
Bella langsung menengok ke sumber suara, ternyata di depannya telah berdiri Erik. Bella langsung bangkit dari duduknya. "Erik? Lo ngapain disini malem-malem." Tanya Bella dengan cepat. "Gue baru putus sama Rani, dan gue kesini mau curhat sama lo. Lo bener suka sama gue?" tanya Erik dengan wajah yang agak penasaran. Entah kenapa, Bella hanya dia. Dia tak mampu lagi berbohong. "Kalau bener, gue gak bisa suka balik sama lo. Gue sayang sama lo sebagai sahabat Bell, bahkan lo sering gue anggap sebagai adek gue, karena lo manja. Please Bell jawab, gue gak mau tambah bingung." Erik mendekati Bella, menatap mata Bella dalam-dalam. "Iya Rik, maaf." Jawaban Bella sungguh membuat bingung. "Terus maksud lo jadian sama Dika kenapa?" Tanya Erik lebih jauh. "Awalnya gue cuma mau bikin lo cemburu, tapi ternyata lo malah jadian sama Rani." Jelas Bella dengan nada tenang, namun terlihat dari wajahnya ada rasa malu. "Tapi lo gak minta..." Belum Erik selesai berbicara langsung di jawab oleh Bella. "Gak kok, gue gak minta lo jadi pacar gue. Gue gak mau ngerusak kebahagiaan dua sahabat gue. Eh tapi lo barusan bilang abis putus? Kenapa? Kok bisa?" Tanya Bella semena-mena. "Mulai deh, nanya satu-satu kali. Iya gue putus sama Rani, gue abis baca buku catatan dia, di situ dia nulis kalau dia suka sama Dika." Jelas Erik. "Dika? Rani suka sama Dika?" Pastinya Bella kaget, dia memutar otaknya, mengingat buku catatan yang disebutkan Erik. 'Buku catatan? Ohiya, itu buku yang waktu dulu gue baca. Biar saja terus seperti ini, kamu disana dengan milikmu, dan aku disini dengan milikku. Itu artinya Dika dengan Gue, dan Rani dengan Erik? My god.. Rani ternyata lo...'
"Eh lo kok bengong!" Erik menghamburkan lamunan Rani. "Engga kok, gak apa-apa. Rik kayaknya kita emang harus jadi sahabat aja deh. Gue juga baru sadar, kalau dulu sama sekarang lebih seru dulu, apa-apa selalu berempat, belajar bareng, atau apalah." ujar Bella mengingat masa-masa dulu sebelum cinta datang di tengah-tengah mereka berempat. "Iya, lo bener Bell. Lo udah putus sama Dika?" Tanya Erik. "Belum, tapi barusan gue punya fikiran buat putusin Dika. Dia juga udah tau kalau sebenarnya gue suka sama lo. Tapi dia, maafin gue. Mungkin dia mau putusin gue, tapi gak berani." Jelas Bella. "Yaudah lo putusin aja, terus kita kumpul berempat, saling jujur, dan sahabatan lagi." Erik tampak yakin dengan idenya. "Oke, gue sms Dika dulu ya." Izin Bella. "Sedih amat mutusin lewat sms." Erik mulai kembali dengan ledekannya. "Yang penting gak nyeraiin lewat sms." timbal Bella sedikit tertawa.

****

(Di sekolah)

"Dika, Rani, Erik. Gue kumpulin kalian disini, karena gue mau memperbaiki persahabatan kita yang akhir-akhir ini udah berjalan gak baik." Bella memulai pembicaraan. Meski diantara mereka berempat Bella adalah yang paling kecil, childish. Namun karena kekanak-kanakannya itu dia tak malu untuk meminta maaf duluan, nyatain perasaan duluan, dan keberanian-keberanian Bella yang lainnya. "Iya, gue udah diskusi sama Bella sebelumnya. Tanpa dibahas pun konfliknya kalian juga masing-masing udah ngerti kan? Sebelum cinta itu pergi dari kita, mending kita duluan yang ninggalin cinta itu. Ngerti kan maksud gue?" Tanya Erik. Semuanya mengangguk. Dengan suasana yang tenang, mereka berempat dapat merenungi apa yang salah diantara mereka, dan akan berubah untuk lebih dewasa. "Maafin gue ya, gue gak bisa jadi sahabat yang baik, tapi gue akan berusaha untuk lebih terbuka sama kalian." ujar Rani dengan penuh haru. "Gue juga, gue yang melankonis tapi belaga sok dingin, sering sibuk sama hobby sendiri, maafin gue ya, gue usahain buat bisa berubah jadi lebih baik." ujar Dika, sepertinya luka Dika sudah lumayan membaik, karena menurutnya lebih baik dia dilukai oleh kejujuran, daripada dibahagiakan lalu dilukai juga oleh kebohongan. Akhirnya mereka berempat dapat saling menyayangi, menjaga, bukan hanya kepada pasangannya, tapi semuanya.


"Terkadang, sahabat memang hanya diciptkan hanya untuk menjadi sahabat, bukan kekasih. Jangan sampai salah arti, perhatian sahabat tulus dari hati, bukan bermaksud ada hati." - Rani.


"Terkadang, cinta itu datang dari sebuah kebahagiaan, dibuat tertawa lepas. Tapi, kebahagiaan itu bukan berarti dari cinta, tapi kebahagiaan yang diberikan murni oleh sahabat, sahabatlah yang menciptakan bahagia itu terasa sederhana." - Bella.


"Terkadang, cinta itu menuntut sebuah pengertian. Harus mengerti perasaan orang yang kita cintai melebihi kita mengerti perasaan kita sendiri. Cinta itu, rela sakit demi kebahagiaan orang yang kita cintai, bukan pura-pura bahagia demi kebahagiaan orang yang kita cinta." - Erik.


"Terkadang, cinta itu memang penuh dengan kepura-puraan. Berpura-pura secara sadar, demi orang yang kita cintai agar tetap bahagia. Cinta adalah dimana kita melakukan segala hal untuk bisa membuat orang yang kita cintai merasa nyaman, walaupun harus berpura-pura." - Dika.


"Cinta tidak pernah salah. Maksudnya, jika cinta terasa menyakitkan jangan sekali-kali menyalahkan cinta. Karena cinta selalu menimbulkan kebahagiaan tanpa alasan. Jika jatuh cinta terasa menyakitkan, itu berarti salah jatuh cinta, jatuh cinta kepada orang yang tidak tepat. Tidak semua perhatian itu cinta, jadi jangan salah menilai cinta." - @fhafha93

Thanks for reading. #muchlove