Ini kisah
tentang cinta pertama. Cinta yang bersemi di Putih Abu-Abu. Cinta yang terikat dengan sebuah hubungan, antara dua
orang yang sangat berbeda, namun saling melengkapi. Cinta pertama pada
pandangan pertama, tidak ada yang salah, bukan? Tidak ada yang tidak mungkin
untuk cinta. Bukankah semua cinta berawal dari sebuah ketertarikan? entah
fisik, senyuman, cara berbicara, semua mungkin saja. Dan ini kisahnya, kalian
akan baca sekarang. Aku tidak berkata ini akan menjadi kisah yang selalu manis.
Tentu, selalu ada konflik dalam sebuah cerita, akan selalu ada yang terluka
dalam cinta. Selamat menikmati, cerita bersambung yang insyallah akan aku
posting setiap satu minggu sekali, atau mungkin lebih sering, atau mungkin
lebih lama. Ditunggu aja, ya. Aku berharap kalian suka, aku tunggu komentarnya! :)
Salam
manis,
Ulfah.
N.
Love is Quickly
Yubi
Hi! Nama aku Yubi. Aneh nggak, sih? Nama asli aku sebenarnya Ayu
Salsabilla. Nggak tau kenapa semua orang panggil aku Yubi, mungkin dari
singkatan aYU salsaBIlla. Ya, mungkin.
Udah tiga
bulan aku sekolah di SMU Garuda, tapi belum ada satupun cowok yang bisa bikin
aku tertarik. Bukan karena disini nggak ada yang ganteng, pasti kalau kamu liat
cowok-cowok di SMU Garuda, hampir semuanya ganteng, kalau nggak ganteng ya
keren, kalau nggak ganteng atau keren ya pasti tajir. Tapi menurut aku, sih,
beda. Cowok keren itu adalah cowok yang bisa bikin aku terpesona pada pandangan
pertama. Oke, kedengerannya emang terlalu biasa, tapi untuk aku yang nggak
gampang tertarik sama cowok yang baru kenal, apalagi cuma baru ngeliat,
kejadian ini langka banget, bahkan nggak pernah.
“Hi, Bi.”
Tadi
barusan yang nyapa aku itu Denis. Salah satu cowok yang termasuk popular di sini. Kakak kelas aku. Mau
tau dia kayak gimana? Warna bola matanya dan rambutnya coklat, karena dia
blasteran Belanda. Hidungnya udah pasti mancung. Postur tubuhnya tegap, ya
seperti kebanyakan anak Basket, gede tinggi. Kulitnya putih, walaupun sering
banget kebakar sinar matahari kalau lagi main Basket. Punya banyak mantan di
sini, dan hampir semua mantannya cantik, keren, dan juga popular. Daritadi kamu pasti belum denger kata ‘pintar’, ya? Hmm,
di sini emang jarang banget ada anak pintar. Walau, sebenarnya ada juga, sih.
Tapi, aku nggak pernah bergabung dengan mereka, karena waktu istirahat mereka
dihabiskan di Perpustakaan, atau Lab Kimia, Biologi, atau di Kelas. Ngebosenin, ya? Iya, menurut aku.
Berat
banget sebenernya, berat apa? Ini aku
lagi bawa piring yang berisi nasi goreng, dan segelas es jeruk. Daritadi aku
lagi nyari bangku kosong di kantin. Tapi belum ketemu juga, tadi barusan Denis
ngajak gabung, sih. Tapi, ngeliat cewek-cewek di sebelahnya aja udah males.
Udah kayak monster. Eh.
Mataku menelusuri seisi kantin.
Akhirnya, keliatan juga bangku kosong. Walaupun aku belum liat siapa yang duduk
di sana. Aku langsung bergegas kesana, takut keduluan orang.
“Hi, aku boleh duduk disini?” aku
bertanya dengan nada sopan. Dari wajahnya sih keliatan asing banget. Ya,
walaupun nggak banyak orang yang aku kenal di SMU Garuda. Tapi, aku hampir
hafal dengan wajah-wajah yang biasanya jam segini ada di kantin.
Dia liatin
aku agak lama. Mungkin aneh kali, ya. Ada cewek yang nyamperin dia, terus
pengen duduk di sebelahnya. Bodo amat, deh. Laper.
Beberapa
detik lamanya, dia mengangguk. Ya, aku artiin aja dia izinin aku duduk di situ.
Aku langsung taruh nasi goreng dan es jerukku di atas meja. Duduk manis, dan
mulai menyeruputnya dengan sedotan.
“Kamu nggak
makan?” aku sok akrab.
Matanya lagi
fokus sama buku bacaannya, yang enggan aku baca judulnya. Dia tersadar dengan
suaraku tadi, dan lagi-lagi dia cuma menggeleng. Aku langsung nyimpulin, kalau
cowok ini adalah cowok dingin. Aku udah ngomong dua kali, dan dia cuma
mengangguk dan menggeleng? thanks.
Laper. Aku
nggak mau mikirin lagi, deh. Langsung aja aku makan nasi gorengku tanpa nawarin
ke dia. Tapi, aku lumayan penasaran sama cowok itu, wajahnya asing banget.
Belum pernah aku liat sebelumnya. Jadi, aku nanya lagi,
“Kamu anak
baru, ya?” pertanyaan aku tidak langsung dijawab. Dia menutup buku bacaannya
dan menaruhnya di atas meja. Aku fikir dia mau langsung pergi, ternyata nggak.
Dia hanya membenarkan posisi duduknya yang awalnya menyender malas di kursi,
menjadi duduk tegak. Dia mendaratkan tatapannya di mataku, dan jawaban
singkatpun keluar dari mulutnya. “Iya.”
Kamu mau
tau cowok dingin itu kayak gimana? Warna bola mata di balik kacamatanya hitam
pekat. Kulitnya kecoklatan. Hidungnya mancung kayak Denis. Alisnya tebal. Jam
tangan casio bertengger di tangan kirinya, keliatan rapih. Dan yang bikin aku
terkejut adalah…… ada rambut di bawah hidungnya, di atas mulutnya. Itu KUMIS!
Wah, cowok berkumis tipis, suka!
“Liatin
apa?” cowok itu bertanya dengan wajah yang bingung. Kayaknya aku barusan
ngeliatin dia dengan wajah cengo dan
mulut sedikit kebuka.
“Kumis…” kayaknya aku masih
belum sadar. Aku liat, wajahnya berubah, kayak malu, dia langsung pegangin
kumisnya dengan tangan kanannya, matanya berkedip beberapa kali, kayak kaget
gitu.
“Kenapa
kumis gue? Aneh?” dia nanya dengan nada nggak pede. Aku langsung menggeleng.
“Nggak
aneh, aku suka.” eh, aduh,
keceplosan. “Suka kumisnya.” aku membenarkan sambil cengengesan. Aku fikir dia
bakal takut sama aku, terus kabur. Eh, dia malah ikut ketawa. Dan satu
keajaiban lagi yang aku liat. Ada lesung pipit yang lumayan dalam di kedua
pipinya, pas di bagian tengah, manis.
“Gitu dong
ketawa, jangan jutek.” aku mencoba meledeknya. Tawanya berhenti. Aku langsung menyodorkan
tanganku dan menyebutkan nama. “Ayu Salsabilla. Biasanya aku dipanggil Yubi. So, panggil aku Yubi.” lagi-lagi dia
nggak langsung menjabat tanganku. Dia malah melihat tanganku beberapa detik,
lalu menjabatnya sebentar
“Digra
Septian. Panggil aja Digra.” jawabnya dengan suara datar.
“Digra.”
aku mengulang namanya. Entah kenapa, aku berharap ingin lebih lama lagi
berbicara dengan Digra. Tapi, dia bangkit dari kursinya, dan membawa buku
bacaannya.
“Ini pertama
kalinya gue bisa ketawa di depan orang yang baru gue kenal. Semoga kita bisa
ketemu lagi.” Digra menepuk pundakku pelan. Dan dia berjalan dengan tangan
kanan yang dimasukkan ke saku celananya, dan tangan satunya menenteng buku yang
lumayan tebal. Aku coba baca judulnya di bagian pinggir. ‘Kinematika Quantum’
Oh, God.
ooo
Digra
Cukup aneh.
Dua kata yang mampu mendeskripsikan bagaimana hari pertama gue masuk ke sekolah
baru. Thanks God. Bisa ketemuin gue
sama cewek cantik tapi aneh, nggak aneh sih, lebih tepatnya lucu. Namanya Ayu
Salsabilla (langsung hafal) dan dia minta dipanggil Yubi. Oke, itu nama yang
pas buat dia, lucu.
Jadi gini,
tadi siang pas lagi nyantai di kantin. Gue pilih duduk sendirian, di pojokkan,
ya karena belum ada orang yang gue kenal. Tiba-tiba Yubi dateng, dia minta izin
buat duduk di sebelah gue. Gue yang lagi serius baca langsung kaget pas denger
suara cewek di deket gue. Makanya gue langsung liatin mukanya. Perfect sigh. Mata gue langsung
dimanjakan dengan mata coklatnya, matanya sayu, bulu matanya lentik alami
(nggak pake maskara). Warna bibirnya pink
alami (nggak pake lipstick
ataupun lipsgloss). Kulitnya putih,
enak diliat saat dipadukan dengan seragam putihnya. Hidungnya nggak mancung,
nggak juga pesek, biasa aja. Pipinya sedikit cabi, padahal dia nggak gemuk.
Lucu, kan?
Pas gue
izinin dia duduk di situ, dia nanya kenapa gue nggak makan. Cukup kaget, sih.
Kok peduli banget? Gue coba tenang, gue tutupin wajah gue yang mulai menegang
dengan buku Kinematika Quantum gue yang tebal. Akhirnya, gue cuma menggeleng.
Sikap gue emang selalu kayak gini ke cewek. Makanya, udah limabelas tahun hidup
di dunia, gue belum pernah pacaran.
Yubi sempet
diem. Gue denger kayaknya dia mulai makan nasi gorengnya. Nggak lama, dia
nanya, gue anak baru atau bukan. Gue yakin, pasti dia nggak pernah liat gue
sebelumnya makanya dia nyangka gue anak baru, ya walaupun bener, sih.
Gue coba
buat liat dia, makanya gue taro buku gue di atas meja. Gue coba berani liat
mata coklatnya, gue jawab sesingkat mungkin. Lagi-lagi wajah gue menegang, saat
gue liat Yubi lagi ngeliatin gue sampe segitunya. Nggak tau karena apa, apa
muka gue aneh? jelek? Gue bingung, gue malu diliatin kayak gitu, tapi akhirnya
gue berusaha tenang.
“Liatin
apa?” gue berharap pertanyaan gue bisa bikin dia berhenti natap gue dengan
tatapan itu. Dan, ternyata gue nggak jelek, atau aneh. Dia bilang dia suka gue,
eh suka kumis gue, deh. Dia
cengengesan, gue liat ada lesung pipit kecil di bagian pipi atasnya, di bawah
mata, bikin dia keliatan imut. Terus, gigi gingsul bertengger di gigi
taringnya, bikin dia keliatan manis.
Gue ketawa.
Jujur, ini
pertama kalinya gue ketawa sama orang yang baru gue kenal, bahkan gue belum tau
namanya. Terus, nggak lama dia nyebutin namanya. Ayu Salsabilla. Gue diem
sebentar, gue coba inget-inget namanya. Baru gue sebutin nama gue.
Sebenarnya
pengen ngobrol banyak, tapi gue nggak bisa. Gue harus ngurusin seragam di TU. Akhirnya gue pergi ninggalin dia. Gue
coba bikin kesan enak di akhir pertemuan gue sama dia. Gue bilang “Semoga kita
bisa ketemu lagi.”
Amin.
Do’a gue
terkabul. Tadi, pas lagi di minimarket. Gue
ngeliat dia, lagi pilih-pilih cemilan. Oh, ternyata itu yang bikin pipi dia
keliatan cabi. Dia pake kaos warna kuning, dan celana pendek hitam. Simple banget. Gue langsung mikir, rumah
dia pasti nggak jauh dari sini. Berarti gue sama dia ada di satu komplek.
Kebetulan yang sangat indah.
Bodohnya
gue, gue tadi malah mau kabur sebelum dia liat gue. Tapi, gue telat. Dia udah
terlanjur liat, dia panggil gue dengan nada kurang yakin.
“Digra?”
Gue nengok.
“Kamu
ngapain di sini?” gue bingung, kenapa dia pake nanya. Padahal udah jelas, gue
lagi bawa keranjang belanjaan, ya pasti lagi belanja, lah.
“Seperti
yang lo liat, belanja.” gue berusaha keliatan nggak kaget udah ketemu sama dia
disini. Dia deketin gue, dia perhatiin keranjang belanjaan gue. Gue tau, di
keranjang ada banyak barang-barang yang seharusnya dibeli sama ibu-ibu. Kayak:
Tepung, telur, minyak sayur, detergen, pewangi baju, dan Oh God.. Pembalut. Gue langsung singkirin keranjang itu dari
tatapan Yubi.
“Disuruh
Mama. Gue duluan, ya.” gue langsung ngibrit, sumpah malu.
Sial!
Antrian dikasirnya panjang dan Yubi ada tepat di belakang gue.
“Hey, rumah
kamu disini juga, ya? Blok berapa?” tanya Yubi tepat di telinga gue.
Gue jawab,
tanpa ngeliat dia. “Blok C.”
“Sama,
dong. Nomer berapa?” tanya dia lagi. Dia kayaknya hobi banget nanya.
Gue diem.
Gue lupa rumah gue nomer berapa. Kan gue baru pindah.
“Lima belas
kayaknya.”
“Itu nomer
rumah aku.” Yubi ketawa, “Salah, kali?”
“Ya,
belasan deh. Gue nggak sempet liat. Gue kan baru pindah.” duh, omongan gue
kayaknya terlalu cuek, ya? kebiasaan buruk gue!
Akhirnya,
belanjaan gue diurus sama tukang kasir. Dan, pasti Yubi bisa lebih jelas liat
apa aja belanjaan emak-emak gue. Saat gue bayar. Gue langsung buru-buru keluar.
Sengaja ninggalin dia.
“Eh,
tunggu.” padahal sebentar lagi sampe, tapi Yubi berhasil ngejer gue. Gue
berhenti, nunggu dia yang lagi lari-lari kecil ke arah gue.
“Kamu
buru-buru banget? Katanya semoga kita ketemu lagi.” Yubi keliatan capek. Gue
jadi nggak tega.
“Lagi
buru-buru aja. Ya, gue seneng ketemu lo lagi. Dan, kayaknya kita bakal sering
ketemu, karena rumah kita deketan. Ini rumah gue.” gue nunjuk rumah yang
bertuliskan C/18.
“Rumah aku
nomer limabelas. Cuma selang dua rumah.” Yubi nunjuk arah rumahnya.
“Oke,
yaudah gue duluan, ya.”
“Iya,
sampai ketemu di sekolah, ya.” kata Yubi, sambil melambaikan tangannya. Gue
coba hargain, jadi gue lambain tangan juga, sekali. Gue langsung masuk gerbang,
dan diapun udah jalan ke rumahnya.
Kebetulan
yang sangat kebetulan. Thanks God.
ooo
Yubi
Rasanya
pengen teriak-teriak. Tadi pagi aku berangkat sekolah bareng Digra. Dibonceng
Digra. Seneng? banget. Lebay? Bodo.
Sekarang
aku bisa rasain aroma tubuhnya, dan lumayan enak. Ya, sebagai cewek, aku emang
suka sama cowok rapih dan wangi, dan Digra memenuhi kriteria itu. Digra keren
banget, pake jaket kulit hitam, walaupun motornya motor matik nggak kayak
anak-anak SMU Garuda yang rata-rata pake motor ninja. Aku nggak perduli soal
itu, Digra keren, tanpa terkecuali. Kayaknya Digra emang cowok yang aku cari,
cowok yang bisa bikin aku terpesona pada pandangan pertama. Walaupun, kayaknya
Digra belum nunjukin sikap positif kayak dari kebanyakan cowok yang lain.
Biasanya cowok-cowok lain yang deket sama aku langsung minta nomer handphone
atau pin BB. Tapi, Digra nggak minta juga. Mungkin Digra emang beda. Dan, aku
makin suka.
Jam
istirahat. Aku berharap bisa ketemu Digra di kantin. Tapi, sayangnya nggak ada.
Aku baru inget, judul buku bacaannya. Kinematika Quantum. Apa Digra itu
termasuk cowok pintar? Akhirnya aku iseng cek di Perpustakaan. Dan, bener dia
ada di sana. Aku jadi ngerasa, nggak pede. Aku mutusin buat pergi, nggak mau
nyamperin dia. Tapi, dia udah liat aku.
“Eh, mau
kemana?” katanya.
Aku
langsung berbalik badan. “Eh, Digra.”
“Lo lagi
cari buku juga?” tanya Digra. Kayaknya dia tertarik kalau aku bilang iya.
“Iya,” aku
bohong.
“Buku apa?”
“Ini.” aku
asal ambil buku yang ada di rak. Pas aku baca judulnya ‘Sastra Indonesia’
syukurlah aku nggak salah ambil. Ternyata aku dan Digra lagi ada di Rak Sastra.
“Lo suka
Sastra?”
“Suka, aku
suka bikin cerpen, kalau puisi masih belajar, sih.” aku bersemangat. “Oh, ya.
kamu ngapain ada di rak sastra? suka juga?” aku bertanya, berharap dia juga
suka.
“Aku cuma
suka baca puisi.” katanya sambil menunjukkan buku yang berjudul ‘Kumpulan Puisi
Ternama’
Akhirnya,
harapanku terkabul. Aku menghabiskan jam istirahat di perpustakaan bersama
Digra. Menyenangkan. Aku fikir, aku akan canggung, karena ternyata Digra adalah
cowok pintar penggila eksak. Dan, aku berubah fikiran, ternyata cowok yang jago
eksak itu sexy. Aku suka. Aku suka semua yang ada di Digra. Mulai dari kumis,
lesung pipit, kacamatanya, Digra yang selalu pakai jam tangan, termasuk saat
dia lagi belanja di minimarket, aroma tubuhnya, kecintaannya kepada sastra
puisi dan eksak. Itu semua sangat aku sukai. Tapi, apakah Digra suka sama cewek
kayak aku? aku bahkan belum punya kelebihan apapun di mata dia, menurutku.
Menyukai
seseorang memang sangat menyenangkan, namun terkadang perasaan tersebut dirusak
dengan perasaan ingin disukai. Aku suka Digra, dan aku ingin Digra menyukaiku. Maksa? Nggak. Cuma berharap.
ooo
Digra
Gue suka
Yubi. Emang cepet banget buat gue mutusin perasaan itu. Tapi, gue emang nggak
bisa bohong, gue suka dia. Dari awal ketemu, dia udah bisa menarik perhatian
gue. Dia beda, beda dari cewek-cewek yang suka jual mahal, suka jaim di depan
cowok, sok cantik. Tapi, Yubi beda. Dia polos, dia ceplas ceplos, dia selalu
bilang apa yang dia fikirin, dan dia selalu nanya apapun yang dia ingin tau.
Gue bener-bener suka dia. Selain cantik, dia juga lucu. Gue suka cara dia
nanyain apapun ke gue, seperti yang tadi dia lakuin di Perpustakaan. Dia banyak
nanya, dan gue seneng saat gue bisa ngejawab semua pertanyaan dia, apalagi saat
ngeliat wajah puas dari dia.
Gue
sebenernya agak minder. Dia cantik, dan sedikit banyak gue tau, banyak banget
yang suka sama dia. Sedangkan gue? gue cuma cowok biasa, cowok berkacamata yang
suka baca buku. Anak rumahan yang jarang banget nongkrong kayak kebanyak cowok
yang lain. Gue lebih suka ketenangan, tapi entah kenapa gue bisa suka sama
cewek kayak Yubi (dia lumayan berisik). Gue anak tunggal yang dijaga
abis-abisan sama nyokap bokap. Gue dingin, nggak bisa hangat sama cewek. Gue
cuek, tapi Yubi kayaknya kebal sama sikap gue, sejauh ini. Gue suka Yubi, tapi
gue nggak yakin dia bisa suka sama gue.
Gue cuma
bisa berharap, dia bisa suka sama gue tanpa perlu gue ubah sikap gue. Gue
pengen, dia bisa suka sama apa adanya gue.
Amin.
Ditunggu kak lanjutannya
BalasHapuskeren loh seriuss!!:)
Wih keren.. :D
BalasHapusDitunggu kak, karya-karya keren selanjutnya :)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusUdah keren. But, jangan di spesifikin gitu study konflik tokohnya. Yubi-yubi, digra-digra. Gabung aja. Ini kan cerpen. But ok lah, sukses terus! :)
BalasHapusbagus ceritanya :D
BalasHapusnumpang share sekalian http://tulisansyaitan.wordpress.com/ (cerpen, puisi, sajak)