Thankyou for coming :)

Minggu, 15 Desember 2013

Only Love : Love is Quickly




            Ini kisah tentang cinta pertama. Cinta yang bersemi di Putih Abu-Abu. Cinta yang  terikat dengan sebuah hubungan, antara dua orang yang sangat berbeda, namun saling melengkapi. Cinta pertama pada pandangan pertama, tidak ada yang salah, bukan? Tidak ada yang tidak mungkin untuk cinta. Bukankah semua cinta berawal dari sebuah ketertarikan? entah fisik, senyuman, cara berbicara, semua mungkin saja. Dan ini kisahnya, kalian akan baca sekarang. Aku tidak berkata ini akan menjadi kisah yang selalu manis. Tentu, selalu ada konflik dalam sebuah cerita, akan selalu ada yang terluka dalam cinta. Selamat menikmati, cerita bersambung yang insyallah akan aku posting setiap satu minggu sekali, atau mungkin lebih sering, atau mungkin lebih lama. Ditunggu aja, ya. Aku berharap kalian suka, aku tunggu komentarnya! :)

                                                                                                            Salam manis,
                                                                                                               Ulfah. N.
Love is Quickly

            Yubi

            Hi! Nama aku Yubi. Aneh nggak, sih? Nama asli aku sebenarnya Ayu Salsabilla. Nggak tau kenapa semua orang panggil aku Yubi, mungkin dari singkatan aYU salsaBIlla. Ya, mungkin.
            Udah tiga bulan aku sekolah di SMU Garuda, tapi belum ada satupun cowok yang bisa bikin aku tertarik. Bukan karena disini nggak ada yang ganteng, pasti kalau kamu liat cowok-cowok di SMU Garuda, hampir semuanya ganteng, kalau nggak ganteng ya keren, kalau nggak ganteng atau keren ya pasti tajir. Tapi menurut aku, sih, beda. Cowok keren itu adalah cowok yang bisa bikin aku terpesona pada pandangan pertama. Oke, kedengerannya emang terlalu biasa, tapi untuk aku yang nggak gampang tertarik sama cowok yang baru kenal, apalagi cuma baru ngeliat, kejadian ini langka banget, bahkan nggak pernah.
            Hi, Bi.”
            Tadi barusan yang nyapa aku itu Denis. Salah satu cowok yang termasuk popular di sini. Kakak kelas aku. Mau tau dia kayak gimana? Warna bola matanya dan rambutnya coklat, karena dia blasteran Belanda. Hidungnya udah pasti mancung. Postur tubuhnya tegap, ya seperti kebanyakan anak Basket, gede tinggi. Kulitnya putih, walaupun sering banget kebakar sinar matahari kalau lagi main Basket. Punya banyak mantan di sini, dan hampir semua mantannya cantik, keren, dan juga popular. Daritadi kamu pasti belum denger kata ‘pintar’, ya? Hmm, di sini emang jarang banget ada anak pintar. Walau, sebenarnya ada juga, sih. Tapi, aku nggak pernah bergabung dengan mereka, karena waktu istirahat mereka dihabiskan di Perpustakaan, atau Lab Kimia, Biologi, atau di Kelas. Ngebosenin, ya? Iya, menurut aku.
            Berat banget sebenernya, berat apa? Ini aku lagi bawa piring yang berisi nasi goreng, dan segelas es jeruk. Daritadi aku lagi nyari bangku kosong di kantin. Tapi belum ketemu juga, tadi barusan Denis ngajak gabung, sih. Tapi, ngeliat cewek-cewek di sebelahnya aja udah males. Udah kayak monster. Eh.
            Mataku menelusuri seisi kantin. Akhirnya, keliatan juga bangku kosong. Walaupun aku belum liat siapa yang duduk di sana. Aku langsung bergegas kesana, takut keduluan orang.
            Hi, aku boleh duduk disini?” aku bertanya dengan nada sopan. Dari wajahnya sih keliatan asing banget. Ya, walaupun nggak banyak orang yang aku kenal di SMU Garuda. Tapi, aku hampir hafal dengan wajah-wajah yang biasanya jam segini ada di kantin.
            Dia liatin aku agak lama. Mungkin aneh kali, ya. Ada cewek yang nyamperin dia, terus pengen duduk di sebelahnya. Bodo amat, deh. Laper.
            Beberapa detik lamanya, dia mengangguk. Ya, aku artiin aja dia izinin aku duduk di situ. Aku langsung taruh nasi goreng dan es jerukku di atas meja. Duduk manis, dan mulai menyeruputnya dengan sedotan.
            “Kamu nggak makan?” aku sok akrab.
            Matanya lagi fokus sama buku bacaannya, yang enggan aku baca judulnya. Dia tersadar dengan suaraku tadi, dan lagi-lagi dia cuma menggeleng. Aku langsung nyimpulin, kalau cowok ini adalah cowok dingin. Aku udah ngomong dua kali, dan dia cuma mengangguk dan menggeleng? thanks.
            Laper. Aku nggak mau mikirin lagi, deh. Langsung aja aku makan nasi gorengku tanpa nawarin ke dia. Tapi, aku lumayan penasaran sama cowok itu, wajahnya asing banget. Belum pernah aku liat sebelumnya. Jadi, aku nanya lagi,
            “Kamu anak baru, ya?” pertanyaan aku tidak langsung dijawab. Dia menutup buku bacaannya dan menaruhnya di atas meja. Aku fikir dia mau langsung pergi, ternyata nggak. Dia hanya membenarkan posisi duduknya yang awalnya menyender malas di kursi, menjadi duduk tegak. Dia mendaratkan tatapannya di mataku, dan jawaban singkatpun keluar dari mulutnya. “Iya.”
            Kamu mau tau cowok dingin itu kayak gimana? Warna bola mata di balik kacamatanya hitam pekat. Kulitnya kecoklatan. Hidungnya mancung kayak Denis. Alisnya tebal. Jam tangan casio bertengger di tangan kirinya, keliatan rapih. Dan yang bikin aku terkejut adalah…… ada rambut di bawah hidungnya, di atas mulutnya. Itu KUMIS! Wah, cowok berkumis tipis, suka!
            “Liatin apa?” cowok itu bertanya dengan wajah yang bingung. Kayaknya aku barusan ngeliatin dia dengan wajah cengo dan mulut sedikit kebuka.
            “Kumis…” kayaknya aku masih belum sadar. Aku liat, wajahnya berubah, kayak malu, dia langsung pegangin kumisnya dengan tangan kanannya, matanya berkedip beberapa kali, kayak kaget gitu.
            “Kenapa kumis gue? Aneh?” dia nanya dengan nada nggak pede. Aku langsung menggeleng.
            “Nggak aneh, aku suka.” eh, aduh, keceplosan. “Suka kumisnya.” aku membenarkan sambil cengengesan. Aku fikir dia bakal takut sama aku, terus kabur. Eh, dia malah ikut ketawa. Dan satu keajaiban lagi yang aku liat. Ada lesung pipit yang lumayan dalam di kedua pipinya, pas di bagian tengah, manis.
            “Gitu dong ketawa, jangan jutek.” aku mencoba meledeknya. Tawanya berhenti. Aku langsung menyodorkan tanganku dan menyebutkan nama. “Ayu Salsabilla. Biasanya aku dipanggil Yubi. So, panggil aku Yubi.” lagi-lagi dia nggak langsung menjabat tanganku. Dia malah melihat tanganku beberapa detik, lalu menjabatnya sebentar
            “Digra Septian. Panggil aja Digra.” jawabnya dengan suara datar.
            “Digra.” aku mengulang namanya. Entah kenapa, aku berharap ingin lebih lama lagi berbicara dengan Digra. Tapi, dia bangkit dari kursinya, dan membawa buku bacaannya.
            “Ini pertama kalinya gue bisa ketawa di depan orang yang baru gue kenal. Semoga kita bisa ketemu lagi.” Digra menepuk pundakku pelan. Dan dia berjalan dengan tangan kanan yang dimasukkan ke saku celananya, dan tangan satunya menenteng buku yang lumayan tebal. Aku coba baca judulnya di bagian pinggir. ‘Kinematika Quantum’
            Oh, God.
           
ooo

            Digra

            Cukup aneh. Dua kata yang mampu mendeskripsikan bagaimana hari pertama gue masuk ke sekolah baru. Thanks God. Bisa ketemuin gue sama cewek cantik tapi aneh, nggak aneh sih, lebih tepatnya lucu. Namanya Ayu Salsabilla (langsung hafal) dan dia minta dipanggil Yubi. Oke, itu nama yang pas buat dia, lucu.
            Jadi gini, tadi siang pas lagi nyantai di kantin. Gue pilih duduk sendirian, di pojokkan, ya karena belum ada orang yang gue kenal. Tiba-tiba Yubi dateng, dia minta izin buat duduk di sebelah gue. Gue yang lagi serius baca langsung kaget pas denger suara cewek di deket gue. Makanya gue langsung liatin mukanya. Perfect sigh. Mata gue langsung dimanjakan dengan mata coklatnya, matanya sayu, bulu matanya lentik alami (nggak pake maskara). Warna bibirnya pink alami (nggak pake lipstick ataupun lipsgloss). Kulitnya putih, enak diliat saat dipadukan dengan seragam putihnya. Hidungnya nggak mancung, nggak juga pesek, biasa aja. Pipinya sedikit cabi, padahal dia nggak gemuk. Lucu, kan?
            Pas gue izinin dia duduk di situ, dia nanya kenapa gue nggak makan. Cukup kaget, sih. Kok peduli banget? Gue coba tenang, gue tutupin wajah gue yang mulai menegang dengan buku Kinematika Quantum gue yang tebal. Akhirnya, gue cuma menggeleng. Sikap gue emang selalu kayak gini ke cewek. Makanya, udah limabelas tahun hidup di dunia, gue belum pernah pacaran.
            Yubi sempet diem. Gue denger kayaknya dia mulai makan nasi gorengnya. Nggak lama, dia nanya, gue anak baru atau bukan. Gue yakin, pasti dia nggak pernah liat gue sebelumnya makanya dia nyangka gue anak baru, ya walaupun bener, sih.
            Gue coba buat liat dia, makanya gue taro buku gue di atas meja. Gue coba berani liat mata coklatnya, gue jawab sesingkat mungkin. Lagi-lagi wajah gue menegang, saat gue liat Yubi lagi ngeliatin gue sampe segitunya. Nggak tau karena apa, apa muka gue aneh? jelek? Gue bingung, gue malu diliatin kayak gitu, tapi akhirnya gue berusaha tenang.
            “Liatin apa?” gue berharap pertanyaan gue bisa bikin dia berhenti natap gue dengan tatapan itu. Dan, ternyata gue nggak jelek, atau aneh. Dia bilang dia suka gue, eh suka kumis gue, deh. Dia cengengesan, gue liat ada lesung pipit kecil di bagian pipi atasnya, di bawah mata, bikin dia keliatan imut. Terus, gigi gingsul bertengger di gigi taringnya, bikin dia keliatan manis.
            Gue ketawa.
            Jujur, ini pertama kalinya gue ketawa sama orang yang baru gue kenal, bahkan gue belum tau namanya. Terus, nggak lama dia nyebutin namanya. Ayu Salsabilla. Gue diem sebentar, gue coba inget-inget namanya. Baru gue sebutin nama gue.
            Sebenarnya pengen ngobrol banyak, tapi gue nggak bisa. Gue harus ngurusin seragam  di TU. Akhirnya gue pergi ninggalin dia. Gue coba bikin kesan enak di akhir pertemuan gue sama dia. Gue bilang “Semoga kita bisa ketemu lagi.”
            Amin.

            Do’a gue terkabul. Tadi, pas lagi di minimarket. Gue ngeliat dia, lagi pilih-pilih cemilan. Oh, ternyata itu yang bikin pipi dia keliatan cabi. Dia pake kaos warna kuning, dan celana pendek hitam. Simple banget. Gue langsung mikir, rumah dia pasti nggak jauh dari sini. Berarti gue sama dia ada di satu komplek. Kebetulan yang sangat indah.
            Bodohnya gue, gue tadi malah mau kabur sebelum dia liat gue. Tapi, gue telat. Dia udah terlanjur liat, dia panggil gue dengan nada kurang yakin.
            “Digra?”
            Gue nengok.
            “Kamu ngapain di sini?” gue bingung, kenapa dia pake nanya. Padahal udah jelas, gue lagi bawa keranjang belanjaan, ya pasti lagi belanja, lah.
            “Seperti yang lo liat, belanja.” gue berusaha keliatan nggak kaget udah ketemu sama dia disini. Dia deketin gue, dia perhatiin keranjang belanjaan gue. Gue tau, di keranjang ada banyak barang-barang yang seharusnya dibeli sama ibu-ibu. Kayak: Tepung, telur, minyak sayur, detergen, pewangi baju, dan Oh God.. Pembalut. Gue langsung singkirin keranjang itu dari tatapan Yubi.
            “Disuruh Mama. Gue duluan, ya.” gue langsung ngibrit, sumpah malu.
            Sial! Antrian dikasirnya panjang dan Yubi ada tepat di belakang gue.
            “Hey, rumah kamu disini juga, ya? Blok berapa?” tanya Yubi tepat di telinga gue.
            Gue jawab, tanpa ngeliat dia. “Blok C.”
            “Sama, dong. Nomer berapa?” tanya dia lagi. Dia kayaknya hobi banget nanya.
            Gue diem. Gue lupa rumah gue nomer berapa. Kan gue baru pindah.
            “Lima belas kayaknya.”
            “Itu nomer rumah aku.” Yubi ketawa, “Salah, kali?”
            “Ya, belasan deh. Gue nggak sempet liat. Gue kan baru pindah.” duh, omongan gue kayaknya terlalu cuek, ya? kebiasaan buruk gue!
            Akhirnya, belanjaan gue diurus sama tukang kasir. Dan, pasti Yubi bisa lebih jelas liat apa aja belanjaan emak-emak gue. Saat gue bayar. Gue langsung buru-buru keluar. Sengaja ninggalin dia.
            “Eh, tunggu.” padahal sebentar lagi sampe, tapi Yubi berhasil ngejer gue. Gue berhenti, nunggu dia yang lagi lari-lari kecil ke arah gue.
            “Kamu buru-buru banget? Katanya semoga kita ketemu lagi.” Yubi keliatan capek. Gue jadi nggak tega.
            “Lagi buru-buru aja. Ya, gue seneng ketemu lo lagi. Dan, kayaknya kita bakal sering ketemu, karena rumah kita deketan. Ini rumah gue.” gue nunjuk rumah yang bertuliskan C/18.
            “Rumah aku nomer limabelas. Cuma selang dua rumah.” Yubi nunjuk arah rumahnya.
            “Oke, yaudah gue duluan, ya.”
            “Iya, sampai ketemu di sekolah, ya.” kata Yubi, sambil melambaikan tangannya. Gue coba hargain, jadi gue lambain tangan juga, sekali. Gue langsung masuk gerbang, dan diapun udah jalan ke rumahnya.
            Kebetulan yang sangat kebetulan. Thanks God.

ooo

            Yubi
           
            Rasanya pengen teriak-teriak. Tadi pagi aku berangkat sekolah bareng Digra. Dibonceng Digra. Seneng? banget. Lebay? Bodo.
            Sekarang aku bisa rasain aroma tubuhnya, dan lumayan enak. Ya, sebagai cewek, aku emang suka sama cowok rapih dan wangi, dan Digra memenuhi kriteria itu. Digra keren banget, pake jaket kulit hitam, walaupun motornya motor matik nggak kayak anak-anak SMU Garuda yang rata-rata pake motor ninja. Aku nggak perduli soal itu, Digra keren, tanpa terkecuali. Kayaknya Digra emang cowok yang aku cari, cowok yang bisa bikin aku terpesona pada pandangan pertama. Walaupun, kayaknya Digra belum nunjukin sikap positif kayak dari kebanyakan cowok yang lain. Biasanya cowok-cowok lain yang deket sama aku langsung minta nomer handphone atau pin BB. Tapi, Digra nggak minta juga. Mungkin Digra emang beda. Dan, aku makin suka.
            Jam istirahat. Aku berharap bisa ketemu Digra di kantin. Tapi, sayangnya nggak ada. Aku baru inget, judul buku bacaannya. Kinematika Quantum. Apa Digra itu termasuk cowok pintar? Akhirnya aku iseng cek di Perpustakaan. Dan, bener dia ada di sana. Aku jadi ngerasa, nggak pede. Aku mutusin buat pergi, nggak mau nyamperin dia. Tapi, dia udah liat aku.
            “Eh, mau kemana?” katanya.
            Aku langsung berbalik badan. “Eh, Digra.”
            “Lo lagi cari buku juga?” tanya Digra. Kayaknya dia tertarik kalau aku bilang iya.
            “Iya,” aku bohong.
            “Buku apa?”
            “Ini.” aku asal ambil buku yang ada di rak. Pas aku baca judulnya ‘Sastra Indonesia’ syukurlah aku nggak salah ambil. Ternyata aku dan Digra lagi ada di Rak Sastra.
            “Lo suka Sastra?”
            “Suka, aku suka bikin cerpen, kalau puisi masih belajar, sih.” aku bersemangat. “Oh, ya. kamu ngapain ada di rak sastra? suka juga?” aku bertanya, berharap dia juga suka.
            “Aku cuma suka baca puisi.” katanya sambil menunjukkan buku yang berjudul ‘Kumpulan Puisi Ternama’
            Akhirnya, harapanku terkabul. Aku menghabiskan jam istirahat di perpustakaan bersama Digra. Menyenangkan. Aku fikir, aku akan canggung, karena ternyata Digra adalah cowok pintar penggila eksak. Dan, aku berubah fikiran, ternyata cowok yang jago eksak itu sexy. Aku suka. Aku suka semua yang ada di Digra. Mulai dari kumis, lesung pipit, kacamatanya, Digra yang selalu pakai jam tangan, termasuk saat dia lagi belanja di minimarket, aroma tubuhnya, kecintaannya kepada sastra puisi dan eksak. Itu semua sangat aku sukai. Tapi, apakah Digra suka sama cewek kayak aku? aku bahkan belum punya kelebihan apapun di mata dia, menurutku.
            Menyukai seseorang memang sangat menyenangkan, namun terkadang perasaan tersebut dirusak dengan perasaan ingin disukai. Aku suka Digra, dan aku ingin Digra menyukaiku. Maksa? Nggak. Cuma berharap.

ooo

            Digra

            Gue suka Yubi. Emang cepet banget buat gue mutusin perasaan itu. Tapi, gue emang nggak bisa bohong, gue suka dia. Dari awal ketemu, dia udah bisa menarik perhatian gue. Dia beda, beda dari cewek-cewek yang suka jual mahal, suka jaim di depan cowok, sok cantik. Tapi, Yubi beda. Dia polos, dia ceplas ceplos, dia selalu bilang apa yang dia fikirin, dan dia selalu nanya apapun yang dia ingin tau. Gue bener-bener suka dia. Selain cantik, dia juga lucu. Gue suka cara dia nanyain apapun ke gue, seperti yang tadi dia lakuin di Perpustakaan. Dia banyak nanya, dan gue seneng saat gue bisa ngejawab semua pertanyaan dia, apalagi saat ngeliat wajah puas dari dia.
            Gue sebenernya agak minder. Dia cantik, dan sedikit banyak gue tau, banyak banget yang suka sama dia. Sedangkan gue? gue cuma cowok biasa, cowok berkacamata yang suka baca buku. Anak rumahan yang jarang banget nongkrong kayak kebanyak cowok yang lain. Gue lebih suka ketenangan, tapi entah kenapa gue bisa suka sama cewek kayak Yubi (dia lumayan berisik). Gue anak tunggal yang dijaga abis-abisan sama nyokap bokap. Gue dingin, nggak bisa hangat sama cewek. Gue cuek, tapi Yubi kayaknya kebal sama sikap gue, sejauh ini. Gue suka Yubi, tapi gue nggak yakin dia bisa suka sama gue.
            Gue cuma bisa berharap, dia bisa suka sama gue tanpa perlu gue ubah sikap gue. Gue pengen, dia bisa suka sama apa adanya gue.
            Amin.

5 komentar:

  1. Ditunggu kak lanjutannya
    keren loh seriuss!!:)

    BalasHapus
  2. Wih keren.. :D

    Ditunggu kak, karya-karya keren selanjutnya :)

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Udah keren. But, jangan di spesifikin gitu study konflik tokohnya. Yubi-yubi, digra-digra. Gabung aja. Ini kan cerpen. But ok lah, sukses terus! :)

    BalasHapus
  5. bagus ceritanya :D
    numpang share sekalian http://tulisansyaitan.wordpress.com/ (cerpen, puisi, sajak)

    BalasHapus